Diari Skripsi Bag. 11: T_T Derita Horisonalisasi

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/266/Diari-Skripsi-Bag.-12-TT-Derita-Horisonalisasi

May 30, ’11 10:48 PM

Aku tidak tahu kali ini harus memberi judul apa untuk curhat kali ini. Em… aku sedang berada dalam situasi yang tidak enak. Sudah dua hari aku mengurung diri di rumah untuk bekerja sekitar 12-15 jam sehari demi mengejar deadline skripsi. Agak menyesal… kenapa aku bilang mau bimbingan? Aku seperti tidak punya cara lain untuk membuat diri sendiri bergegas selain “mengada-adakan” jadwal bimbingan yang kemudian diiyakan dosen. Sekarang aku tahu bahwa DUDUK DI DEPAN LAPTOP, NGETIK, 15 JAM, ITU TIDAK NYAMAN! Huhu… aku belum bisa beranjak dari bangku ini! Bimbingannya besok dan aku masih punya banyak PR… 
Bulan ini puncak stres terparahku. Aku pernah merasakan kerugian mengerjakan skripsi yang harganya dua minggu, tetapi kali ini harganya tiga bulan sejak Maret. Itu waktu… ingin kuputar ulang. Aku ingin menyalahkan kebodohanku tidak mencermati baik-baik perihal Bab 4 Analisis Data di buku metodologi. Ini Bab terberaaaaat… memusingkaaaaan… panjaaaaang… dan aku harus sabaaaaar. Tapi sekaligus paling indaaaaaaah dan paling banyak pelajaran hidupnyaaaaaa. Aaaaaaaa… 
Bulan Maret. Aku sangat optimis. Sembari menunggu kesediaan subjek 2# yang pertama, aku sudah mulai mewawancarai subjek 1# di minggu ke-2 Maret. Ternyata seminggu cuma bisa sekali wawancara. Oke lah. Minggu kedua, oke. Tapi… dia bilang, dia mau magang 2,5 bulan, jadi susah ketemu buat wawancara. Oke…
Sudah akhir Maret. Waktunya beranjak ke subjek 2# yang pertama. Umm… dia tidak membalas emailku. Gawat. Itu jelas artinya dia batal jadi subjek. Segera ganti subjek, alhamdulillah dapat bahkan tidak disangka orangnya dekat sekali denganku, baik banget, sehingga aku berpikiran, mengapa tidak dia saja dari awal. 
Bulan April. Waktunya meninggalkan subjek 1# dan optimis untuk subjek 2# yang sesungguhnya. Sama, seminggu cuma bisa wawancara sekali dan tiga minggu berlalu, lalu akhirnya dia bilang kalau dia mau ada kompetisi, jadinya tidak bisa wawancara untuk minggu depan. Oke…
Aku sadar kesalahanku bahwa aku terlalu terlambat dalam mentranskrip hasil wawancara (silakan merujuk ke diari skripsi yang sebelumnya). Alhamdulillah, hal ini terselesaikan sampai… Aku membaca lagi teori tentang metodologi penelitian dan duar! Teknik bertanya dan panduan wawancaraku ternyata agak aneh. Terlalu “kuantitatif” untuk penelitian “kualitatif”. Di salah satu minggu itu, aku menemui dosen untuk “pengakuan dosa” ini. Dan ibunya mengiyakan, ya, aku agak salah. Cepat-cepat aku memperbaiki lagi.
Alhadulillah, selesai. Semua transkrip selesai. 
Bulan Mei. Tiba saat-saat horisonalisasi (tahap kedua analisis data). Aku paham teorinya, tetapi… setelah melihat data, membaca keseluruhan halamannya. Lho, kok aku bingung sendiri bagaimana melakukan horisonalisasi? Secara teori mudah sepertinya, yaitu: baca keseluruhan transkripsi dan tentukan kalimat-kalimat penting dari keseluruhan hasil wawancara. Cari intinya, lalu tentukan apa makna psikologisnya. Masalah besar. Ternyata, sulit sekali membedakan antara kalimat yang penting dengan yang tidak penting. 
Aku butuh bertemu dosen dan aku lakukan itu. Lama menunggu dosen pertama, berkas yang tebal itu aku “curi” dari mejanya (padahal aku sudah sms bahwa aku sudah mengumpulkan berkas) dan kuberikan ke dosen kedua. Aku bertanya bagaimanakah horisonalisasi itu dan sama, jawaban buku diberikan kepadaku. Oke, aku menerima PR horisonalisasi keseluruhan dan beberapa poin Bab 4 yang harus dikerjakan pula. Aku pulang dengan hati galau sekali… Tidak menyangka, horisonalisasi adalah tugas yang besar bagi penelitian kualitatif. 
Besoknya, bu dosen pertama ada di kampus. Belum buat janji, aku masuk saja ke ruangannya dan bilang kalau berkas yang kujanjikan sedang kuperbaiki lagi. Aku cerita soal isi konsultasi dengan dosen kedua, tetapi… arah pembicaraan beralih ke persoalan verifikasi data. Intinya adalah verifikasi data itu harus dilakukan segera setelah wawancara dilakukan dan transkripsi dibuat. Aku bertanya, “Lho, bukannya itu ditunggu sampai seluruh wawancara selesai ya, baru dilihat lagi, baru ditentukan yang kurang mana, yang perlu dicek lagi mana?
Nggak begitu. Baca bukunya, Nak. Verifikasi itu dilakukan seiring dengan pengambilan data. Kalau menunggu wawancara selesai semuanya, kamunya yang kelamaan. Bisa terjadi burn out.” Eh, burn out? Istilah PSDM atau aku salah dengar? “Bukan kamunya, tapi subjekmu! Karena kelamaan, subjek bisa malas ikut penelitian, akhirnya pergi, akhirnya kamu bisa-bisa harus cari subjek baru.
Hmm… HMMM… Itu berarti aku harus mengaku dosa lagi. “Ibu, berarti saya melakukan kesalahan. Saya kira harus selesai dulu semuanya.
Rasanya beraaaat sekali menyadari itu di depan ibu. Seharusnya, horisonalisasi dilakukan sejak awal. Awal sekali, tanpa harus menunggu seluruh wawancara selesai. Dengan begitu aku dapat segera mengetahui data mana yang kurang, keterangan apa yang perlu digali lagi, sejak awal. Buru-buru setelah itu aku membaca transkrip lagi dan benar, ada yang kurang. Di pertengahan Mei aku menemui subjek 1# lagi di tempat magangnya demi wawancara sepanjang 1 jam 9 menit. Minggu berikutnya menyelesaikan triangulasi untuk subjek 2#.
Sekarang, sudah akhir Mei… Sebelumnya, sempat dua minggu lemas karena psikosomatis (stres mempengaruhi lambung), dua minggu berikutnya mengurusi modul pembelajaran Psikologi Islami untuk organisasi, tekanan psikologis lainnya, tugas membuat makalah untuk seminar… Aku ingin bisa mengerjakan skripsi dengan tenang bebas stres!
Akhirnya Jumat lalu aku bertemu dengan seniorku. Mahasiswa angkatan 2004 yang juga sama-sama penelitian kualitatif. Aku cerita derita Bab 4-ku dan terkejut dia bilang, “Oh, sama Dik! Mbak juga stres banget di analisis data.
Aku bingung horisonalisasinya. Bingung menentukan kalimat-kalimat pentingnya.
Oh, sama Dik! Susah, kan? Sampai ragu-ragu terus, tapi akhirnya kita harus tegas. Buang saja kalimat-kalimat yang tidak penting walaupun kelihatannya penting.
Lho, gitu ya? Kan sayang, kayaknya penting.
Bagaimana lagi?
Setelah kejadian itu, entah mengapa, stresku terbang! Oh, rupanya aku cuma butuh curhat dan ketemu orang yang mengalami kesulitan serupa. Haha… begitukah? Tapi, memang itu. Ketika tahu kesusahan ini bukan milikku sendiri, ada beban yang berkurang. Rupanya kesusahan ini memang wajar. Rasanya ingin tertawa dan otakku kembali memikirkan rencana taktis demi bab 4 ini, salah satunya dengan sengaja minta bimbingan meskipun tahu belum siap. Kemudian, kerja keras dari pagi-pagi sampai malam-malam mengerjakan yang belum selesai.
Apalagi kejadian hari sebelumnya dengan teman yang menitikkan air matanya itu karena skripsinya seret… Semangatku bangkit di akhir Mei, tertanggal 29, 30, dan 31. Hah… tinggal besok aku harus bilang apa dalam konsultasi. Semangat semangat! 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s