Diari Skripsi Bag. 10: Skripsi, Seorang Teman, Air Matanya, dan Nasihat “Kalau-Kamu-Jadi-Dosen”

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/263/Diari-Skripsi-Bag.-11-Skripsi-Seorang-Teman-Air-Matanya-dan-Nasihat-Kalau-Kamu-Jadi-Dosen

May 26, ’11 8:21 PM

Sebenarnya, aku ingin menunda buat tulisan tentang skripsi sampai Bab IV selesai… Ternyata, tidak bisa. Ada cerita yang sangat menggugah yang aku tidak bisa tidak menuliskannya. Aku berharap ini bermanfaat bagi siapapun kalian, terutama yang cita-cita atau kariernya adalah dosen atau pendidik.
 
***
Mahasiswa itu lain-lain jenisnya dalam menghadapi skripsi. Ada yang tipenya macam aku, ada yang macam kamu. Tidak bisa kita menilai yang satu lebih serius daripada yang lain, lebih pandai, lebih semangat, lebih tidak stres… Atau skripsinya lebih mudah, dosennya lebih oke, literaturnya lebih mudah ditemukan, dan sebagainya. Ya, pemahaman macam itu membuatku berhenti memikirkan diri sendiri dan menghayati kesusahan yang sama yang juga dialami teman-temanku dalam pengerjaan skripsinya.
 
Hari itu tak kurencanakan seperti itu. Kuliah seperti biasa, sampai di akhir mata kuliah aku diminta seorang dosen untuk membantu seorang temanku memahami Bab I skripsinya. Hah… si ibu tidak tahu, sudah sebulan ini aku tidak sungguh-sungguh menyentuh skripsiku (aku tidak tahu data yang sudah terkumpul harus diapakan!). Jika kali ini aku malah menjadi tempat konsultasi seorang teman, aku sungguh mendapatkan peringatan keras, “Ayo, kerjakan skripsinya, neng!
 
Dua jam berlalu dan kami berkutat dengan beberapa teori, kondisi di lapangan, bagan alur pikir, dan apa kata dosennya sebelumnya. Ya, dia tidak mengerti betul mengapa yang ini dicoret dan yang itu diperbaiki. Hmmm… aku berpikir dengan pengetahuanku yang terbatas soal variabelnya. Namun, di balik itu, aku lebih khawatir apa pengaruh opiniku padanya, ketika dia diam dan aku menunggu reaksinya. Diskusi itu berakhir baik dan menurutnya, dia paham sesuatu. Setelah itu, aku terkejut dengan kata-katanya, “Aku lebih mudeng bicara skripsi sama teman daripada sama dosen.Huh? What’s wrong?
 
Aku selalu berpikiran positif atas semua reaksi negatif yang kurasakan dari dosen. Dosen itu kuhormati betul-betul, sehingga “tidak berani” aku menyalahkan atau mencari-cari kesalahan beliau jika skripsiku bermasalah. Pasti aku yang bermasalah. Bahkan, untuk hampir seluruh kuliah pun seperti itu. Aku terlalu naif atau apa ya? Mengapa aku seperti tidak sadar bahwa dosen itu juga manusia, mereka itu juga ada dosanya, salah satunya terkait urusan pembimbingan skripsi? 
 
Aku bungkam, diam, dan mendengarkan, lalu inilah yang berhasil kuingat:
Mengapa dosen  “sukses” membuat skripsi kita lama? Mengapa dosen mudah menunda-nunda urusan mahasiswa, tetapi tidak untuk urusan dirinya? Sudah sms mau bimbingan, tidak dibalas… atau ditunda, seminggu, dua minggu, tiga minggu… Ketika kita maju bimbingan, dosen itu cuma bisa coret, coret, coret, salah, perbaiki, padahal kita butuh diskusi. Cuma dilihat, sudah, perbaiki, padahal kita ingin pencerahan, kita ingin pemahaman. Skripsi kita susah, dibuat susah dengan segala tuntutan kesempurnaannya.  Skripsi kita ini apa? Ini ego dosen. Ini maunya dosen, tetapi di ruang sidang, kita yang mati-matian membelanya.
 
Lalu…
 
Ada keluarga di rumah yang aku pikirkan. Setiap kali pulang, aku merasa bersalah dengan skripsi yang tidak juga selesai, padahal selalu kuusahakan. Aku ingin segera pulang dan membantu orangtuaku…” Tapi, dosen tidak memahami itu. Hah… menyedihkan sekali. Aku melihat matanya yang berkaca-kaca, lalu dia meneteskan air mata. Ini sangat emosional.
 
Ini cukup sarkastik bagi seluruh dosen pembimbing skripsi di seluruh dunia, bukan?Namun, hal tersebut tidak untuk dijadikan masalah di kampus manapun, melainkan sebagai masukan saja untuk interaksi pembimbingan skripsi yang lebih baik.
 
Af, kalau kamu mau jadi dosen, dengarkan kata-kataku ini.” Secara intens, aku mencermati setiap kata-katanya dan aku menafsirkannya demikian:
1. Ingat, mahasiswa itu punya keluarga, dia anak kos, dia punya tanggung jawab lain dalam hidupnya, dan dia punya banyak hal yang dipikirkannya selain skripsi. Kamu mungkin tidak tahu kehidupannya, tetapi tidak ada alasan bagimu untuk mempersulit apa yang seharusnya bisa mudah.
2. Jangan campur-baurkan urusan pribadimu dengan pekerjaan. Kamu boleh bertengkar dengan suami di rumah, boleh stres karena apapun di luar sana, tetapi kampus bukan tempat yang tepat bagi mood-mu yang mengerikan. Kamu harus mengendalikan diri.
3. Jadilah dirimu sendiri, jangan ikut-ikutan. Kalau sekarang kamu jadi orang baik, jadilah orang baik selamanya. Jangan semakin banyak ilmu atau semakin tua, malah semakin egois, semakin arogan, semakin ingin dihormati atau dihargai atau semakin tidak bisa dikritik.
4. Sebagai dosen, kamu memang punya hak untuk mengoreksi dan mengevaluasi mahasiswa, tetapi lakukan itu dengan etika. Bukan asal berkata ini salah, ini benar, tanpa memperhatikan kondisi mahasiswa. Kamu harus menjaga etika dan diperlakukan secara beretika adalah hak mahasiswa. Mahasiswa itu juga manusia, mereka punya perasaan yang bisa merasakan sakit.
5. Sekali-kali, JANGAN MENJADI ORANG ANEH KARENA UANG. Mahasiswa sudah bayar kuliah, mengapa perlakuannya diperbedakan. Dengan klien atau pejabat bisa sangat sopan dan baik hati, tetapi mengapa tidak dengan mahasiswa?
Pada intinya, “Pak dan bu dosen, tidak ada alasan bagi kami dan kamu untuk tidak saling memahami kondisi satu sama lain. Tidak ada alasan untuk tidak saling menghormati posisi dan kedudukan satu sama lain. Kami memenuhi hakmu, maka penuhilah hak kami sebagai mahasiswa. Kami bukan malaikat, begitu pulalah kamu. Tetapi tidak ada alasan bagi kami dan kamu untuk menjadi iblis, dan bukannya manusia.”
***
Ya, benar. Setelah itu aku jadi berpikir-pikir. Senang sekali bisa bertemu dosen yang murah senyum, menginspirasi secara intelektual dan akhlak, yang murah bertanya, “Apa yang bisa saya bantu, Nak?
 
Ada banyak mahasiswa yang stres karena skripsinya. Mengapa perlu ditambah stres karena menghadapi dosen yang tidak menyenangkan? Ini seharusnya tidak terjadi. Nah, mahasiswa psikologi, siapa yang mau meneliti fenomena macam ini?😀
Untuk temanku, terima kasih banyak atas cerita dan nasihatnya. Berhargaaaaaaa sekali. Syukur, alhamdulillah… Ingat, kita berbisik-bisik ketika membahas ini. Hihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s