Semuanya (Bukan) Pahlawan

Original post: aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/76/Tribute-for-the-Match-Semuanya-Bukan-Pahlawan
Ada baiknya kita memahami apa arti kata pahlawan. Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Sedangkan pahlawan kesiangan adalah orang yang baru mau bekerja setelah masa sulit berakhir atau orang yang ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang.
Kalau bicara tentang sepakbola, kita sedang bicara tentang orang-orang yang menjadi pahlawan, bukan? Pahlawan bagi negaranya, bagi keluarganya, bagi klubnya, dan bagi diri pemain itu sendiri. Tidak aneh jika diberitakan para klub yang kalah, pulang lalu disambut bagaikan pahlawan oleh masyarakat di negaranya. Mereka itu bukannya “bagaikan” lagi, tetapi memang sudah pahlawan. Kalau dipikir-pikir, yang diusung mereka bukan kebenaran yang bertele-tele, tetapi yang diperjuangkan adalah asa banyak orang. Nah, ini perlu menjadi perhatian: ASA BANYAK ORANG.
Setiap perjuangan sejati dalam hidup adalah perjuangan yang memperjuangkan asa banyak orang, tidak hanya asa pribadi. Namun demikian, asa yang sejati muncul dari asa pribadi yang teguh dan mantap. Contohnya, banyak orang yang kini melecehkan pemain sepakbola X atau pelatih Y. Orang-orang mengatakan bahwa yang telah mereka lakukan adalah “sampah” karena kurang pengalaman, terlalu arogan, dan sebagainya. Lewat kacamata lain yang lebih bijak, bolehlah kita mengatakan pula bahwa mereka pahlawan.
Setidaknya mereka yang tengah dilanda berita tidak sedap adalah orang-orang  yang memperjuangkan asa pribadi mereka, dari masa kecil yang tidak menyenangkan sampai bertanding di ajang bergengsi. Mereka memperjuangkan asa keluarga mereka, dari yang berasal dari keluarga miskin, sampai akhirnya mereka menjadi bintang yang juga bertabur bintang. Mereka juga memperjuangkan asa klub dengan mati-matian bertanding di berbagai laga, sampai mempertandingkan asa negara yang jutaan warga mengelu-elukan mereka dan mendukung mereka sampai akhir. Sekalipun mereka gagal, masih ada wajah yang berani menengadah. Poin kedua: USAHA KERAS DAN MORAL TANPA AKHIR.
Tidak banyak orang yang menyadari bahwa pertandingan olahraga adalah permainan moral, tidak hanya bagi pemain, tetapi juga penontonnya bahkan pengurus institusi yang mengurus olahraga tersebut. Dengan memiliki asa yang sama demi sebuah kemajuan, dengan penuh usaha dan kekuatan moral, setiap orang yang berkecimpung, apakah itu hanya bermodal suara menyemangati, mereka yang berpikir tentang strategi dan menerapkan strategi itu… Poin ketiga: SEMUANYA PAHLAWAN, karena mereka sudah berani menempatkan diri sebagai posisi itu dan berkorban sesuai kemampuan masing-masing.
 
Nah, pertanyaan besar selanjutnya: status apa yang bisa kita berikan pada semua orang yang berkaitan dengan olahraga di negara kita Indonesia? Dengarkah berita terakhir bahwa pengurus PSSI pergi ke Afrika Selatan dengan biaya besar untuk menyaksikan “detik-detik terakhir” piala dunia? Tahukah fenomena “komentator olahraga” yang asyik-masyuk mengomentari jalannya pertandingan? Tahukah fenomena “nonton bareng” mulai dari rakyat yang paling miskin sampai yang elite di tempat-tempat mewah? Atau “banjir hadiah” yang menyertai acara pertandingan untuk menarik minat penonton di rumah? 
 
Di mana mata mereka sehingga tidak sadar bahwa ada mata yang tidak senang melihat kelakuan mereka. Ada sesuatu yang sakit dan menyakitkan. Kesenangan orang Indonesia menghadapi piala dunia kok seakan-akan mereka pahlawannya, ya? Boleh saja senang menonton pertandingan, tetapi mengapa sampai begitu booming-nya “Mana pendukung kesebelasan X??? Mana pendukung kesebelasan Y???” Pertanyaan bodoh. Kita mendukung atau tidak kesenangannya hanya mampir sebentar selama 90 menit lalu selesai. Jika negara X menang, artinya kemenangan pendukungnya di Indonesia, senangnya bukan main seakan-akan X itu negara kita sendiri.
 
Lihatlah kondisi negara kita… Supporter-nya hooligan, pemainnya buruk, wasitnya pilih kasih, orientasinya materi, materi, dan materi, kesejahteraannya buruk, lapangannya becek tak terawat, tidak ada kaderisasi, pengurus olahraganya mementingkan diri sendiri… Menangis: di mana keberanian dan pengorbanan yang selama ini diharapkan untuk menjawab asa negeri. Selama ini kita asyik menjadi pahlawan kesiangan, sok sudah berbuat banyak, tetapi hasilnya tidak ada. Tidak pantas kita senang berlebih-lebih atau bereksklusif ria dalam menonton sepakbola kalau perilaku kita itu tidak mewakili asa berjuta rakyat yang ingin negaranya (kembali) punya nama yang harum di mata negara lain. Ingin Indonesia suatu saat menjadi tuan rumah??? Pengusulnya hidup di ivory tower rupanya, tidak tahu diri.
 
Jika dipertandingan yang sebenarnya semua orang adalah pahlawan, nah, kita? Kita penonton para pahlawan yang tidak pernah menjadi pahlawan. Kita baru bisa menyerap kesenangan, belum menyerap pelajaran atau sentilan yang ditimpakan situasi kepada kita. Setelah piala dunia ini selesai, negara-negara lain sibuk memikirkan strategi untuk empat tahun ke depan, tetapi Indonesia… “Euh, tidur dulu ah… semalam begadang, nih. Sial, jagoku kalah…
 
Kita adalah “sampah” dari peristiwa-peristiwa besar dunia, kalau begitu… Nah, kapan kita akan memulai gerak demi peristiwa-peristiwa besar hidup negara kita sendiri? Saat itulah kita menjadi pahlawan bagi bangsa dan negara. Jika tidak juga mau bergerak, kita semua butuh lebih banyak komentar sarkastik, kalau begitu… Orang yang baru bisa bergerak kalau dipecut rasa malu dan kesempitan hidup, mereka tidak belajar dari kehidupan yang menyediakan banyak kesempatan besar untuk bangga dan sejahtera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s