Prinsip-prinsip Metodologi (Satu Bab dalam Buku Filsafat Ilmu)

Aku berterima kasih pada banyak orang yang membuatku tertarik dan akhirnya menceburkan diri dalam filsafat. Aku mungkin selamanya tak akan mendapati diriku ahli mengenai filsafat ini, tetapi ingin tahu dan ingin paham tentu bukan hal yang sia-sia. Sampai saat ini masih terus bertanya-tanya, bagaimana semua ini akan berguna? Filsafat bagiku, sebelum ditransformasikan sehingga dapat mempengaruhi tindakan, tidak akan punya kegunaan apa-apa kecuali sebagai bunga-bunga pikiran. Oh, ini tidak boleh…

Buku-buku filsafat telah beberapa lama aku tinggalkan karena perhatianku tersedot pada buku dengan tema-tema lain. Namun demikian, sebuah peristiwa membuatku ingat lagi bahwa aku harus tetap mempelajari ini. Hari itu aku diminta mengisi sebuah acara dengan tema materi Psikologi Islami. Di akhir, tersisa waktu 15 menit dan aku mempersilakannya agar seorang senior yang aku hormati dapat “menyapa” para junior. Ia tidak bicara banyak, cuma ingin membuat adik-adikku “on“; tersadar bahwa pentingnya belajar filsafat itu nyata, bukan hanya untuk dapat nilai kuliah yang baik.

Memang, satu pertanyaan besar yang selama ini sulit sekali terjawab, yang menjadi latar belakang ia mengangkat topik itu, adalah mengapa Psikologi Islami tidak begitu diminati dan ditekuni oleh ilmuwan psikologi sendiri? Dan pertanyaan itu disampaikan dengan nada frustrasi. Capek sekali diwacanakan, tidak disambut seperti yang diharapkan…

Seniorku itu pertama bercerita tentang perjuangannya menggeluti buku-buku filsafat, tepatnya filsafat ilmu, bahwa memang filsafat itu “berat”, jarang langsung paham pada kali pertama pembacaan. Tapi, ketika sudah memahaminya, sedikit banyak akan ada jawaban atas pertanyaan mengapa dunia berkembang sedemikian rupa, mengapa manusia berbeda-beda dalam pikiran, sikap, pendapat, tindakan, keyakinannya… Ada satu titik di mana perbedaan itu tidak dapat disebut kesalahan (yang ini pikiranku), yaitu ketika kita dapat memahami bahwa manusia berangkat dengan awal yang berbeda-beda. Semua orang punya landasan yang berbeda-beda tentang apa itu kebenaran. Selama kita tidak seiya sekata dalam dasar filosofis kita, dunia yang luar biasa inilah yang terus terjadi. Indah, bukan?

Ya, orang Islam selalu didorong untuk melandaskan pikiran dan tindakannya pada Al-Qur’an dan Hadist, atau dengan kata lain petunjuk Allah yang Maha Mengetahui. Bayangkan jutaan kelompok manusia yang tidak menaungkan dirinya di bawah keberserahan diri kepada Allah… Ke mana kita dan semua orang-orang ini akan menuju? Di mana kita semua akan berakhir?

***

Metodologi (ilmu tentang metode, singkatnya) adalah bagian epistemologi (teori pengetahuan) yang mengkaji tentang urutan langkah-langkah yang ditempuh agar pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri ilmiah. Metodologi juga dapat dipandang sebagai bagian dari logika yang mengkaji kaidah penalaran yang tepat. Bernalar secara tepat itu penting. Benar tidaknya cara kita berpikir, menganalisa, melogika, dan menarik kesimpulan mempengaruhi pengetahuan yang kita dapat dan kebenarannya.

Selama ini, di kampus misalnya, dalam mata kuliah metodologi penelitian, kita sering hanya terima jadi materi tentang metodologi penelitian. Memang tujuannya adalah agar kita bisa mengerjakan tugas akhir kita. Namun, satu hal yang sepertinya terlewat dan ini membuat penelitian kita sering kehilangan ruhnya: asumsi yang melatarbelakangi berbagai metode yang digunakan dalam aktivitas ilmiah; pendirian atau sikap yang dikembangkan para ilmuwan dalam kegiatan ilmiah mereka.

Prinsip Skeptis-Metodis Rene Descartes

Pertama, semua orang pasti punya akal sehat, meskipun ada beberapa yang kurang dalam hal ini, karena itu membicarakan masalah ilmu sebaiknya dimulai dari persoalan akal sehat ini. Akal sehat, yang menentukan kualitas kemampuan bernalar seseorang, penting untuk diarahkan secara optimal dalam hal penerapannya, terutama dalam aktivitas ilmiah. Prinsip ini yang membuat Descarter berkeyakinan bahwa seseorang, dalam menuntut ilmu, perlu melepaskan diri dari cengkraman otoritas guru, mengarahkan dirinya sendiri untuk belajar langsung dari sumbernya (yaitu alam raya), dan mempelajari dirinya sendiri.

Kedua, mengenai kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan digunakan dalam aktivitas ilmiah, terdapat empat langkah/aturan yang dapat mendukung metode yang digunakan:

1) Jangan pernah menerima baik apa saja sebagai benar, jika kita tidak mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai kebenarannya. Kita sebaiknya menghindari penarikan kesimpulan dan prakonsepsi yang terburu-buru dan tidak memasukkan apapun dalam pertimbangan kecuali jika itu tidak meragukan lagi.

2) Dalam menghadapi persoalan-persoalan, sebaiknya pecahkan kesulitan dengan cara membaginya dalam sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yang dapat dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya secara lebih baik.

3) Dalam memecahkan masalah, sebaiknya kita mengarahkan pikiran secara tertib mulai dari objek yang paling sederhana dan paling mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit ke pengetahuan yang paling kompleks.

4) Kita bisa melakukan penandaan (bisa dalam bentuk nomor) untuk seluruh permasalahan selengkap mungkin, dan meninjaunya kembali secara menyeluruh sehingga pasti tidak ada yang tertinggal.

Ketiga, terdapat beberapa kaidah moral yang harus diikuti karena itu merupakan landasan bagi penerapan metode:

1) Patuhi undang-undang dan adat-istiadat, sambil berpegang pada agama yang dianut

2) Bertindak tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun yang paling meragukan

3) Berusaha lebih mengubah diri sendiri daripada merombak tatanan dunia

Keempat, kita perlu menegaskan pengabdian pada kebenaran yang sering kali terkecoh oleh indera, apa yang dilihat dan apa yang didengar. Kata Descartes, “Kita dapat saja meragukan segala sesuatu, namun kita tidak mungkin meragukan kita sendiri yang sedang dalam keadaan ragu-ragu. Cogito ergo sum (Saya berpikir/bernalar, maka saya ada).”

Kelima, terdapat dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua substansi, yaitu res cogitans (jiwa bernalar) dan res extensa (jasmani yang meluas). Tubuh manusia, karena diciptakan Tuhan, maka ia tertata lebih baik. Ada ketergantungan antara dua kodrat. Jiwa secara kondrati tidak mungkin mati bersama dengan tubuh, maka jiwa manusia itu abadi.

Keenam, terdapat dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan spekulatif dan pengetahuan praktis. Pengetahuan yang praktif terkait dengan objek-objek konkret, sedangkan yang spekulatif menyangkut hal-hal yang filosofis. Berkat kedua pengetahuan inilah manusia mampu menguasai alam.

Prinsip Verifikasi Alfred Ayer

Ayer adalah seorang penganut positivisme logik. Dalam positivisme logik, sesuatu itu bermakna jika ia dapat diukur (ditasdikan). Makna preposisi tergantung dari apakah kita dapat melakukan verifikasi empirik terhadap preposisi yang bersangkutan. Menurut Ayer, verifikasi memiliki dua macam, yaitu: 1) verifikasi dalam arti yang ketat dan 2) verifikasi dalam arti yang lunak.

Verifikasi yang ketat terjadi jika kebenaran suatu preposisi didukung oleh pengalaman yang meyakinkan, sedangkan verifikasi yang lunak terjadi jika suatu preposisi itu mengandung kemungkinan bagi pengalaman atau merupakan pengalaman yang memungkinkan. Dengan begini, makna sesuatu tidak hanya dapat ditentukan oleh pengalaman empikir saat ini. Pernyataan dalam bidang sejarah (masa lampau) dan prediksi ilmiah (ramalan masa depan) juga dapat diterima sebagai pernyataan yang mengandung makna.

Namun demikian, Ayer menolak metafisika dalam dunia ilmiah. Baginya, pernyataan-pernyataan metafisika (termasuk etika dan teologi) merupakan pernyataan tidak bermakna karena tidak dapat dilakukan verifikasi apapun.

Prinsip Falsifikasi Karl Popper

Popper adalah filsuf konteporer yang melihat kelemahan dalam prinsip verfikasi berupaka sifat pembenaran terhadap teori yang sudah ada. Ia pun mengajukan prinsip falsifikasi.

Pertama, Popper menolak anggapan umum bahwa suatu teori dirumuskan dan dapat dibuktikan kebenarannya melalui prinsip verifikasi, sebagaimana yang dianut oleh kaum positivistik. Teori-teori ilmiah selalu bersifat hipotetis (dugaan sementara), tidak ada kebenaran terakhir. Setiap teori selalu terbuka untuk digantikan oleh teori yang lebih tepat.

Kedua, pengamatan yang berulang-ulang akan memperlihatkan adanya ciri-ciri umum yang dirumuskan menjadi hipotesa. Selanjutnya, hipotesa itu dikukuhkan dengan cara menemukan bukti-bukti empiris yang dapat mendukungny. Hipotesa yang berhasil dibenarkan (dijustifikasi) akan berubah menjadi hukum. Nah, Popper menolak cara kerja yang demikian, terutama pada asa verifiabilitas, bahwa sebuah pernyataan itu dapat dibenarkan berdasarkan bukti-bukti pengamatan empiris.

Ketiga, sebagai jalan keluar, Popper menawarkan pemecahan baru, yaitu prinsip falsifiabilitas, bahwa sebuah pernyataan dapat runtuh jika dapat dibuktikan kesalahannya. Hipotesa, hukum ataukah teori kebenarannya hanya bersifat sementara, sejauh belum ditemukan kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya. Jika ada pernyataan bahwa semua angsa itu berbulu putih, dengan prinsip falsifiabilitas, cukup temukan saja satu angsa yang tidak berbulu putih, maka runtuhlah pernyataan semula.

Bagi Popper, ilmu pengetahuan dapat berkembang maju manakala suatu hipotesa dapat dibuktikan salah sehingga dapat digantikan dengan hipotesa baru. Namun, ada kemungkinan lain. Jika hanya salah satu unsur hipotesa yang dibuktikan salah kemudian digantikan dengan unsur baru yang lain, maka itu berarti hipotesa tersebut telah disempurnakan. Jika hipotesa dapat bertahan melawan segala usaha penyangkalan, maka hipotesa tersebut semakin diperkokoh.

Sumber:

Mustansyir, R. & Munir, M. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

***

Mengetahui seluruh prinsip itu, setidaknya ada sikap hidup yang sebaiknya kita semua miliki ketika kita sudah punya prinsip hidup mengabdikan pada kebenaran. Mencari kebenaran adalah hak hidup dan tak seorang pun yang dapat menghalangi pencarian akan kebenaran. Namun, jika semua orang mencari kebenaran dengan caranya sendiri-sendiri, mengklain di sana dan di sini, membuktikan ini dan itu, dan berakhir serba menyalahkan yang selain dirinya, bukankah yang akan terjadi adalah kekacauan? Semua orang akan terpuruk dalam kesalahan karena caranya menemukan kebenaran salah.

Orang boleh meragukan sesuatu, bahkan kekritisan itu perlu untuk menghindarkan diri dari taklid buta. Ketika kita meragu, kewajiban kita adalah mencari kepastian, apa yang sebenarnya benar. Dalam mencari kepastian, tidak boleh tidak ada bukti. Keyakinan dan kepercayaan akan muncul jika orang dapat melihat apa yang kita lihat, mendengar apa yang kita dengar, membaca apa yang kita baca, dan akhirnya berpikiran sejalan dengan kita. Namun demikian, kita harus sadar diri, bahwa semantap apapun kebenaran kita, itu begitu manusiawi sehingga pasti tidak sempurna. Sikap tersulit tentu adalah ketika pernyataan kita diragukan orang dan pada akhirnya harus mau menerima bahwa kita salah. Namun, itu bukan masalah besar jika kita dapat “berperang” dengan bukti, bukti dan bukti sehingga akhirnya yang ada adalah pengokohan dan penyempurnaan tentang apa yang sebenarnya lebih benar. Dengan begini, kesalahan pun menjadi pengalaman hidup yang indah.

About these ads

One thought on “Prinsip-prinsip Metodologi (Satu Bab dalam Buku Filsafat Ilmu)

  1. Pingback: FALSAFAH ILMU | Membaca Mampu Menambah Wawasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s