Diari Skripsi Bag. 16: Skripsi dan Gangguan Kesehatan

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/299/Diari-Skripsi-Bag.-17-Skripsi-dan-Gangguan-Kesehatan

Jul 23, ’11 12:24 PM

Skripsi dan gangguan kesehatan, itu ada hubungannya. Aku tidak sedang cerita gangguan psikologis, tetapi gangguan fisik. Gangguan psikologis sih sudah sangat sering kuceritakan. Nah, gangguan ini baru terasa, tepat hampir setahun proses pengerjaan skripsi berjalan. Awalnya tidak kupedulikan, tetapi jelas ini gangguan yang nyata (sebelumnya aku tidak menghubungkannya dengan skripsi).
Yang baru-baru ini terasa adalah badan yang kaku-kaku. Sepertinya, ini karena terlalu banyak  duduk untuk mengetik. Sudah digeliat-geliatkan seperti kucing juga tidak ada perubahan. Sendi-sendinya pada bunyi, tapi sudah ditekuk-tekuk, klik-klik-klik tetap terasa tak berubah.
Yang sebelumnya, hilang nafsu makan. Sebabnya mungkin ini. Setiap kali bosan mengetik, aku pergi ke dapur dan mencari cemilan. Roti, biskuit, buah, susu kotak, gorengan, coklat meses, apa saja yang ada di rumah. Setelah mengemil, balik lagi bekerja. Akhirnya, tidak terasa lapar, tapi aku bertanya-tanya, bisakah skripsi menyebabkan gemuk kalau pola makanku jadi begini?
Yang selanjutnya, gangguan penglihatan. Tampaknya tidak begitu signifikan, tetapi aku mengkhawatirkan mata yang semakin minus. Berjam-jam di depan kompeter, berjam-jam membaca buku dan fotokopian buku dan teori… Bisa saja itu terjadi.
Apa lagi coba? Mungkin teman-teman punya keluhan sendiri-sendiri.
Jika dibandingkan, tidak ada yang lebih enak antara gangguan fisik dengan gangguan psikologis. Tidak ada yang namanya dualisme body and soul. Kau stres, kau sakit. Kau sakit, kau stres. Begitulah. Pernah juga mengalami psikosomatis. Karena stres skripsi yang tidak maju-maju, jadinya kena maag dan mudah flu. Setidaknya sakit kepala dan obatnya tidur, dan itu artinya skripsi tertunda.
Ada lingkaran setan yang lain nih. Skripsi yang tertunda dan rasa bersalah memboroskan waktu untuk hal-hal bukan skripsi membuncah. Respon terhadap target yang tak terkejar dan rasa bersalah itu membuatku memaksakan diri mengerjakan skripsi secara maraton. Artinya, begitulah… mengorbankan waktu istirahat, tidur, makan, bersenang-senang… demi skripsi. Hasilnya juga tidak bagus karena tubuh jadi kelelahan dan kelelahan itu jadi sumber stres.
Akhirnya sadar. Terkait dengan teori pengaturan diri yang kuteliti, yang terpenting itu bukan tercapainya target dengan menghalalkan segala cara, salah satunya berarti dengan menabrak aturan dan anjuran kesehatan baik fisik maupun psikis. 
 
Target dan penjadwalan langkah-langkah mencapainya ada bukan untuk membuatmu tergesa-gesa melainkan teratur, melangkah secara istiqomah, step by step. Kalau tidak dapat cepat, perlahanlah tetapi pasti. Karena semua ada alokasi waktunya, waktunya makan, makan. Waktunya tidur, tidur. Waktunya ibadah, ibadah. Waktunya bersenang-senang, bersenang-senanglah. Waktunya buat skripsi, buat skripsi. Waktunya olahraga, olahraga. Intinya, secukupnya.
 
Kusimpulkan sekarang, gangguan kesehatan itu bisa terjadi kalau kita berperilaku tidak seimbang. Tetapi, faktor-faktor yang lain juga perlu diperhatikan. Kalau makan, meskipun teratur, apa yang dimakan. Ada baiknya pula, ketika terasa gangguan sedikit saja, segera ditindaklanjuti dan jangan menipu diri dengan “it’s okay”. Sesekali keluar rumah untuk penyegaran kembali, bertemu teman dan mengobrol. Masih banyak cara lagi, tetapi sesuaikan itu dengan kebutuhan.
 
Jadi, ayo menjaga kesehatan. Skripsi jalan, badan sehat, jiwa tenang. Tidak lucu jika skripsi kelar, tapi kita malah tepar.😀
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s