Diari Skripsi Bag. 15: Bergelut dengan Studi F E N O M E N O L O G I S

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/290/Diari-Skripsi-Bag.-16-Bergelut-dengan-Studi-F-E-N-O-M-E-N-O-L-O-G-I-S

Jul 1, ’11 11:23 PM

Grhhh… argghhh… Dengan ini aku menyatakan sebaiknya teman-teman yang sedang penelitian dengan pendekatakan kualitatif terkhusus studi fenomenologis tidak membaca “Diari Skripsi Bag. 13”-ku. Aku sadar, yang aku tulis adalah kesalahan besar dalam memahami analisa data kualitatif.
Jadi, alur cerita yang terjadi pada bulan Juni yang lalu adalah begini. Setelah berstres-stres ria pada bulan Mei (artinya, skripsi nyaris tak tersentuh karena stres), setelah semangat bangkit kembali di dua hari terakhir bulan Mei… lalu masuk bulan Juni… setelah tiga minggu berkutat menganalisa data dengan semangat dan harapan “wah, bisa selesai, nih!”, di minggu terakhir aku sadar bahwa yang kulakukan dalam analisis data juga tak ada benarnya.
Singkat cerita, pada hari itu aku menemui dosen lagi untuk bimbingan. Sebelumnya, aku sudah mengumpulkan hasil kerja analisa dataku. Harapanku, hasil tersebut, meskipun masih sementara, dikoreksi agar aku tahu kesalahanku ada di mana sehingga bisa kuperbaiki. Benar. “Yang ini seharusnya begini… bagini… tidak seperti itu…” Nah, sampai pada statement, “Fenomenologi itu… bagaimana kamu memahami perkataan subjekmu secara psikologis, seakan-akan kamu adalah dia. Makna psikologis yang didapat tidak boleh dipas-paskan dengan teori.
 
Tapi, bagaimana cara sampai ke situ? Aku tahu, dosenku bingung menjawabnya. Bisa kumaklumi karena beliau berkali-kali berkata bahwa beliau juga masih belajar. Beliau memang selama ini lebih dekat ke metode kuantitatif. Nah, bagaimana jadinya? Dosen-mahasiswa masih sama-sama belajar. Aku akhirnya dianjurkan untuk menemui seorang dosen yang baru saja menyelesaikan tesis dengan studi fenomenologis. 
 
Terbanglah aku menemui dosen tersebut. Fakta pun terungkap: tradisi studi fenomenologi di kampus ternyata ada tidak benarnya. Bahkan kata beliau, studi fenomenologis itu bukan jatahnya mahasiswa S1, melainkan S2 dan S3. Mahasiswa S1 itu baiknya studi kasus saja atau studi deskriptif. Apa maksudnya? Aku harus bagaimana? Sudah jalan hampir satu tahun, sudah dapat hampir empat bab, aku tidak mau tidak lanjutkan studi fenomenologis.
 
Akhirnya, aku disodorkan beberapa buku untuk dibaca. Akhirnya bukunya Creswell (2007), Giorgi & Giorgi (2003) dan Moustakas (1994), serta Subandi (2009) aku baca. Tambah browsing studi-studi fenomenologis yang pernah dilakukan untuk melihat contoh analisis datanya. Itu memakan satu minggu dan rasanya membingungkan.
 
Pertama, ternyata aku benar-benar awam tentang apakah fenomenologis itu, baik secara filosofis maupun scientificKedua, ternyata ada beberapa istilah penting dalam fenomenologi yang selama ini salah kupahami. Ketiga, ternyata proses analisis tidak serumit dan semudah yang kukira. Keempat, bagaimana aku akan menemui dosen dengan pengetahuan ini? Kalau ditanya, “Kok, cara analisisnya tidak seperti yang sudah-sudah?“, mungkin akan kujawab, “Itu katanya Pak Creswell, Pak Giorgi, Pak Moustakas, dan Pak Subandi.
Lebih dari itu, ada satu hal yang membuatku lega. Aku sering merasa penelitianku salah di proses pengumpulan data lantaran kesalahanku di tahap pembuatan panduan wawancara dan itu membuatku berpikir untuk mengulang wawancara. Ternyata tidak begitu. Kata Pak Giorgi: “Tidak ada deskripsi (tentang pengalaman yang diteliti) yang sempurna. Yang ada adalah yang adekuat dan yang tidak adekuat.”
Alhamdulillah… kurasa, hasil wawancaraku itu adekuat. Bagaimana tidak jika tebalnya 150 halaman lebih seperti itu?
Lalu, kata-kata dosenku tentang aku harus bisa memahami subjekku seakan-akan aku menjadi dia juga tidak tepat. Manusia tidak akan pernah bisa memahami manusia lain sebegitu sempurna.
 
Akhirnya, aku sudah cukup tahu apa yang seharusnya aku lakukan dalam proses analisis data. Berarti, apa rencanaku setelah ini? Minggu depan UAS. Setelah UAS baru kembali menghadapi skripsi. Ehm… Ya Allah, aku ingin diwisuda bulan Oktober, di sidang paling cepat Agustus, paling lambat September. Aamiin. Semangat, semangat skripsi!

 
PS: Kapan-kapan aku akan cerita tentang apakah fenomenologi itu 
 
Dan, semoga dimudahkan menuju jenjang S2 dan S3. 
 
 
Karena…
 
 
Aku ingin “balas dendam” soal studi fenomenologis ini. 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s