Bagaimana Berinteraksi dengan Al Quran

Jun 6, ’11 8:54 AM
Ini buku yang hampir selesai dibaca. Ketika membaca, satu hal yang aku inginkan adalah memiliki ingatan super. Beberapa hal penting dalam buku biasanya aku tulis ulang. Tapi… kalau hampir seluruh isi buku berstatus penting, tidak mungkin aku menjiplaknya ke dalam catatan.
Buku ini kudapatkan dari perpustakaan masjid di kampus dan aku merasa gawat. Entah salah siapa sehingga aku bisa meminjam buku yang sudah dalam kondisi rusak ini. Awalnya, lembaran kertasnya sudah terlepas dari sampulnya dan jilidannya terbelah menjadi dua. Setelah dibawa berlibur, kondisinya tambah parah. Terbelah tiga sekarang. Haha… berarti nanti aku tinggal bilang sama petugas perpusnya, “Pak, bukunya tambah rusak.
***
Buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Al Quran” adalah karya Yusuf Qardhawi yang lain. Bersyukur bisa mendapatkannya karena memang inilah yang kubutuhkan. Membaca Al Quran, mendengarkannya, menelaah atau merenungkan isinya, dan menghafalkan, semua itu penting. Tapi kadang, kita bisa kebablasan, bukan? Hanya membaca mengejar khatam, mendengarkan tapi disambi mengobrol, menelaah tapi dengan metode yang salah atau merenung tetapi kesimpulan yang dihasilkan begitu aneh, dan menghafal tapi tidak diamalkan. Maka dari itu, menjadi sesuatu yang penting bagi kita untuk mengetahui apa sih yang sebenarnya dikehendaki dari kita ketika berinteraksi dengan Al Quran.
Nah, aku teringat ucapan seorang ustadz di suatu kajian kampus yang intinya adalah Al Quran itu bukan bacaan yang main-main. Disindir, orang yang hanya membaca tetapi tidak memahami secara baik dan mengabaikan pengamalan. Jadi teringat, misalkan dulu baca Al Quran cuma senang ketika khatam dan kini setelah tahu, senang pula ketika bisa membaca ayatnya pelan-pelan, mengulang-ulang maknanya (terjemahannya), dan berusaha membumikannya dalam kehidupan. Aku jadi sadar bahwa Al Quran itu buku pelajaran yang lain sehingga sekarang aku menghadapinya bukan hanya sebagai pembaca, tetapi juga pembelajar.
Bab paling menarik dari buku tersebut adalah tentang tafsir-tafkwil Al Quran. Aku baru tahu bahwa metode tafsir-takwil itu bermacam-macam dan kesalahan mentafsir-mentakwil itu juga bermacam. Yang kucatat adalah kesalahan tersebut terjadi karena dua hal, yaitu ilmu dan pemikiran yang terbatas atau/dan niat dan tujuan yang buruk. Aku banyak merenungkan ini dan menghubungkannya dengan fenomena yang terjadi di dunia Islam. 
 
Jika banyak orang dengan tujuan yang sama baiknya terpecah-belah karena punya pendapat sendiri-sendiri dan merasa yang paling benar sendiri dan enggan dievaluasi karena merasa didukung dalil-dalil tertentu, maka bisa jadi itu disebabkan oleh keterbatasan ilmu dan pemikiran. Mungkin ilmunya banyak, bahasa Arab-nya cas-cis-cus, tetapi pemikirannya terlalu kaku. Begitulah teman, ingatkan aku kalau pendapatku ini ada salahnya.
 
Tapi, jika ini semakin dipikirkan, ilmu yang luas itu seberapa, aku masih kebingungan memutuskannya. Ada orang yang ilmunya sedikit bisa sedemikian bijaknya dan ada pula kebalikannya, banyak tapi cuma pandai bicara dan berdebat. Pada intinya, pemahaman itu sungguh sebuah misteri, bukan? Ilmu itu tidak diminta. Dicari, iya, tetapi ilmu itu sendiri Diberikan lewat jalan yang macam-macam. Mungkin awalnya mencari A, tetapi dapatnya B. Dapatnya B, ternyata ditakdirkan mengamalkan yang C. Mengamalkan yang C, ternyata memunculkan manfaat A.
 
***
Sebagai penutup, membaca buku ini malah membuatku banyak ingat psikologi. Kembali pada persoalan lama, bagaimana psikologi ini harus dikembangkan dengan cara-cara yang tidak melampaui batas. Kau tahu, tafsir-takwil Al Quran dari sudut pandang psikologis terkadang terasa mengerikan. Misalnya, aktivitas mencocok-cocokkan ayat dengan teori psikoanalisa sungguh di luar dugaan seperti bertujuan membenarkan teori psikoanalisa. Penggolong manusia dan kepribadiannya tampak dipaksakan berdasarkan terminologi di dalam Al Quran. Penggolongan jiwa manusia juga sama dipaksakannya. 
 
Aku tidak tahu, tetapi ada usaha beberapa ilmuwan yang sangat spekulatif dalam menyusun teori-teori psikologi yang Islami. Kita bisa mudah mengatakan itu keajaiban psikologis dari Al Quran, tetapi apakah semudah itu? Psikologi dan Al Quran itu bukan barang yang dapat ditelaah secara “main-main”, kecuali jika mau masuk dalam golongan orang yang tersesat.
 
Aku jadi menyimpulkan (dan ini membuatku bergidik) bahwa yang bisa salah itu bukan cuma ilmuwan Barat, ilmuwan Muslim yang tidak paham agama baik-baik juga bisa salah dan menurutku ini lebih berbahaya. Ia bisa berkata teorinya sesuai Islam padahal tidak dan menghancurkan umat dari dalam. Maka dari itu, kalau bertekad menjadi ilmuwan atau praktisi muslim, agama harus dipelajari, dipahami, dan diamalkan betul-betul.
 
Demikian pengalamanku bersama buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Al Quran”. Semoga bermanfaat :D Semangat membaca Al Quran!
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s