Filsafat-Sains Menurut Al Quran

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/261/Topic-of-The-Week-Filsafat-Sains-Menurut-Al-Quran

May 26, ’11 9:47 AM

 
Ini adalah tentang sebuah buku yang kubaca akhir-akhir ini. Aku menemukannya di perpustakaan Masjid Diponegoro Undip dan waktu itu kesal sekali rasanya. Mengapa baru sekarang aku tahu kalau di masjid kampus ada perpustakaannya ya? Dan ketika akhirnya aku tahu, aku sudah semester 8 dan insya Allah sebentar lagi lulus. Mungkin memang demikian bisa terjadi karena kampus Undip memang terbagi di dua tempat. Tempatku di “Undip atas”, sedangkan perpustakaan itu di “Undip bawah”. Lalu, mungkin memang pantas demikian terjadi karena entah bagaimana adalah kehendak Allah mempertemukan aku dengan buku ini tepat di saat aku sedang membutuhkannya.
 
Ini masukan bagi pengelolaan perpustakaan masjid kampus. Serius. Memprihatinkan. Kalau bisa, dipindah saja ke masjid kampus di “Undip atas” yang sekarang mahasiswanya lebih ramai. Tapi, memang sayang sekali, masjid yang baru saja dibangun di “Undip atas” sepertinya tidak didesain dengan ruang perpustakaan. Selanjutnya, kondisi yang lebih memprihatinkan adalah, sepertinya, perpustakaan ini jarang dikujungi dan buku-bukunya jarang dibaca. Gelap… berdebu semua… cokelat-cokelat kertasnya… Hidungku gatal, berair, dan rasanya mau bersin saja di sana. 
 
Ayo teman-teman, banyak membaca, kunjungi perpustakaan masjid kampus ini!
 
***
Buku ini berjudul “Filsafat-Sains Menurut Islam”. Terdengar berat? Tidak juga. Buku yang ditulis oleh Dr. Mahdi Ghulsyani ini sesungguhnya berisi pandangan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan pengembangannya. Isinya “standard”, sama seperti yang kita semua sudah tahu bahwa “ilmu dan agama bersahabat karib untuk menuju Allah”, tetapi kelengkapan isi dan kritik-kritiknya terhadap paradigma keilmuan saat ini cukup mengguncang. Ini seperti… kita memang sudah tahu ada yang salah dengan jalannya tradisi keilmuaan saat ini, tetapi buku ini membuat pemahaman kita tentang “salah” menjadi “SALAH!!!”. 
 
Akhirnya, diperlukan usaha untuk mengubah kembali haluan kapal kehidupan keilmuan. Namun, hambatan yang dirasakan adalah susah sekali merebut kendali nahkoda yang kini dipegang dunia Barat dan sama susahnya juga jika harus membuat kapal baru. Jika kapal baru memang akan dibuat, apakah ukuran dan kekuatannya dapat menyaingi kapal yang lama? Siapakah pekerjanya dan di manakah pabriknya? Bagaimana cara membuatnya? Ini semua pertanyaan besar dalam sejarah umat manusia, khususnya umat Islam.
 
Menurut kalian, apakah kelangsungan hidup suatu ilmu dapat diprediksi semacam itu? Lagi-lagi, ide yang muncul ada konsep-konsep tentang islamisasi ilmu. Aku pribadi tidak menyangkal betapa nyatanya kebutuhan akan itu, tetapi mimpi itu terlalu melangit, terutama jika dihubungkan pula dengan mimpi membangun kembali peradaban Islam. Mengapa? Itu karena ada kesan kita berpaling pada masalah yang sesungguhnya sangat dekat di pelupuk mata kita, yaitu terkait sumber daya manusia dan manajemennya dalam pembuatan kapal besar ini.
 
Terkait dengan kapal besar Islam ini, benar, sudah ada modelnya di masa lalu. Kita tengok kembali peradaban Islam di masa lalu dan jelaslah kebesarannya. Tetapi, itu adalah model di masa lalu, sumber aspirasi dan inspirasi. Kita hidup di dunia yang sungguh sangat berbeda dan jauh lebih bermasalah, lebih-lebih karena dunia Islam sedang pada masa ketidakjayaannya. Kita inferior? Bisa jadi itu tidak salah dan dialami oleh sebagian dari kita. 
 
Sebagian mengalah dan ikut saja kapal yang sudah ada, hidup tenang di dalamnya… banyak. Menjadi orang di pelabuhan yang bertekad tidak akan naik, tetapi terus saja kagum dengan kapal ini. Namun, keputusan untuk turut berlayar dan mempelajari apa saja di sana tanpa meninggalkan identitas dan mimpi membangun kapal yang lain, sungguh dilematis. Tetapi, semoga perasaan ini adalah pendorong bagi kita untuk segera pulang ke darat dan bekerja. Bersabar? Itu keharusan.
 
 
Bagian yang paling menggugah dalam buku ini bukanlah tulisan penulisnya, melainkan pengantar yang dibuat oleh Pak Haidar Bagir. Ya, bagian ini penting sebagai pendahuluan agar pembaca memahami tulisan Pak Mahdi Ghulsyani dalam konteks terkini. Eh, tapi buku ini diterbitkan di awal tahun 90-an?! Aku masih satu tahun kala itu! Ketika 20 tahun sudah berlalu, apakah masih relevan? 
Kalau membaca pengantarnya, muncul keinginan dalam hati untuk bisa menjadi seorang cendekia yang mampu berkontribusi dalam pembuatan kapal besar Islam. Ini membuatmu menyadari suatu kenyataan baru dan secara sadar pula menerima konsekuensi dari kesadaran itu. Dan, ketika kau sudah menerima konsekuensi itu… perubahan itu tidak dapat tidak dan kau tidak tahu caranya berhenti karena pikiran, bahkan seluruh hidupmu, berfokus pada upaya itu. Ketika kau sadar bahwa kita semua sedang dijajah secara intelektual, kau tahu betapa besarnya keinginan untuk melakukan perlawanan.
Tetapi, perlawanan dalam dirimu sendiri itulah yang bisa sangat radikal, seperti… Kau selama ini terbiasa makan dengan tangan kiri, tetapi kemudian tahu itu salah dan berusaha mulai makan dengan tangan kanan. Pergeseran paradigma? Ya, itulah istilahnya, sedangkan apa yang ditimbulkan olehnya dinamakan “revolusi” untuk menuju ilmu-ilmu baru dengan pengaruh yang baru kepada masyarakat (h. 18).
Kau tahu rasa? Ini seperti… kau setiap hari terpapar berita korupsi yang tak selesai-selesai dan pemerintah yang berlagak bodoh atau sok suci. Kau ingin berteriak menyuarakan isi pikiranmu karena kau tahu apa yang seharusnya orang-orang itu lakukan, tetapi lagi-lagi ada jarak yang memisahkanmu dengan pemerintah, kecuali jika kau mau turun ke jalan, sama seperti peristiwa Reformasi tahun ’98.
Jika itu konteksnya sosial, hukum, dan politik, maka ini ada dalam dunia ilmu pengetahuan dan filsafat tentangnya, tetapi sayangnya, keduanya tidak dapat diperlakukan seperti dunia sosial, hukum, dan politik. Kau tidak dapat menindak paradigma, cara orang berpikir, dan caranya menghasilkan ilmu pengetahuan seperti menindak seorang kriminal atau pelanggar undang-undang. Otak manusia bukan barang yang dapat dipaksa-paksa untuk diisi pemahaman baru.
Karena itu, bukankah cara terbaik menggeser paradigma yang salah menuju yang baik adalah dengan hikmah dan kemanfaatan dari paradigma yang benar? Karena itu, mengembalikan diri kita pada jalan yang benar juga menjadi keharusan. Kau tak bisa mempropaganda atau membuat orang tahu akan kebenaran sebelum kebenaran itu hidup dalam kehidupanmu sendiri. Pendidikan itu tak akan jalan sebelum kau mendidik dirimu sendiri.
PS: Setelah diselidiki, sepertinya perpustakaan itu memang bukan punya masjid kampus Undip. Cuma sama namanya, sama-sama “Diponegoro”. Benar tidak, sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s