Diari Skripsi Bag. 13: Aha! Cara “Mudah” Menemukan Makna Psikologis

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/274/Diari-Skripsi-Bag.-14-Aha-Cara-Mudah-Menemukan-Makna-Psikologis

Jun 13, ’11 8:57 AM

Kebingungan menetapkan mana kalimat-kalimat subjek yang penting sebagai data penelitian sudah lewat. Kebingungan cara bagaimana meng-coding data juga sudah lewat, meskipun masih agak maju-mundur juga, dalam artian, “Benarkah kalimat ini intinya adalah ini?” Terima kasih dosen pembimbingku. Terima kasih kesempatan yang Engkau berikan. Meskipun telah terlampaui tiga bulan penuh penyesalan karena tanpa kemajuan, hari ini aku melangkah, mengerjakan tahap analisis data ini dengan penuh semangat.
Bagaimana bisa?
Ya, tahu “cara” itu melegakan. Memang masih jauh dari selesai, tetapi mengetahui cara mengerjakan suatu tugas, tuntutan, atau apapun itu membuat kita lebih yakin dalam memutuskan sesuatu.
Hari ini aku menemukan cara yang cukup praktis untuk menguak makna psikologi dari kalimat-kalimat inti coding data kualitatif. Makna psikologis, untuk mudahnya, dapat dipahami sebagai istilah psikologi bagi perilaku, perasaan, atau pikiran yang diungkapkan subjek penelitian. Misalnya, subjek bilang dalam horisonalisasi, “Setiap saya bingung materi ini, saya cari dosen, saya tanya ke dia.” Itu coding-nya: “Meminta bantuan dosen ketika mengalami kebingungan.” Nah, makna psikologisnya apa? Makna psikologisnya adalah, itu istilahnya “help-seeking behavior”.
Agak rumit ya. Mungkin teman-teman bertanya, mengapa harus dicari-cari istilah lainnya sementara intinya sama? Tapi, memang harus begitu. Kalau tidak begitu, psikologinya nggak bunyi.
Dalam proses mencari dan menemukan makna psikologi ini, banyak sekali mahasiswa yang jatuh-bangun. Prosesnya sungguh maju-mundur dan keragu-raguan begitu normal dan dihargai di sini. Mencari makna sesungguhnya butuh intuisi, butuh kemampuan mengintegrasikan pengetahuan istilah-istilah psikologi dan mencari kesesuaiannya dengan data. Inilah agak susahnya: mencari istilah psikologinya. Daaan, aku mendapatkan insight bagaimana mengatasinya. Ini ni, masukan bagi mahasiswa psikologi yang intuisinya mentok:
1. Perhatikan hasil coding, lihat kata kuncinya.
2. Cari kata kunci tersebut di internet, aku sarankan pakai Google Scholar. Temukan artikel penelitian terkait. Berbahasa Inggris lebih baik karena kosakata dan istilah psikologinya lebih kaya.
3. Baca artikel tersebut dan catat istilah-istilah psikologi di situ yang kira-kira pas dengan atribut penelitian dan kondisi subjekmu.
4. Buat bank istilah-istilah psikologi berdasarkan hasil membaca tersebut. Nah, kata-kata yang terkumpul di simpan.
5. Waktu mencari makna psikologis setelah coding (balik ke proses analisis data), kalau mentok nggak bisa mikir lagi, cari inspirasi di bank istilah.
6. Insya Allah dapat.
7. Kuncinya, mau berusaha mencari dan membaca.
Sekian tulisan hari ini. Anyway, analisis data ternyata sangat menyenangkan. Begitu dinamis, sampai-sampai terbawa tidur. Jadi ingat pengalaman tadi pagi. Pada transisi tidur menuju bangun, bisa-bisanya aku teringat kalimat-kalimat subjek. Ada satu kalimat yang terngiang-ngiang terus dan aku tebak-tebak makna psikologisnya, sambil merem. Aku ulang-ulang agar masih teringat waktu bangun: “Kayaknya ini Self-dissatisfaction, bukan, tapi negative self-reaction… Tapi, itu memang berhubungan.” Hehe… jadi berpikir di alam prasadar.
Begitulah… Semoga bermanfaat bagi teman-teman mahasiswa psikologi yang sedang penelitian kualitatif.😀 Semangat semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s