Shin Suikoden I dan II

Pertama kali selesai membaca kedua novel ini, harapan pertamaku adalah, semoga benar, akan ada dua jilid lagi (mengacu pada salah satu tulisan di sebuah blog, “Jika mengikuti edisi aslinya yang berbahasa Jepangnya maka nantinya akan ada 4 jilid buku yang akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia.” @ http://bukuygkubaca.blogspot. com)

Aku cuma ingat, di bagian terakhir pengatar penerjemah/penerbit di buku “Musashi” karya Eiji Yoshikawa (yang juga merupakan penulis dari Shin Suikoden ini), diceritakan riwayat hidup sang maestro bahwa ada satu novel yang tidak sempat diselesaikan karena beliau keburu meninggal dunia lantaran sakit. Semoga salah, novel itu berjudul Shin Suikoden atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan “Batas Air” atau “Water Margin” dalam Bahasa Inggris.

Tidak pernah menjadi kebiasaan membaca novel yang nasibnya tragis seperti itu di mana akhir cerita tidak akan pernah diketahui oleh pembaca. Hal yang seperti itu terjadi pada “Heike Monogatari”-nya Eiji Yoshikawa dan “Jalinan Ular Berbisa”-nya Gogol. Sedih rasanya jika Shin Suikoden mengalami nasib yang serupa… Kenapa? Karena rasanya hanya dengan cara yang seperti inilah aku bisa bersua dengan salah satu dari empat novel klasik besar China (cek di http://en.wikipedia.org/wiki/Four_Great_Classical_Novels); selain karena kisahnya yang memang baik untuk dibaca.

Ketika membaca judulnya, aku jadi menerka-nerka, mengapa dinamai seperti itu; Batas Air. Sepanjang cerita di dalam kedua jilid novel Shin Suikoden, tidak satu pun dibahas tentang “batas air”. Apakah ini mengacu pada daerah berair yang menjadi pertahanan alami benteng Ryou Zan Paku yang didirikan oleh para orang-orang buangan dari gempuran tentara pemerintah Dinasti Sou (Song)? Atau lebih filosofis lagi, apakah ini benar-benar tentang batas (yang dimiliki) air?

Apakah air punya batas? Sifat air adalah mengalir ke segala arah, menyesuaikan diri dengan lingkungannya (jika panas menjadi uap, jika dingin menjadi es, jika ditempatkan di wadah tertentu akan berbentuk mengikuti bentuk wadah tersebut), punya kekuatan yang besar untuk menghancurkan sekaligus menghidupkan bumi… Sekalipun kecil tetesannya, air dapat membelah dan mengalir di sela-sela bebatuan. Air dapat beriak keras, juga dapat diam dan tenang.

Ketika membaca “batas air”, aku membayangkan sebuah pantai di mana air laut tidak henti-hentinya menyapu tepian. Aku bisa melihat batas antara pasir yang basah dan pasir yang kering; pasir yang basah kemudian kering dalam sekejap dan sebaliknya pasir yang kering yang dapat basah dalam sekejap. Tidak pernah ada batas yang pasti, selalu ada titik tertinggi dan terendah yang bisa dicapai oleh deburan atau sapuan ombak.

Lama-lama, aku jadi paham, bagiku, novel ini adalah tentang manusia yang sifatnya seperti air yang kubayangkan dan kupikirkan di atas. Dan, rasanya itu benar… sehingga rasanya sangat berharga bisa membaca novel ini. Sekali lagi aku belajar sesuatu.

***

Si Naga Sembilan

Shin Suikoden berkisah tentang para pahlawan yang dimetaforakan sebagai 108 bintang iblis. Prolog novel menceritakan sebuah peristiwa simbolis pelepasan 108 bintang iblis tersebut ke dunia setelah ratusan tahun disegel oleh para pendeta (agar tidak mengganggu ketenteraman hidup manusia di dunia) oleh seorang jenderal dinasti Sou yang besar kepala dan tidak mau mendengarkan nasihat bernama Jenderal Kou.

“Yang dimaksud 108 bintang jahat itu adalah bintang pengacau. … Mereka tidak mengikuti aturan, dan dengan seenaknya ikut berputar-putar di sekitar matahari, kadang muncul kadang tidak. Kondisi di masyarakat, di dunia manusia, juga seperti itu. Dan Paduka, dengan semaunya telah mengembalikan mereka ke alam yang tidak beraturan itu. Memang benar nafsu manusia memiliki nasib yang tidak ada ujungnya. … Mungkin ini sifat manusia yang tidak mungkin diperbaiki.” (h. 31-32, Jilid 1)

Lanjut cerita, ke-108 bintang tersebut kemudian turun ke dunia manusia, satu demi satu menjelma menjadi manusia dan mendirikan benteng Ryou Zan Paku, tempat berkumpulnya 108 jawara yang hampir menghancurkan Dinasti Sou. Di situlah kisah Suikoden bermula…

Cerita ini menyajikan sebuah ironi tentang baik dan buruk, benar dan salah yang dijungkirbalikkan sedemikian rupa dalam masyarakat di mana pemerintahannya sangat busuk dan bobrok. Korupsi, suap, penyalahgunaan jabatan dan wewenang di mana-mana; yang kuat menindas yang lemah dan yang lemah terombang-ambing dalam ketidakberdayaan. Masyarakat bermoral rendah, istri yang berselingkuh, pria yang berzina, orang-orang yang membunuh, pegawai penjilat, makan makanan enak sesuka hati, memakan gaji dan hidup mewah tanpa peduli bahwa ada banyak kaum menderita di luar pagar rumahnya.

Dalam situasi yang seperti itulah 108 bintang muncul, satu demi satu, seiring dengan mengalirnya peristiwa. Benar, mereka adalah bintang iblis; bintang penentang bagi kaum pejabat arogan dan orang-orang jahat yang tidak bermoral. Kesemua 108 bintang (sampai Shin Suikoden Jilid 2 baru muncul sekitar 20 orang) terdiri atas para jawara dalam ilmu bela diri, bekas jenderal, bekas pelatih tentara kekaisaran, cendekiawan, ahli strategi, mantan polisi, pendeta, penghulu di sebuah desa, bekas sekretaris di suatu wilayah, bekas perampok, nelayan, mantan prajurit…

Mereka adalah orang-orang yang semula memiliki kedudukan terhormat di masyarakat, tetapi kemudian menjadi orang-orang yang dihukum dan terbuang karena membela kebenaran dan kemanusiaan atau diperlakukan secara zalim oleh penguasa; atau orang yang secara sukarela mengikuti jalan menuju Benteng Ryou Zan Paku karena idealisme mereka.

“Di tempat inilah berkumpul beratus-ratus orang yang tidak dapat diterima dengan baik dalam masyarakat pemerintahan Dinasti Sou, serta orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil. Mereka membangun benteng dan secara terang-terangan menentang pemerintah. … Demikianlah, Ryou Zan Paku merupakan ‘benteng terapung manusia pelanggar hukum’ yang sangat besar.” (h. 265, Jilid 1).

Dan cara menentang yang dilakukan, salah satunya, merampok harta pejabat-pejabat kaya.

” ‘Apakah harus kita rampok? Atau kita biarkan saja?’ (tanya Chou Gai).

Cendekiawan Go terdiam dalam waktu yang cukup lama. Ini semua adalah gambaran kesesatan alami yang tergambar di masyarakat akibat kebusukan Dinasti Sou. Kekesalan serta keluhan orang-orang terhadap kondisi seperti ini mungkin juga hanya merupakan kebodohan.

Kalaulau kejahatan dianggap sebagai awan, maka awan kejahatan yang ada di puncak akan semakin pekat. Kemudian semakin tinggi awan, ukurannya pun kian akan membesar. Kondisi ini membuat sang pelaku tanpa malu-malu melakukan kejahatan, secara terang-terangan berselimut rasionalitas, bersembunyi di belakang politik dan kekuasaan.

Demikianlah kejahatan yang dilakukan rakyat kecil, kejahatan yang mereka lakukan hanyalah kejahatan kecil pula. Hanya untuk hidup dan untuk sedikit menikmati hidup. Untuk memenuhi keserakahan yang sama-sama dimiliki manusia. Atau juga sebagai tanda tentangan. Terutama pada saat ini … bukankah para penentang ini bermunculan karena kebusukan Dinasti Sou itu sendiri? Dengan adanya para pembesar dan pejabat yang kelewat berpuas diri dan menganggap ‘dunia ini milik dirinya sendiri’?

Kemudian di dunia ini, suatu saat pasti akan muncul bintang-bintang penentang yang akan melawan bintang-bintang arogan lapis atas. Bintang-bintang penentang ini pada dasarnya adalah bintang yang tinggal di atas bumi rakyat jelata. Meskipun memiliki sifat usil, mereka tidak akan melakukan hal-hal jahat dan sedikit-banyak mengetahui kebenaran. Mereka bersifat penyayang, tidak pernah menganiaya yang lemah, dan mereka sebagai laki-laki terkadang bisa juga mengucurkan air mata. Mereka bisa dianggap sosok yang awam, liar, patut disayangi dan dikasihi, dan sebagai manusia mereka tidak kehilangan jati diri.

Jika mereka dirangkul dan dijadikan teman senasib sepenanggungan serta dituntun ke jalan yang baik, lalu diberi makna dan tujuan hidup dalam masyarakat yang buruk seperti sekarang, tentunya mereka akan berusaha menjadikan dunia ini tempat yang menyenangkan. Kalau sudah begitu, di bumi rakyat yang hitam pekat ini akan berembus angin harapan segar. Angin segar yang pastinya nanti mencitakan padang dan ladang hijau.

‘Saudara Chou Gai! … Lakukanlah. Saya juga akan mencari akal untuk itu.’ (kata Cedekiawan Go)” (h. 326-328, Jilid 1)

“Sou Kou kembali merenung. Zaman sekarang, anak-anak muda memiliki begitu banyak keinginan, namun tidak memiliki tempat untuk menumpahkannya. Dan kebobrokan pemerintahan Dinasti Sou yang tak memberikan jalan bagi para pemuda telah menumbuhkan kondisi masyarakat yang seperti sekarang ini. Karena itu, sebagai bentuk penentangan, muncullah kelompok-kelompok semacam Ryou Zan Paku.’ “ (h. 452, Jilid 2)

Si Pendeta Bunga

Pada akhirnya, jelas bahwa kisah Shin Suikoden ini adalah tentang sebuah pergerakan rakyat yang mengguncang sebuah dinasti. Tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik (orang-orang yang mampu bela diri), tetapi juga kecerdasan para ahli strategi (ahli militer) dan cendekiawan (guru) juga ketenangan para pendeta, serta energi kelompok pekerja, seperti nelayan, pedagang, dan sebagainya. Sumber kekuatan mereka adalah persatuan yang didasari perasaan senasib sepenanggungan bahwa ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi dan perlu diluruskan kembali.

Mereka yang tergabung dalam Ryou Zan Paku bukanlah orang yang bersih tanpa cela; mereka pernah melakukan kesalahan berat. Sebagian pernah membunuh dan merampok. Tetapi, visi dan misi hidup yang kemudian mereka bawa “membersihkan” segalanya dan membuat mereka tercatat dalam sejarah; kisah mereka bertahan sampai saat ini.

***

Membaca buku ini benar-benar membuatku belajar tentang hubungan antarmanusia yang aneh, digambarkan lewat peribahasa “lelaki sejati dapat saling mengenali lelaki sejati lainnya”; bahwa ada dua macam ikatan, yaitu ikatan yang busuk (ikatan orang-orang yang busuk, yang saling membantu dalam kebusukan lantaran materi) dan ikatan yang baik (ikatan orang-orang yang baik, yang saling membantu dalam kebaikan lantaran persahabatan, budi baik dan jasa, kewibawaan dan kebijaksanaan).

Orang jahat saling melindungi, orang baik pun saling melindungi. Tetapi pada akhirnya, seperti kata pepatah, “semua orang akan memedulikan kesulitan yang dialami orang baik dan merasa heran jika orang jahat tidak mengalami musibah.” (h. 87, Jilid 2). Pada akhirnya, Tuhan tidak pernah menutup mata-Nya atas apa yang dialami manusia. Pertolongan ada di mana-mana, termasuk bagi negeri yang bobrok lewat para “bintang penentang”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s