Diari Skripsi Bag. 17: Analisis Data dalam Psikologi Fenomenologis

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/302/Diari-Skripsi-Bag.-18-Analisis-Data-dalam-Psikologi-Fenomenologis

Aug 24, ’11 2:01 PM

Hari ini ceritanya tentang analisis data dalam studi psikologi fenomenologis. Akhirnya aku ngerti!
Sebenarnya intinya sama, tetapi antara buku satu dengan buku yang lain menjelaskannya secara berbeda. Jadi, Juni-Juli kemarin pekerjaanku adalah mengumpulkan literatur yang bisa kutemukan untuk menemukan benang merah “bagaimana menganalisis data dalam studi fenomenologis”. Ternyata, banyak sekali hal yang tidak kutahu sebelumnya. Pertama adalah tentang fenomenologi itu sendiri. Kita akan bicara tentang filsafat karenanya.
Dikemukakan pertama kali oleh Edmund Husserl pada tahun 1900. Fenomenologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani “phainomenon” dan “logos” sehingga berarti studi tentang pengalaman manusia dan tentang cara yang dengannya suatu hal dipahami sebagaimana ia tampak pada kesadaran. Dikaitkan dengan psikologi, maka psikologi fenomenologi adalah deskripsi yang kaya tentang pengalaman orang-orang sehingga dari pengalaman tersebut dapat diketahui aspek-aspek spesifik dari pengalaman orang-orang tersebut (Langdridge, 2007).
Jadi, bisa dibayangkan apa yang tengah dikerjakan olehku dan mahasiswa lain yang mengambil skripsi sejenis. Kami mewawancarai beberapa orang untuk mendapatkan cerita mereka tentang suatu pengalaman. Pengalaman dari beberapa orang tersebut kemudian kami cari esensinya, apa sih kesamaannya secara psikologis.
Pada awalnya, aku merasa ini mudah. Ternyata tidak. Sangat butuh belajar dan aku sadar penelitian pertama tidak akan sempurna. Ada beberapa teknik yang perlu dipahami lalu diamalkan:
Pertama, epoché (baca: aepockay). Dalam bahasa yang Qur’ani, mudahnya semacam hindari “prasangka dan omongan orang terdahulu” yang dapat mencemari pengetahuan yang sebenarnya. Wah, aku beruntung, karena konsep ini tidak sulit untuk dimengerti. Kita hanya diminta untuk menjauhkan diri dari asumsi-asumsi, prasangka-prasangka, pengetahuan sebelumnya, teori, atau apapun itu yang membuat kita jadi sok tahu tentang pengalaman yang diteliti karena yang mau kita cari lewat penelitian adalah deskripsi suatu pengalaman yang benar-benar menggambarkan pengalaman itu. Dengan epoché, kita bisa mendapatkan banyak fakta baru yang mencerahkan karena kita tidak terkurung dalam asumsi-asumsi kita.
Kedua, reduksi fenomenologis. Ketika melakukan reduksi, kita mulai berusaha memahami setiap kalimat yang diucapkan si empunya pengalaman. Kita mencari memahami kalimat tersebut untuk mengetahui mana kalimat yang relevan dan penting, mana yang tidak dengan pengalaman yang diteliti. Misalkan, kita sedang meneliti tentang pengalaman menjadi ibu rumah tangga, kalau partisipan penelitian kita dalam ceritanya juga menceritakan kalau tadi dia bersin (tidak ada hubungannya), maka cerita bersin itu kita buang. Jadi ini seperti main “buang, buang dan buang”, tapi hati-hati. Ingatn epoché, jangan sembarangan buang-buang.
Ketiga, variasi imajinatif. Yang ini seru, karena pada tahap inilah psikologi bermain. Setiap kalimat penting yang diucapkan masih diucapkan dengan bahasa sehari-hari orang awam, tapi kita yang belajar psikologi tentu akan memahaminya itu secara berbeda. Di sini kita perlu bervariasi dan berimajinasi, “Ini maksudnya secara psikologis apa ya?” Pada tahap ini, orang bisa berbeda-beda imajinasi. Misalkan penelitiannya adalah penelitian agama, tentu ia akan bertanya, “Ini maksudnya secara psikologis Islam apa ya?” atau jika itu sosiologi, “Ini maksudnya secara sosiologis apa ya?” Pada tahap ini dilarang menggunakan istilah-istilah psikologis yang sudah ada di buku.
Begitulah… Ini masih setengah jalan. Setengah jalan yang berikutnya:
Menemukan ESENSI. Ketiga proses di atas hanya membuat kita memahami pengalaman individual dari sekelompok partisipan. Esensi adalah “apa yang sama dan mendasar yang dialami semua partisipan”. Caranya:
Kupikir dirahasiakan dulu.😀 Karena aku sendiri belum sampai pada tahap ini. Nanti, kalau sudah selesai, aku akan menulis lagi. Kalau sudah mengalami, sepertinya tulisanku nanti akan lebih bisa membumi.
Referensi:
Langdridge, D. 2007. Phenomenology Psychology: Theory, Research and Method. Harlow: Pearson Prentice Hall.
Dan beberapa lainnya.
Selamat bekerja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s