Diari Skripsi Bag. 14: Top 5 Tantangan Pengerjaan Skripsi

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/278/Diari-Skripsi-Bag.-15-Top-5-Tantangan-Pengerjaan-Skripsi

Jun 16, ’11 9:31 AM

Tantangan pengerjaan skripsi… apa ya?

Tidak ada semangat…
Ini masalah besar, tetapi syukurlah, aku menyadari masalah ketiadaan semangat adalah masalah temporer, masalah sementara. Ya… ini sama saja seperti ada suatu hari di mana kita suka makan, ada pula suatu hari di mana kita muak makan.
Tidak ada semangat itu rasanya… kita tidak punya keinginan mengerjakan skripsi. Kalaupun ada keinginan mengerjakannya, fokus kita mudah terdistraksi (terkacaukan). Misalnya, aku mau mengerjakan skripsi. Sudah buka laptop, tapi ada tidak semangat. Cari yang menyenangkan dulu ah… Aku buka MP. Akhirnya, bisa, tiga jam habis buat posting macam-macam baru kemudian ingat skripsi. Aduuuuh!
Tidak ada semangat itu membuat diri ini sengaja mendistraksi diri ^^ Semakin terdistraksi, rasa bersalah dari “tidak jadi mengerjakan skripsi” bisa semakin besar dan ini tidak menyenangkan. Ini tidak boleh berlanjut… Jadi, kalau mau mengerjakan skripsi, semangat atau tidak semangat, hal-hal menyenangkan di sekitar kita dimatikan dulu: internet, MP, MP3 dengan lagu-lagu pop dkk (diganti murotal Quran saja), cemilan, obrolan, dan sebagainya. Tidak ada motivasi itu obatnya adalah be focus dengan penuh pengendalian diri. Temukan kesenangan mengerjakan skripsi bukan dari hal-hal di luar skripsi😀 Kalau butuh semangat, semangat itu adalah skripsi (!).
Tidak ada kemajuan…
Ini bukan ketidakkemajuan yang membuat orang bisa bilang, “Salah sendiri, skripsinya tidak dikerjakan,” melainkan ketidakmajuan karena memang belum bisa maju. Misal, skripsi kita ditahan-tahan terus karena harus ada perbaikan di sana-sini, karena pembimbing belum sempat mengecek sehingga kita harus menunggu, atau karena materinya susah, bukunya susah, dan hal-hal teknis lainnya.
Kondisi tidak ada kemajuan ditambah ambisi kita untuk maju benar-benar membuat depresi. Rasanya memang benar, skripsi itu bisa jadi stresor yang terasa lebih berat bagi orang-orang bertipe “kepribadian A”, yang hobinya suka buru-buru, tidak sabaran, mencintai target dan ambisi berlebihan, ingin mengalahkan orang lain, dan sebangsanya.
Orang yang seperti ini mungkin akan susah introspeksi ya, melihat ke dalam diri bahwa memang ada yang salah, memang ada yang perlu ditunggu, memang ada yang perlu dipikirkan baik-baik, memang ada yang perlu dimaklumkan… Sulit melihat kemajuan yang sebesar dzarrah (wow!)? Ya, kemajuan sekecil apapun adalah juga kemajuan. Kalau yang dicari adalah yang besar alias yang belum ada, ya sepanjang tahun pengerjaan skripsi stres terus.
Obat bagi pikiran-pikiran macam ini adalah merubah sudut pandang menjadi: “kemajuan adalah kemajuan meskipun hanya sedikit“, “kemajuan adalah kemajuan meskipun wujudnya bukan skripsi, tetapi latihan kebesaran hati“, dan sebagainya. Hidupmu tetap maju, meskipun skripsi tertunda karena hal-hal di luar kendali kita, kita tetap bisa maju dengan mengisi kehidupan dengan ibadah, membaca lebih banyak buku, bergaul dengan lebih banyak orang, dan sebagainya. Temukan kemajuan di aspek kehidupan yang lain. Skripsi is not the only thing in your life.
Tidak ada uang…
Wah, ini susah… karena aku dan beberapa dari teman-teman belum menghasilkan uang sendiri. Masih minta orangtua dan alhamdulillah mendapatkan rezeki dari situ. Masalahku pribadi adalah bukannya benar-benar tidak ada uang, tetapi aku selalu berpikiran “aku harus hemat”, jadi ada atau tidak ada uang, aku harus hemat. Aku harus hemat, makanya tidak ada uang untuk hal-hal yang salah dan remeh.
Aku baru sadar ini baru-baru saja ketika (mungkin ini bodoh ya) aku mengalami banyak dilema seputar pengeluaran uang untuk skripsi. Dilema: Pakai kertas bekas atau kertas baru? Pakai kertas A4 70 gram atau 80 gram? Ini boleh print bolak-balik atau harus satu muka saja? Print semua atau sebagian dulu? Print di rumah atau di rental? Dung dung! Semua itu berhubungan dengan pengeluaran kertas dan print di rental dan tempat fotokopi! Apalagi kalau setelah print banyak lalu setelah dicek lagi ternyata halamannya lupa dicantumkan, ada salah ketik, ada kalimat yang tidak beres… sesal bukan main, mestinya jangan diprint dulu. Aku sayang kertas (karena itu dari pohon-pohon yang ditebang…), aku sayang uang (kertas juga)… Walhasil, kamarku penuh kertas-kertas bekas dengan harapan kertas-kertas itu bisa dimanfaatkan suatu hari nanti. Draft-draft lama selalu kusimpan, entah nanti dipakai lagi, bisa dibuat pesawat-pesawatan, atau lembar menggambar adik.
Semoga suatu hari nanti konsultasi skripsi bisa via email saja atau ditemukan metode pengerjaan skripsi yang ramah lingkungan dan ramah bagi orang-orang yang hemat. Namun, sebelum ini berlangsung, caraku adalah mengerjakan skripsi dengan penuh kehati-hatian dan kecermatan, usahakan sekali jalan sekali jadi sehingga, dan minimalisasikan kesalahan pengetikan dan kesalahan berpikir. Ya benar, skripsi itu butuh strategi.
Tidak ada teman…
Wah, kalau yang ini jangan sampai terjadi. Bukan dalam arti tidak ada teman sehingga kita jadi terlunta-lunta karena tidak ada tempat bergantung (itu namanya ketidakmandirian), tetapi tidak ada teman tempat berbagi cerita, suka-duka, pengetahuan, dan semangat. Ini penting sekali karena kita mahasiswa makhluk sosial. Aku ingin didengar dan aku menyediakan diri untuk mendengarkan orang lain. Orang lain ingin didengar dan kuharap mereka juga dapat mendengarkan.
Maka selama mengerjakan skripsi ini aku bahagia sekali jika bisa bertemu teman-teman di kampus. Berbagi kata “Semangat!” itu menyemangati, tertawa atau sedih sama-sama. Saling membicarakan kemajuan, keterlambatan, teori ini itu, dinamika ini itu, masalah ini itu dan solusinya, buku dan jurnal ini itu… Inilah dukungan sosial yang kita semua harapkan dan juga bisa kita berikan kepada orang lain. Jika kita membantu hamba Allah, insya Allah, Allah akan membantu kita, bukan? Aku tidak tahu kebaikan apa yang dijanjikan-Nya, tetapi perasaan senang yang muncul selama ada bersama teman cukup meredakan stres. Berbagai insight yang didapat sangat melegakan.
Apakah teman-teman juga merasakan hal yang sama?
Tidak ada cerita…
My final assignment is my meaningful moment. Aku masuk perguruan tinggi dengan susah payah, keluarnya juga susah payah. Tapi, aku berhasil masuk dengan perasaan sukses, jadi aku ingin keluar dengan perasaan sukses pula. Ketika sukses itu bisa didefinisikan macam-macam, aku tidak berharap banyak kecuali ingin menghasilkan cerita yang baik untuk diriku sendiri, yang kalau diingat lagi nanti di masa depan, cerita ini akan menyemangatiku untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Hidup itu tidak asal-asalan, bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s