Muqaddimah Ibnu Khaldun

Hari ini aku mulai membaca “Muqaddimah” karya sosiolog muslim terbesar dalam sejarah, Ibnu Khaldun.

Memalukan, lama sekali tidak menulis. Banyak ide datang, tetapi entah bagaimana, pertama, aku sulit menemukan waktu yang benar-benar luang untuk menuliskannya. Kedua, satu bulan terakhir, aku berusaha menyelesaikan cerita yang sedang kubuat. Ketiga, keyboard laptop-ku rusak. Benar-benar jadi masalah… -_- Keempat, aku sedang tenggelam membaca The Legend of Basara, berusaha memahami bagaimana bisa orang membuat cerita dengan genre macam itu. Awesome! Aku seperti sedang membaca kembali novel epik sejarah “TAIKO” versi lain…

Apa yang kutulis di sini hanyalah pembukaan dari buku Muqaddimah. Hanya di paragraf-paragraf pertama, Ibnu Khaldun langsung mengguncangku; ia membantuku menyadari keinginan terdalamku belajar sejarah, mengapa aku suka sejarah. Ia membantuku menyampaikannya dalam kata-kata bahwa aku suka sejarah karena aku ingin memahami mengapa aku bisa hidup di dunia yang seperti ini, di sini dan kini, mengapa orang-orang (manusia) bisa hidup dengan cara seperti ini, mengapa masa lalu bisa begitu berbeda, mengapa hari ini begini dan mengapa masa depan diproyeksikan begitu.

Dan, aku bukan orang yang merasa cukup, berhenti pada titik “aku paham”. Dengan semua ini dan banyak hal lainnya, aku ingin bisa menjadi orang yang mampu menyikapi kehidupan dan segala hal yang diberikannya padaku dengan cara yang tepat. Sekalipun sampai mati aku tetap menjadi aku yang seperti ini, aku ingin bisa bijak sejak di alam pikiran, seperti yang dinasehatkan Pramoedya Ananta Toer dalam “Tetralogi Buru”-nya. Dengan begitu, setidaknya aku bisa berharap hidupku tidak sia-sia.

Karena buku ini, aku bertekad, kalau aku bisa masuk Magister Psikologi UGM tahun depan, aku akan menjadi mahasiswa informal jurusan sejarah, budaya dan filsafat! Insya Allah… Dan aku semakin bersyukur, sempat 2 tahun mempelajari fenomenologi lewat skripsi.

***

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Hamba yang mengharap rahmat Tuhannya Yang Kaya taufiq dan ‘ishmah, ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun al Hadrami, semoga Allah Ta’ala memberinya taufiq, mengatakan:

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Kuasa. Di Tangan-Nya, Dia Menggenggam kekuasaan bumi dan kerajaan malakut. Dia Mempunyai nama-nama dan sifat-sifat yang indah. Dia Maha Mengetahui.

Sesuatu yang terungkapkan oleh bisikan rahasia, atau yang terselip tak terkatakan, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Dia Maha Kuasa. Sesuatu yang ada di langit dan di bumi, tidak ada yang melemahkan-Nya, atau lepas dari kekuasaan-Nya.

Dari bumi, Dia Menciptakan nafas kehidupan untuk kita. Dia menempatkan kita di permukaan bumi sebagai generasi-generasi dan bangsa-bangsa. Dia telah memudahkan jalan kita bagi memperoleh rezeki, dan porsi-porsi perbekalan dari bumi.

Ibu-ibu kita mengandung, karenanya kita tinggal di rumah-rumah. Rezeki dan makanan memelihara kelangsungan hidup kita. Hari dan waktu menguji kita. Batas-batas kematian yang telah dituliskan untuk kita di dalam Buku Takdir, dengan setia membayangi kita. Namun Kekal dan Abadi, Dia-lah Tuhan Yang Hidup dan tidak pernah mati.

Sejarah adalah salah satu disiplin ilmu yang dipelajari secara luas oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi. Untuk kebutuhan itu dipersiapkan kendaraan-kendaraan dan dilakukan perjalanan-perjalanan. Rakyat awam mempunyai semangat tinggi untuk mengetahuinya. Para raja dan pemuka rakyat berlomba-lomba memahaminya.

Antara orang-orang terpelajar dan orang-orang bodoh terdapat kadar yang sama di dalam memahaminya. Sebab, pada permukaannya sejarah tidak lebih daripada sekadar keterangan tentang peristiwa-peristiwa politik, negara-negara, dan kejadian-kejadian masa lampau. Ia tampil dengan berbagai bentuk ungkapan dan perumpamaan.

Dalam perjamuan-perjamuan besar, peristiwa-peristiwa itu dituturkan sebagai sajian. Peristiwa-peristiwa itu juga mengajak kita memahami ihwal makhluk, bagaimana situasi dan kondisi membentuk perubahan, bagaimana negara-negara memperluas wilayahnya, dan bagaimana mereka memakmurkan bumi sehingga terdorong mengadakan perjalanan jauh, hingga ditelan waktu, lenyap dari panggung bumi.

Dalam hakikat sejarah, terkandung pengertian observasi dan usaha mencari kebenaran (tahqiq), keterangan yang mendalam tentang sebab dan asal benda wujudi, serta pengertian dan pengetahuan tentang substansi, esensi, dan sebab-sebab terjadinya peristiwa. Dengan demikian, sejarah benar-benar terhujam berakar dalam filsafat, dan patut dianggap sebagai salah satu cabang filsafat.

Para sejarawan muslim terkemuka telam membicarakan peristiwa-peristiwa sejarah secara luas dan mendalam. Mereka mengumpulkannya serta menuliskannya dalam pelbagai buku, kemudian menyimpannya baik-baik. Namun, orang-orang yang tidak berhak mencampuri sejarah, disadari atau tidak, telah memasukkan gosip dan cerita-cerita palsu ke dalam buku-buku sejarah tersebut sebagai bumbu penyegar. Tindakan ini diikuti oleh orang-orang yang datang sesudahnya. Kemudian, mereka meneruskan informasi itu kepada kita sebagaimana mereka telah mendengarnya.

Upaya untuk mengadakan pembetulan amat sedikit dilakukan orang. Sedangkan mata kritik yang ada pada umumnya tidak tajam. Kekeliruan dan asumsi tak berdasar merupakan bagian yang akrab di dalam berita-berita sejarah. Taklid buta mengikuti tradisi merupakan sifat warisan anak-anak Adam. Mencampuri disiplin ilmu yang bukan bidangnya terus berkembang luas.

Tak seorang pun mampu menegakkan kembali otoritas kebenaran, dan setan kebatilan menang dari perenungan-penjernihan. Seorang penukil hanya mampu mendikte dan menyampaikan materi sebagaimana adanya. Tetapi persepsi kritis menyingkap kebenaran yang tersembunyi. Dari pengetahuan dapat menjernihkan serta memperbaiki lembaran-lembaran kebenaran, di mana persepsi kritis boleh jadi mengaplikasikannya.

Ketika saya membaca karya para sarjana itu (dipaparkan sebelumnya kritiknya terhadapa para sejarawan yang tidak reliabel), dan menyelidiki kedalaman yang dikandung oleh hari-hari kemarin dan kini, saya memukul-mukul diri saya sendiri. Meski tidak banyak menulis, saya mencoba sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Dengan demikian, kemudian, saya karang sebuah buku tentang sejarah. Dengan buku ini saya berusaha menyingkap tabir kondisi yang tumbuh dan berasal dari generasi yang beragam. Dalam usaha mengemukakan fakta historis dan refleksinya secara metodik, saya membagi buku itu dalam beberapa bab. Saya jelaskan di dalamnya, bagaimana dan mengapa negara dan peradaban (‘umran) tumbuh. Buku itu saya tulis berdasarkan fakta-fakta sejarah, tentang bangsa-bangsa yang memakmurkan dan memenuhi berbagai daerah dan kota-kota Maghribi (sejak di sini, “Petualangan Ibnu Battutah” menjadi jelas manfaatnya. Ibnu Khaldun dan Ibnu Battutah dua orang yang sezaman.) Juga tentang negara-negara yang berumur panjang atau pendek, termasuk raja-raja dan sekutu-sekutu yang telah mendahului mereka. Mereka adalah dua generasi, yaitu orang-orang Arab dan orang-orang Barbar. Mereka adalah dua bangsa yang terkenal tinggal di Maghribi dalam waktu yang sangat lama sehingga hampir tak terpikirkan ada bangsa selain mereka yang tinggal mendiami Maghribi (Marokko). Penduduknya pun tidak mengenal manusia selain kedua bangsa tersebut.

Saya koreksi isi buku saya tersebut dengan hati-hati dan sungguh-sungguh, dan mengusahakannya dekat dengan pemahaman intelektual. Dalam menyusun dan membaginya ke dalam bab, saya menggunakan metode yang tidak pernah dipergunakan orang. Dari berbagai kemungkinan, saya menemukan metode yang luar biasa dan orisinil. Dalam karya saya itu, saya terangkan hal-ihwal peradaban, urbanisasi, dan ciri hakiki organisasi sosial manusia. Keterangan itu akan menyebutkan, bagaimana dan mengapa alam maujud ini ada seperti sekarang. Juga akan memperkenalkan kepada pembaca, bagaimana penduduk suatu negeri pertama kali memasuki peristiwa sejarah. Akhirnya, pembaca akan menarik diri dari kepercayaan untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid). Pembaca akan mengetahui hal-ihwal sejarah dan generasi-generasi yang hidup, sebelum dan sesudahnya.

(bersambung ^^… harus jemput Balya pulang dari TK, lalu lanjut bersih-bersih rumah…)

13 thoughts on “Muqaddimah Ibnu Khaldun

    • Kupikir, tidak ada gunanya kita menyangsikan asli atau tidak kitab-kitab klasik… kalau kita tidak ada niat untuk mempelajarinya. Kita ini generasi yang sedikit banyak baru bisa menerima pemberian dari masa lalu :-(

      • jelas ada gunanya, ada pembeda khusus antara kitab asli dengan kitab hasil peringkasan, dari perbedaan itu akan menghasilkan “kesan” berbeda dari buku-buku tersebut.

        Kayak kitab klasik yang berisi sejarah panjang umat Islam, Al Bidayah Wa An Nihayah karya Ibnu Katsir, kitab aslinya sangat lengkap bahkan sampai menyinggung hal fiqih dari tiap potongan sejarah, tapi yang beredar kebanyakan sekarang hanya berisi cerita

      • yang saya maksud “cerita” di sini adalah hanya riwayat sejarah tanpa penjelasan spesifik seperti yang terdapat dalam kitab aslinya…

        bukan cerita dalam definisi karangan atau dongeng atau istilah yang senada lainnya

      • keterangan tentang hal ini (teks asli) ada di bagian pengantar dalam buku Al Bidayah Wa An Nihayah

        Teks aslinya belum baca, bahkan menurut yang tertulis di pengantar buku terjemahannya, teks asli sudah susah ditemukan

  1. “Namun, orang-orang yang tidak berhak mencampuri sejarah, disadari atau tidak, telah memasukkan gosip dan cerita-cerita palsu ke dalam buku-buku sejarah tersebut sebagai bumbu penyegar.”

    nah ini yang berbahaya =(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s