Diari Skripsi Bag. 1: Berhati-hati dengan Target (3/11 ’10)

 

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/148/Diari-Skripsi-Bag.-1-Berhati-hati-dengan-Target-311-10

Nov 3, ’10 2:15 AM

Aku sedang memulai sebuah proyek menulis yang aku tidak akan tahu kapan tulisan ini akan kuakhiri. Demikianlah aku menulis, diari skripsi, dimulai hari ini. Ayo, semangat! SEMANGAT!
***
Di mana-mana datangnya badai pelan-pelan tapi pasti. Teringat beberapa bulan yang lalu aku mempersiapkan diri untuk badai beruntung: tugas kuliah semester VI, lalu UAS VI, lalu KKN, lalu skripsi, magang, dan terakhir sidang. Sudah kulalui tiga dan masih tersisa tiga. Berharap bisa segera melewati semuanya setahap demi setahap, tetapi kok malah serasa aku sedang berlari-lari ya? Ada titik di mana aku kesulitan menikmati proses ini sehingga aku harus berhenti sebentar dan berpikir kembali, ada sesuatu yang salah.
Benar, ada yang salah.
Apa yang sering dipikirkan para mahasiswa tentang skripsinya? Tugas akhir, tugas terakhir di kampus, beban terakhir dan terberat di kampus? Prestasi, pencapaian puncak sebagai mahasiswa, realisasi ilmu setelah tiga tahun kuliah? Apa pun pandangannya, positif maupun negatif, tentang skripsi, tidak ada mahasiswa yang tidak memandangnya sebagai sumber stres dan stres itu sendiri. Apa yang salah dari merasakan skripsi sebagai stressor dan stres? Tidak ada yang salah dengan mengakuinya, tetapi entah mengapa ada orang yang jadinya reaktif. Aku salah satunya.
Bagiku, menyelesaikan skripsi adalah prestasi terbesar. Aku sudah “bersabar” kuliah enam semester, jika bisa mengerjakan skripsi yang sempurna dan penuh makna serta dalam waktu singkat, maka ada kepuasan tersendiri di situ. Cara berpikirku selama enam bulan terakhir ketika mengikuti kuliah Teknik Penulisan Skripsi adalah begitu. Kejar terus, kejar terus… berlari menyongsong satu hari itu, di mana aku memakai toga. Aku bekerja dengan sebuah skema: begini, begini, dan begini, berharap enam bulan ke depan akan berjalan sesuai rencana tersebut.
Tetapi, ternyata fleksibilitas kognitifku diuji ketika:
1. Target menyelesaikan berkas administrasi di dua minggu pertama kuliah gagal dan molor sampai awal Oktober.
Pertanyaanku: Mengapa aku bisa stres sendiri, padahal masih banyak yang lebih parah dari aku? Jawabannya: Hanya karena aku melihat satu dua orang teman yang sudah menyelesaikan semua berkas dan aku panik. Hanya karena aku pernah mendengar cerita seorang senior bahwa dia mengurus administrasi sampai dua bulan karena biro skripsinya susah ditembus.
Di tengah-tengah target yang optimis, ternyata ada kekhawatiran dan ketakutan yang tidak disadari.
2. Draft skripsiku ditolak oleh pembimbing utama ketika tiga minggu sudah berlalu. Aku harus mencari subjek baru untuk judul yang lama, atau variabel tambahan dan ganti pendekatan untuk subjek yang lama. Tidak terbayangkan… impian diwisuda April 2011 jadi buram. Waktu untuk mencapai hari itu tinggal lima bulan dan didiskon untuk magang satu bulan.
Pertanyaanku: Mengapa aku stres padahal ada banyak orang yang bisa mengerjakan skripsinya hanya dalam waktu satu bulan karena kepepet DO? Apa makna semua target ini?
Jawabanku: Ada yang salah. Secara tidak disadari muncul pendapat antah-berantah bahwa lulus itu hanya menjadi masalah kuantitatif. Kenapa jadinya target itu hanya target waktu (dan tebal skripsi pada sebagian mahasiswa) dan bukan lebih pada target merasa puas dan bangga atas terselesainya jalan menuju pintu keluar S1? Kenapa target itu malah yang mengendalikanku sehingga aku sulit berkelit untuk mencari celah-celah baru dan yang tak kusangka ia ada? Mengapa aku menjadi ada dalam keterbatasan yang kubuat sendiri dan aku stres sendiri dibuatnya?
Mengapa tidak berjalan pelan-pelan saja sembari melihat pemandangan, dengan teratur, pasti dan penuh kehati-hatian satu langkah maju sedikit demi sedikit dan akhirnya sampai juga di tujuan?
Mengapa tidak menikmati detik-detik terakhir menjadi mahasiswa dengan tidak berpikiran, “Aduh, bagaimana skripsiku??? Baru sampai dapat judul baru, dosennya susah ditemui, ibunya nggak ke kampus juga, referensinya sedikit…”, tetapi, “Alhamdulillah, sudah dapat judul… Akhirnya aku sudah pasti dengan judul ini. Dosennya baik kok… beliau kasih aku masukan. Kalau susah ditemui, berarti aku mesti memastikan progresku secara mandiri, kan?”?
Yeah, begitulah… skripsi. Akan ada saatnya ketika aku mungkin saja akan berkonflik dengan dosenku, kena tegur karena ini dan itu, terpontang-panting karena A, B, dan C, tidak tidur semalaman, atau seharian ke perpustakaan. Yang penting, PROGRES yang BERMANFAAT. Kau ini kuliah untuk lulus atau untuk belajar? Kau ini mau lulus cepat atau lulus sukses?
Jadi, hati-hatilah dengan target. Sering, target-target yang kita buat hanyalah cerminan keegoisan kita atas nasib kita sendiri. Ingin ini dan itu dengan begitu bernafsu dan berambisi, tetapi melewatkan detil-detil sederhana yang penuh pelajaran hidup… Sayang sekali kalau kita hanya jadi mahasiswa seperti itu.
Nah, sekarang sudah kubuat satu target yang menyenangkan!
***
Pencapaian per Senin, 1 Nov 2010:
1. Sudah dapat judul baru.
2. Sudah dapat gambaran bab satu.
3. Sudah punya teori dan beberapa fakta yang diperlukan.
4. Sudah nge-tek empat orang calon subjek (thanks facebook ^^v).
5. Sudah selesai administrasi, tinggal berkas penggantian judul saja.
6. Sudah dapat dua orang dosen pembimbing yang super BAIK.
7. Bergelimang fasilitas, dengan lebih banyak bersyukur.
8. Punya cukup waktu, Insya Allah.
9. Sudah punya target terdekat di bulan November ini.
10. Aku BERSEMANGAT dan SENANG untuk ini semua.

One thought on “Diari Skripsi Bag. 1: Berhati-hati dengan Target (3/11 ’10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s