Heroisme dalam Karya Eiji Yoshikawa

Siapa yang tidak kenal Eiji Yoshikawa? Beliau adalah penulis kawakan, spesial novel-novel epik, begitulah yang kusimpulkan. Ia berasal dari Jepang dan sudah wafat sekitar lima puluh tahun yang lalu. Sekalipun demikian, novel-novelnya masih tenar sampai sekarang. Dari banyak karyanya, tiga sudah kubaca, yaitu “Musashi”, “Taiko”, dan “The Heike Story”. Sebelum lanjut pada bahasan tentang karyanya, kita baca dulu riwayat hidupnya, ya.
***
Eiji Yoshikawa

Eiji Yoshikawa lahir dengan nama Hidetsugu Yoshikata, di Prefektur Kanagawa (dekat Tokyo) pada 11 Agustus 1896. Karena permasalahan ekonomi dalam keluarganya, ia terpaksa perhenti sekolah pada usia 11 tahun. Setelah hampir mengalami kecelakaan kerja yang fatal pada galangan kapal membuatnya pindah ke Tokyo pada usia 18 tahun. Pada masa ini ia tertarik pada haiku (puisi pendek Jepang yang lucu) dan bergabung dengan kelompok penggemar puisi. Ia menulis mulai menulis haiku dengan nama samaran “Kijiro”.
Pada tahun 1914 ia menulis “Tale of Inoshima” dan memenangkan kontes menulis novel yang diadakan oleh Kondansha. Ia kemudian bekerja menjadi reporter di Maiyu Shinbun pada tahun 1921 dan mulai menulis serial “Life of Shinran”.
Pada tahun 1923, ia menikahi Yasu Akazawa. Ia kemudian memutuskan karier sebagai penulis. Ia menulis berbagai novel yang diterbitkan oleh Kondansha. Ia sempat memakai 13 nama samaran sebelum akhirnya memutuskan nama Eiji Yoshikawa.  Awal tahun 1930, ia menjadi sosok yang introspekti, merefleksikan kehidupan pribadinya yang tengah mengalami masalah. Namun, di tahun 1935 ia berhasil menulis Musashi si samurai legendaris.
Setelah perang dengan China selesai pada 1937, Asahi Shinbun menugaskannya menjadi reporter. Pada masa ini ia bercerai dengan istri pertamanya dan menikahi Fumiko Ikedo. Selama masa perang ia tetap menulis novel dan terpengaruh oleh budaya China. Di antara pekerjaannya pada saat itu, ia menyelesaikan novel “Taiko” dan “The Romance of Three Kingdom”.
Setelah perang, Eiji berhenti menulis dan kembali berkarya pada tahun 1947. Karyanya pada masa setelah perang meliputi “New Tale of Heike” dan “A Private Record of Pacific War”. Sampai akhir hayatnya, ia tetap menulis. Ia menyisakan novel klasik China, “Batas Air” yang tidak terselesaikan. Ia meninggal pada 7 September 1962.
 
***
Musashi
 

Musashi berkisah tentang kehidupan Shinmen Takezo yang kemudian berubah nama menjadi Miyamoto Musashi sang samurai, setelah menjalani satu tahun perenungan. Awalnya, ia adalah pemuda beringas yang nekad ikut perang bersama sahabatnya Matahachi.
 
Di medan perang, keduanya berada pada pihak yang kalah. Perjalanan hidup selanjutnya membuat kedua sahabat berpisah arah. Takezo ditinggalkan oleh sahabatnya yang lebih memilih kehidupan dunia. Ia kembali ke desa hanya untuk dikenal sebagai perusuh.
 
Keberingasan Takezo berhasil ditaklukan oleh Takuan si pendeta Buddha. Ia menjalani proses introspeksi diri dalam penjara yang secara sukarela dimasukinya. Ia berhasil menjadi kupu-kupu yang cantik, samurai yang tangguh dengan filosofi hidup yang bijak. Proses demi proses ia jalani, mengubah orang-orang yang memusuhinya menjadi kawan, senantiasa meningkatkan kemampuannya sebagai samurai, dan akhirnya berhasil mengalahkan lawan besarnya, Sasaki Kojiro.
 
Musashi adalah novel Eiji Yoshikawa yang pertama kali kubaca, sekitar 12 tahun yang lalu. Awalnya tidak suka karena penampilan bukunya (buku yang kupunya masih versi lama yang terdiri atas jilid 1 – 7) yang ketinggalan zaman dan rusak di sana-sini. Musashi termasuk novel pertama yang kumiliki, buku tebal pertama yang kubaca. Mengapa bisa kubaca? Karena waktu itu zaman susah dan tidak ada bacaan lain selain buku tua ini. Kupikir buku ini susah dimengerti, ternyata tidak. Aku bahkan tahan membaca sampai jam tiga malam hanya untuk menyelesaikan satu bab dan satu bab lagi.
 
Setelah aku membaca buku ini, adik-adikku mulai membacanya juga. Perebutan giliran membaca dimulai terjadi kami mendapatkan karya lain dari Eiji Yoshikawa, yakni Taiko.
 
***
Taiko
 

Taiko adalah salah satu novel favoritku. Ia berkisah tentang si monyet, Hiyoshi kecil dan miskin yang menjalani proses menjadi Toyotomi Hideyohi, sang Taiko, penguasa tertinggi Jepang pada masanya.
 
Hiyoshi terpaksa meninggalkan rumah karena ingin membuktikan diri pada ibu yang dicintainya bahwa ia bisa menjadi orang besar. Ayah tirinya sangat kejam dan ibunya harus bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarga. Hiyoshi memulai karier sebagai orang rendahan, pesuruh. Keputusannya sangat tepat ketika ia kemudian mengabdi pada Oda Nobunaga, penguasa provinsi Owari yang sangat diremehkan oleh penguasa provinsi-provinsi lainnya. Dari hanya sebagai pembawa sandal Nobunaga, kepala dapur di kastil Nobunaga, pemimpin pasukan kecil, Panglima pasukan besar, dan akhirnya Taiko, penguasa tertinggi Jepang.
 
Ada banyak hal tentang kepemimpinan yang kupelajari dari Hideyoshi. Sekali ia mengabdi, Hideyoshi tidak pernah menjadi pengkhianat, sehidup semati dengan ambisi tuannya. Ia menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah, terkadang begitu berani dan keputusan yang teguh, tidak setengah-setengah. Bersama Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu, ia bercita-cita mempersatukan Jepang yang saat itu terpecah-belah. 
 
Ketiga tokoh tersebut sangat bersinar, tetapi memiliki perbedaan karakteristik yang sangat mencolok. Ada sajak lucu yang sangat berkesan di halaman pembuka Taiko:
 
Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?
 
Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”
Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau.”
Ieyasu menjawab, “Tunggu.”
 
***
The Story of Heike
Hehe… yang ini baru kubaca beberapa bab, jadi belum bisa cerita apa-apa . Tetapi, aku bertaruh si tokoh utama, Heike Kiyomori, adalah orang yang sama briliannya seperti Toyotomi Hideyoshi.
 
***
Selanjutnya apa? Ingin sekali membaca novel epik historis yang berasal dari negara sendiri. Coba kisah-kisah dari masa lalu itu difilmkan juga. Nggak cuma Mak Lampir dan segala macam legenda bodoh yang suka diputar di TV itu… Stop mengkaitkan sejarah dengan hal-hal mistis yang tidak masuk akal! Munculkan heroisme kepemimpinan, maka kita semua akan belajar banyak dari masa lalu untuk masa depan kita.
About these ads

2 thoughts on “Heroisme dalam Karya Eiji Yoshikawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s