“The Choice” Ahmed Deedat

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/68/Topic-of-The-Week-The-Choice

Ketika menghadapi sebuah ide baru yang belum pernah kita tahu sebelumnya… Agak mengkhawatirkan sebetulnya. 
 
Sebagai orang yang beragama, kita diajarkan satu keyakinan saja sejak kita kecil. Konsep-konsepnya, ibadah-ibadah, dan aturan-aturannya… semuanya kita pahami lewat pengajaran orang tua dan lingkungan. Beruntunglah jika kita hidup dalam lingkungan yang homogen di mana ada satu agama saja yang dianut oleh masyarakat. Tetapi jika keadaannya tidak demikian, kasihan betul anak yang dibesarkan dalam keluarga menekankan pentingnya agama dalam kehidupan. Ia akan terombang-ambing oleh beragam keyakinan yang berbeda. Belum selesai satu ide dipahaminya, telah datang ide lain yang membingungkan. 
 
Keteguhan iman seseorang di masa dewasa tak diragukan lagi memang dipengaruhi oleh apa yang diterimanya sejak kecil. Konsep dasar yang ia miliki menjadi dasar baginya untuk bersikap ketika menghadapi suatu ide atau keyakinan baru yang menghampiri. Lihat dunia yang kini begitu terbuka, nyaris tidak ada filter yang dapat melindungi individu dari cecaran ajaran baru. Tetapi, jika ia punya pegangan yang kuat yang ditanamkan sejak ia masih kanak-kanak, pegangan itu yang akan menyelamatkannya dari hidup terombang-ambing dalam gelombang pemikiran-pemikiran baru…
 
***
 
Salah satu bidang ilmu yang menarik bagiku adalah Kristologi. Aku tidak memfokuskan diri untuk memahaminya secara mendalam, tetapi aku suka ide perbandingan agama yang kemudian muncul lewat telah Kristologi ataupun Islamologi… apapun itu namanya. 
 
Pertemuan pertamaku dengan Kristologi sedikit mengguncangku. Selama hidup aku tidak pernah mendalami agama apapun selain Islam agamaku. Jika aku belajar yang lain, aku belajar agama Kristen (Nasrani) lewat Al Quran. Berbagai ayat Al Quran tentang Nabi ‘Isa dan ajaran Kristen memang menarik. Jika kemudian aku pernah berdebat dengan teman Nasrani di masa kanak-kanak bahkan sampai nangis-nangis… baru di masa awal remajalah aku paham bahwa agama adalah topik sensitif. Agama menyangkut keyakinan mendasar yang dimiliki seseorang dalam hidupnya. Maka dari itu, agama menjadi satu hal yang paling dipelihara dalam keluarga. Ide mengenai seandainya ada keluarga yang berbeda atau pindah agama menjadi begitu mengkhawatirkan bagiku. 
 
Perbandingan agama kukenal tanpa sebelumnya tahu bahwa ada orang Islam yang menyibukkan diri dengan menelaah agama lain, terutama Kristen. Aku sangat bingung, kenapa ada buku tentang agama Kristen di rumah waktu itu. Buku itu, “The Choice” karya Ahmet Deedat, dibeli oleh ayahku pada suatu hari… Kau tahu apa yang ada dalam pikiranku ketika tahu ayahku membeli buku tentang Kristen? Wah, aku sangat bertanya-tanya sekaligus khawatir yang buruk akan terjadi. Aku pun yang tertarik membacanya sampai sembunyi-sembunyi karena belum tahu maksud dibelinya buku itu. Aku takut yang kubaca adalah suatu kesalahan…
 

Karena waktu itu aku masih kelas 5, aku tidak sanggup memahami isi “The Choice”. Aku memutuskan berhenti membacanya begitu melihat macam-macam cara orang disalib di bagian belakang buku yang mengerikan. Buku itu tidak kusentuh lagi sampai SMP. Aku membacanya lagi dan menemukan pengetahuan baru yang mempengaruhiku sampai hari ini: ada kebenaran dalam Islam agamaku. Apa yang kusimpulkan hari ini adalah: orang Islam yang belajar tentang agama lain dapat semakin kuat imannya. Sebaliknya, orang agama lain yang belajar tentang Islam, mereka bisa menjadi Islam.
 
Aku tidak tahu sebelumnya bahwa ilmu perbandingan agama Islam dan Kristen sekompleks itu. Dari riwayat pengarangnya, tidak ada satu bagian dalam hidupnya yang digunakan untuk hal yang tidak berguna. Semasa muda mendalami Islam, ketika dewasa menelaah agama lain. Ketika ia mulai mendapatkan titik terang, ia mendiskusikannya dengan pemuka agama lain, dan titik terang itu semakin terang dan lahirlah “The Choice” atau “Pilihan”.  Aku kagum, betapa mendalamnya pengetahuannya tentang Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Al Quran. 
 
Ide tentang perbandingan agama makin lama tidak menakutkan lagi bagiku. Jika sebelumnya buku-buku yang demikian orang tua yang beli, saat ini akulah yang berinisiatif untuk membelinya sendiri. Tidak ada yang lebih mudah selain keluarga yang begitu terbuka pada ide-ide baru, bahkan pernah diusulkan, “Bagaimana kalau kita beli Injil biar bisa membandingkan Islam dengan Kristen?” Membeli Injil? Entahlah, apakah aku benar-benar ingin membelinya sekarang karena aku sedang bersemangat dengan Al Quran ^^…
 
***
Banyak hal yang karena ada buku aku menjadi ber-ooo-ooo ria alias baru tahu. Apa artinya ini? Aku tidak akan memaksa diriku untuk tahu, seperti anak kecil yang memaksa naik ke atap sebelum bisa memanjat tangga. Untuk dapat tahu dan paham ada waktu dan proses yang harus dijalani, terutama jika itu berkaitan dengan kemampuan kognitif. Untuk memahami satu konsep baru, sering kita perlu mengetahui konsep lain yang lebih mendasar terlebih dahulu.
 
Tidak wajib belajar perbandingan agama atau Kristologi. Lagi-lagi, ini adalah pilihan… Seandainya jika kita benar-benar tertarik, pelajarilah baik-baik dan jangan digunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak baik. Buku “The Choice” sangat menarik untuk dibaca, terutama karena isinya yang sangat argumentatif. Memang kurang lengkap jika kita tidak memegang Injil ketika membacanya… Tetapi, itu tetap oke saja, semuanya untuk mengembangkan diri kita.

 
Tentang Ahmed Hoosen Deedat:
 
Sheikh Ahmed Hoosen Deedat (lahir 1 Juli 1918 – meninggal 8 Agustus 2005 pada umur 87 tahun) adalah seorang sarjana Muslim dalam bidang perbandingan agama. Ia juga merupakan seorang pengarang, dosen, dan juga orator. Ia dikenal sebagai salah satu pembicara handal dalam debat public tentang masalah keagamaan. Pada 1957, Deedat bersama dua orang temannya, mendirikan Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan ia menjadi presidennya hingga 1996. Deedat wafat pada 2005 akibat mengalami stroke yang telah dideritanya sejak tahun 1996.
 
 Tanpa pendidikan formal dan untuk menghindari kemiskinan, ia pergi India ke Afrika Selatan pada usia 9 tahun.  Sekalipun berasal dari keluarga miskin, ia tidak patah semangat dalam belajar. Ia giat mempelajari bahasa Inggris dan banyak membaca. Sekalipun demikian, kurangnya biaya membuat ia berhenti sekolah pada usia 16 tahun dan menjadi pedagang eceran.
 
Peristiwa penting terjadi pada tahun 1936 ketika ia bekerja di sebuah toko muslim di dekat sebuah sekolah menengah Kristen. Siswa-siswa misionaris tersebut sering menantang Islam ketika mengunjungi toko. Hal ini membuat Ahmed Deedat berkeinginan untuk menghentikan propaganda yang salah tersebut. Beruntung, ia menemukan buku “Izharul Haq” yang berisi tentang teknik dan keberhasilan umat muslim India dalam membalas gangguan misionaris Kristen selama penjajahan Inggris di India. Dengan semangat yang baru, ia kemudian membeli Injil dan memulai debat dan diskusi dengan siswa-siswa misionaris, guru, bahkan pendeta mereka.
 
Ahmed Deedat kemudian semakin giat berdakwah. Ia ingin membela Islam dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan para misionaris Kristen. Ia membuka kelas pelajaran Injil dan memberikan kuliah. Ia juga mendirikan institut As Salaam untuk melatih para dai Islam.
 

Ahmed Deedat adalah anggota awal dari Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan menjadi presidennya, sebuah posisi yang dipegangnya sampai tahun 1996. Ia menerbitkan lebih dari 20 buku dan menyebarkan berjuta-juta salinan gratis. Ahmed Deedat mengirim beribu-ribu materi kuliah ke seluruh dunia dan mendebat pengabar-pengabar Injil pada debat umum. Beberapa ribu orang telah menjadi Islam sebagai hasil usahanya.

Sebagai penghargaan yang pantas untuk prestasi yang bersejarah itu, ia mendapat penghargaaan internasional dari Raja Faisal tahun 1986. Penghargaan bergengsi yang sangat berharga dalam dunia Islam. Dari puluhan buku, salah satu bukunya yang sangat berpengaruh besar adalah buku The Choice : Dialog Islam-Kristen.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s