Humor Mati (Sebuah Mekanisme Pertahanan)

Everybody is neurotic. Itu kata teori psikoanalisa. Ada benarnya. Orang mana yang tidak merasakan cemas dalam hidupnya? Hanya saja, kadar yang berbeda-beda dan ketahanan diri dalam menghadapi problema kehidupan yang mencemaskan itulah yang menentukan kita layak diasilumkan atau tidak.
Kecemasan adalah alarm tanda bahaya. Jika diri kita dihadapkan pada “bahaya”, alarm kecemasan ini berbunyi sehingga kita dapat memutuskan fight or fly. Adalah baik jika kita mampu menghadapi bahaya, mengerahkan seluruh kemampuan kita untuk mengatasinya sehingga masalah selesai. Tetapi, jika masalah sulit di atas dan rasa cemas/ takut/ rasa lemah akan tetap ada. Nah, tubuh punya trik khusus mengenyahkan perasaan yang tidak enak ini, yaitu dengan mekanisme pertahanan.
Ada banyak jenis mekanisme pertahanan yang dipakai manusia untuk. Salah satunya, yang dipakai oleh orang dewasa yang sehat dan normal adalah humor. Nah, apakah humor itu?
Humor, Sebuah Mekanisme Pertahanan

Dalam teori tentang mekanisme pertahanan, humor adalah kualitas persepsi yang memampukan kita untuk bergembira meskipun kita sedang dihadapkan pada kesedihan. Melalui humor, seseorang dapat mengubah penghayatan akan suatu peristiwa yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan. Humor terdiri dari tiga komponen humor, yaitu kecerdasan, kegembiraan, dan tawa. Kecerdasan adalah pengalaman kognitifnya, kegembiraan adalah pengalaman emosionalnya, dan tawa adalah pengalaman fisiologisnya. Humor yang asyik adalah humor yang isinya cerdas, yang mendengarnya pun dapat tertawa dan merasa senang. Bagi orang yang mampu berhumor, tentu rasanya lebih ringan ketika ada masalah berat, ia mampu tertawa dalam menghadapinya.
Karena humor adalah bentuk mekanisme pertahanan yang matang (mature), maka dapat dikatakan bahwa pemakaian mekanisme pertahanan ini menghasilkan adaptasi yang optimal dalam menangani penyebab stres. Pertahanan semacam ini biasanya memaksimalkan kegembiraan dan mengizinkan kesadaran penuh akan perasaan, gagasan, dan konsekuensinya. Humor mengurangi stres dengan cara membantu kita melihat dunia dengan suatu perspektif. Humor mengubah cara kita berpikir, dan kesedihan sangat berkaitan dengan cara kita berpikir. Sering tidak disadari bahwa bukan situasilah yang membuat stres, tetapi cara kita mengartikan situasi tersebutlah yang membuat kita stres.
Salah satu situasi yang sangat membuat stres adalah mati. Bagi kita yang masih muda, urusan mati ini mungkin bukan masalah besar karena harapan kita akan berumur panjang, tetapi, bagi orang-orang tua, mati adalah urusan yang luar biasa. Di sinilah titik di mana mereka melakukan kilas balik dan evaluasi kehidupan, “Seberapa bermaknakah saya?” Orang-orang yang hidup dengan penuh rasa sesal karena tidak memanfaatkan masa mudanya dengan baik, tentu akan sulit untuk dapat tenang menghadapi kematian. Cara menghadapi mati akan sangat berbeda dilakukan oleh orang yang hidupnya bermanfaat dan bermakna. Maka, ada orang tua yang di usia senjanya sering kali tampak merutuki nasib dan marah-marah, tetapi ada orang tua lain yang mampu berhumor, tertawa dalam menghadapi takdir kematiannya.
Orang yang mampu tertawa… hidupnya pasti terasa ringan.
***
Tulisan ini adalah wujud kekagumanku pada seseorang. Beliau berusia 74 tahun, seorang dosen, pembicara di seminar tentang ketahanan keluarga yang kuikuti kemarin. Ada satu hal yang sangat menarik perhatianku pada dirinya yang kemudian kucatat, yaitu kemampuannya untuk berhumor. Humornya unik. Dari seluruh kalimat lucunya, kurasa, sebagian adalah bertopik tentang mati dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sulit mengetahui mengapa beliau berhumor dengan cara seperti ini. Tetapi ketika mengingat bahwa usianya yang sudah begitu… sedikit banyak aku mengerti sesuatu.
 
Ada beberapa kalimatnya yang kucatat. Beliau menciptakan sebuah singkatan di tengah-tengah ceramahnya. KPU=Kepala Penuh Uban. Beliau dengan terkekeh mengatakan bahwa dirinya sudah tua bangka. Tentang umurnya, beliau mengatakan usianya yang ke-74 sudah melebihi target (dan hadirin tertawa). Bahkan, ketika beliau mengungkapkan tentang pentingnya orangtua mengajarkan kedisiplinan pada anak agar anak dapat diterima masyarakat, beliau malah berkata, “… disiplin untuk diterima… Diterima di sisi Tuhan…
Hidup orang ini… Jika ada kesempatan, aku ingin berkenalan dengan beliau.
 
Humor-humor seperti ini, menurut teori, tidak secara sadar diketahui adalah wujud pertahanan diri terhadap cemas, terutama di sini cemas menghadapi kematian, oleh orang yang mengungkapkannya. Jika ditanya, berapa banyak orang yang memperhatikan humor ini kecuali hal yang cerdas, lucu, dan membuat tertawa? Sedikit sekali, bukan?Yeah, semua orang cemas/ takut dalam menghadapi kematian. Namun, adalah misteri, tidak semua orang mampu tertawa dan berhumor seperti itu. Jika kemudian kita mau belajar dari peristiwa ini saja, tolong perhatikan kesimpulanku. 
 
“Hidup yang menyenangkan itu adalah ketika hati tak ada beban. Hati tak berbeban adalah ketika tak ada rasa bersalah karena manfaat dan makna yang berhasil kita berikan pada kehidupan orang banyak.” 
 
Dengan profesi beliau sebagai pendidik, berkutat dengan masalah-masalah orang lain… Aku berharap kesimpulan ini tepat.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s