Diari Skripsi Bag. 18: Selamat Ulang Tahun, Skripsiku :D

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/305/Diari-Skripsi-Bag.-18-Selamat-Ulang-Tahun-Skripsiku-D

Sep 13, ’11 8:23 AM

Terhitung per September 2011 ini, skripsiku genap berusia satu tahun. Woow, perjalanan ini ternyata panjang. Tidak kusangka, karena pada awalnya aku bermimpi bisa lulus 3,5 tahun dan memecahkan rekor, ternyata aku sendiri menjadi mahasiswa yang membuktikan “mitos” di kampus: mahasiswa psikologi lulusnya lama >.< Memang benar, yang bisa lulus 3,5 tahun hanya satu orang per angkatan, 4 tahun itu tidak ada 10 orang, 4,5 tahun juga sepertinya tidak banyak…
 
 
Rasanya gimana ya? Pada awalnya aku kesal pada diriku sendiri. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, bekerja secepat yang aku bisa, tetapi banyak sekali hambatan yang bertebaran, baik dari dalam diriku sendiri maupun dari luar. Pada akhirnya, aku cukup bersyukur, setidaknya aku terlambat lulus bukan karena aku malas mengerjakan, tetapi memang ada batas dan hambatan yang tidak dapat ditembus sebelum waktunya, ada proses yang harus dijalani sehingga batas dan hambatan itu bisa runtuh dengan sendirinya. Pada titik ini, aku menyadari keajaiban sabar dan istiqomah dalam mengerjakan skripsi.
 
Pada hari ini aku mau melakukan kilas balik (haha… aku suka kilas balik!).
 
Satu semester = Satu bab, bab 1
 
Kayaknya ini kelewatan, kupikir. Satu bulan (September) untuk mengurus berkas. Satu bulan (Oktober) untuk ganti judul. Satu bulan (November) untuk survey. Satu bulan (Desember) untuk bab 1. Jelas, tidak ada teori yang bisa menjelaskan bagaimana bisa dosen-dosen berharap mahasiswanya lulus 3,5 tahun. Apa yang kukerjakan di mata kuliah TPS (Teknik Penulisan Skripsi) tidak terpakai, padahal itu seharusnya bisa membuatku langsung bekerja, lompat ke tahap mengumpulkan data.
 
Aku berharap banyak dan rasanya terpukul sekali setelah dosen memintaku mengganti judul. Rasanya kesaaaal dan aku bertanya-tanya kenapaaaa. TPS-ku dapat nilai A, bu. Tapi apa pedulinya dengan nilai TPS. Kalau nggak beres ya nggak lewat. Kalau begini, artinya aku rugi satu semester (semester sebelumnya) plus dua bulan, September-Oktober ini. Aku dapat opsi, tetap di judul yang sama tapi tambah subjek dan ganti metodologi jadi penelitian kuantitatif atau ganti judul dan ganti subjek yang lebih fenomenal dengan metodologi yang sama. Aku pilih yang kedua dong, karena seketika itu juga aku berpikir dan menemukan jawabannya. Aku sudah punya calon subjek yang oke dan dekat sekali denganku, yaitu: Mawapres (Mahasiswa Berprestasi).
 
Jadi deh, judul skripsiku: Regulasi Diri Mahasiswa Berprestasi. Awalnya aku tidak sadar “hadiah” apa yang akan kuterima dari keputusan itu. Kejutannya ada di semester berikutnya.
 
Liburan semester = Satu bab lagi, bab 2
 
Dengan perubahan judul, otomatis aku harus mengubah isi bab 2 yang sebelumnya sudah kususun. Sayang, sih, karena itu sudah menghabiskan lebih dari 50 halaman. Aku mengerjakannya waktu liburan (Januari – Maret) di sela-sela waktu magang. Ini proses yang, alhamdulillah, mudah karena aku sudah berkutat dengan variabel psikologi ini sejak satu tahun yang lalu. Buku-bukunya sudah ada dan aku punya cukup artikel penelitian yang bermanfaat. Syukurlah, bisa selesai.
 
Satu semester = Satu bab (lagi!), bab 3
 
Aku benar-benar berharap setelah ini semua berjalan lancar. Setelah Maret – April kuisi dengan pengumpulan data yang menyenangkan, aku mulai mengendus adanya masalah di bagian metodologi. Awalnya gara-gara aku bertemu seniorku dan dia bercerita bahwa ia menggunakan metode analisis yang lain karena yang selama ini diajarkan di kampus ada yang kurang tepat. Dalam hati aku berkata, “Masak sih? Aku merasa baik-baik saja.” Terang, pengalaman hari itu berusaha kuabaikan.
 
Masalah benar-benar terasa nyata ketika proses bimbingan mulai terasa menyebalkan. Dosenku yang satu lagi berkali-kali berkata memang ada yang salah dengan pengajaran selama ini, tapi beliau tidak mampu memberikan penjelasan yang memuaskanku, apa masalahnya yang sebenarnya dan apa yang seharusnya kulakukan. Berulang kali aku mengulang proses analisis data dengan perasaan frustrasi dan aku tetap merasa  aku telah berbuat kesalahan. Aku merasa tidak bisa kembali ke meja bimbingan dengan cerita macam ini karena setelah itu aku sadar bahwa masalah sebenarnya adalah aku sendiri. Aku mengentengkan studi fenomenologi, sehingga aku menutup diriku pada kemungkinan bahwa aku harus membaca lebih banyak buku lagi.
 
Pada Juni – Juli, menjelang semester kedua berakhir, kuucapkan selamat tinggal pada target lulus bulan Oktoberku. Aku benar-benar berburu buku dan mulailah perjalanan baru memahami fenomenologi, baik metode ilmiah maupun konsep filosofisnya.  Bagaimana rasanya? Ternyata proses mencari ini begitu menyenangkan. Allah memudahkan aku dalam menemukan apa yang aku cari. Karena ini, aku berterima kasih pada seorang dosen, perpustakaan dan internet😀
Di akhir semester aku belajar bahwa pertama, janganlah biarkan keraguan selamanya menjadi keraguan. Setiap kali ada yang mengusik hati, segeralah cari kejelasannya dan kepastiannya. Setidaknya itu menghindarkanmu dari perasaan terombang-ambing dan kesalahan-kesalahan berikutnya. Kedua, terkadang orang yang kau harapkan membantumu memang tidak dapat berbuat banyak sehingga kau harus mengandalkan dirimu sendiri dan meminta pertolongan pada Yang Mahatahu. Ketiga, setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Ya, satu tembok hambatan sudah kuruntuhkan. Aku bisa masuk proses analisa data dengan langkah yang mantap.
Liburan semester = Analisa data (trial and error stage)
 
Aku sudah lebih paham, aku bisa lebih pasti. Tapi, karena tidak ada yang bisa memberikanku informasi bagaimana wujud analisis data fenomenologi yang sebenarnya, jadi sepanjang liburan aku banyak mencoba-coba berdasarkan apa yang aku pahami dari buku.
 
Ini proses yang butuh kesabaran, tinggi. Pertama, Ramadhan. Kedua, musim kemarau. Ketiga, kamarku seperti oven. Keempat, datanya berpuluh-puluh halaman. Kelima, aku masih coba-coba salah. Kalau kusimpulkan, masa liburan itu kuhabiskan dengan banyak mengeluh dan menyadari apa yang salah dari proses coba-coba. Tapi, secara umum, semuanya menyenangkan. 
 
Semester ini = Bisakah aku sidang skripsi bulan November nanti?
 
Aku masih menyisakan PR yang kuharap bisa selesai dalam bulan Septemberku yang kedua ini. Menyelesaikan analisa data dan menyelesaikan bab 4. Selanjutnya, bulan Oktober adalah bulannya bab 5 (pembahasan) dan bab 6 (kesimpulan). Aku tidak bisa menebak masa depan, apa yang akan terjadi. Tapi, semoga segalanya lancar dan mudah, dan aku kuat. Orangtua dan keluarga sudah ingin aku segera wisuda, bahkan aku sendiri sudah ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Ya Allah, aamiin.
 
***
Di akhir ini, aku teringat sebuah kenangan pada Januari 2010. Waktu itu, aku memutuskan pulang dari kampus dengan jalan kaki. Aku tidak tahu sebelumnya, aku melewati Gedung Sudharto yang menjadi gedung wisuda universitas dan melihat banyak mahasiswa memakai toga. O, sedang gladi bersih. Aku hanya mengamati mereka, lalu mengambil gambar dan membuat pesan pada diriku sendiri, pada Januari tahun depan (2011) aku akan seperti mereka. Tahun depan bagi saat itu memang sudah lewat, tetapi bagi saat ini akan segera menjelang (tahun 2012). Semoga dalam perjalanan ini, aku bisa sampai tepat pada waktunya😀
 
Huaaaa… ini mengharukan bagi diriku sendiri. Semangat semangat! Selamat ulang tahun, skripsiku. Terima kasih pula pada teman-teman yang sudah satu tahun pula mengikuti cerita dalam “diari skripsi series”. Terima kasih atas dukungannya. Tapi, tak ada yang lebih besar dari pada rasa syukur kepada Allah atas segalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s