Diari Skripsi Bag. 20: “Ya Rabb, Aku Mau Lulus”, A Short Story

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/329/Diari-Skripsi-Bag.-20-Ya-Rabb-Aku-Mau-Lulus-A-Short-Story

Nov 26, ’11 8:02 PM

Kalau sekarang sih rasanya mau ketawa-ketawa saja. Merasa tolol. Episode (mau) menangis di depan laptop sudah lewat. Aku belajar menguasai diriku untuk bangkit lagi dari kondisi down. Meskipun statusnya tetap sama “skripsi belum selesai”, semua yang terjadi, sampai akhirnya sekarang bisa merasakan ketenangan, terasa menakjubkan:
 
Merasa betul jadi manusia biasa. Mungkin aku, kita semua, memang perlu sekali-kali “dijatuhkan” sedemikian rupa agar bisa merasakan ini.
 
Jadi, ceritanya adalah beberapa minggu yang lalu (atau bulan lalu ya?), adik kelasku memintaku membuat cerita pendek. Wah, kebetulan, aku sedang ingin berbagi soal pengalamanku mengerjakan skripsi. Ini cerita yang pendek saja. Selamat membaca😀
 
***

Ya Rabb, Aku Mau Lulus…

            “…tidak terasa ini semester terakhirku,” ujarnya. “Eh, lihat!” Bersama dengan beberapa mahasiswi lainnya yang duduk berkumpul mengantre bertemu dosen, aku melihat serombongan mahasiswi yang lebih senior berjalan melewati kami. Di antara mereka, seseorang berpakaian resmi dan bergaya. Teman-temannya membawakan dua kardus tebal berisi kertas-kertas bernama skripsi. Mereka bercakap-cakap pelan, sesekali tertawa.

“Mbak itu habis sidang!” Heboh. “Wah, sebentar lagi, sebentar lagi aku. Nggak sabar lagi!” serunya.

“Kapan? Kapan sidangmu?” tanya yang lain.

“Februari atau Maret ya…” jawabnya. “Pokoknya secepatnya deh.”

Itu artinya dia akan jadi lulusan tercepat di angkatanku. Aku menatap kertas di tanganku. Masih beberapa mata kuliah lagi, desahku dalam hati. Tidak mungkin membiarkan nilai-nilai C itu tanpa perbaikan. Percuma lulus kalau IPK tidak bisa di atas 2,75. Tapi, ingin juga segera membuat skripsi…

“Sekarang tinggal apa?”

“Bab terakhir! Akhirnya, akhirnya!”

Seorang mahasiswa keluar dari ruang dosen dengan wajah cemberut. “Giliran siapa?”

“Aku!” jawab mahasiswa “bab terakhir” tadi dengan semangat. Dia buru-buru bangkit, penuh semangat dengan wajah sumringah. “Aku duluan, teman-teman.” Dia melambai dan menghilang ke dalam ruangan.

“Bapaknya sedang bad mood,” kata mahasiswa yang baru selesai bimbingan skripsi tadi dengan nada tertekan. Dia mengambil duduk di sebelahku. “Capek,” gumamnya.

Aku melihat map plastik besar dengan kertas-kertas di dalamnya. “Itu bab berapa?” tanyaku ingin tahu. “Itu tebal.”

“Ini terjemahan buku. Aku masih bab satu. Haduh, nggak maju-maju, padahal sudah satu semester lewat.”

“Kenapa emangnya?” tanyaku.

“Katanya masih ada yang belum bagus. Aku jadi bingung sendiri. Belum baguuus terus. Bosan deh.”

“Aku nggak begitu ngerti soal skripsi sih, kayaknya susah… ya?” tanyaku hati-hati.

“Mustinya sih enggak kayak gini susahnya.” Dia menoleh padaku. “Lha, kamu ngapain? Mau bimbingan juga? Dengan siapa dosennya?”

“Enggak, minta tanda tangan doang.” Aku menunjukkan kartu rencana studiku. “Belum boleh ambil skripsi semester ini.”

“O, masih perbaikan… Sorry.” Dia tampak merasa tidak enak hati.

“Haha, nggak papa. Pasti jadi lebih mudah kuliahnya. Eh, bagaimana rasanya ngerjain skripsi?”

“Streeees.”

“Berarti memang susah.”

“Karena kerasa ini benar-benar ujian terakhir sekaligus terberat,” jawabnya singkat. “Baca buku dan jurnalnya itu lho. English semua! Dan banyak. ”

Aku teringat IPK dua koma-ku. Salah satunya karena mata kuliah bahasa Inggris yang dapat C. Aku menelan ludah. Entah bagaimana, pikiranku menjadi buruk. Aku merasa baru bisa lulus dua atau tiga tahun lagi dari sekarang.

“Aku tahu ini jelek sih. Keluhan-keluhanku mungkin malah bikin kamu tambah susah. Tapi, pengen banget bisa ngeluh kalau skripsi ini susah karena memang susah.”

“Nggak papa, aku bisa bantu dengan mendengarkan kok,” kataku meyakinkannya. “Nasib orang memang beda-beda. Pengen juga bisa lulus cepat, tapi aku sih memang bisanya begini, kamu begitu. Jalani saja deh… Kerjakan yang bisa dikerjakan.”

“Harus semangat! Memang kecewa dengan semua ini sih, tapi kadang aku merasa lebih tenang kalau berpikir semua ini pasti ada hikmahnya. Kalau sabar jadi pahala, kerja keras juga jadi pahala, rasanya semua ini tidak akan sia-sia… Semoga.”

“Yeah, the power of positive thinking.”

“Meskipun kadang-kadang iri juga dengan yang bisa lulus cepat…”

Pintu menjeblak terbuka. Si wajah sumringah itu muncul lagi. Dalam hati, aku bertanya kapan bisa berwajah sumringah seperti itu juga. Dia berhasil. Dia sudah kerja keras.

            “Bagaimana? Bagaimana?” tanya teman-temannya, mendesaknya untuk cerita.

            “Belum tahu sih, habis dilihat sebentar, disuruh ditinggal dulu, tapi aku optimis!”

            “Waaah… Selamat!” Heboh.

“Kayak dia?” tanyaku pada teman bicaraku tadi. Dia diam saja dengan wajah yang masih cemberut.

            “Aku pulang duluan, ya. Udah dijemput nih, mau bilang ke ortu juga.” Dia cepat-cepat mengambil tas tangannya yang tadi dititipkan ke teman-temannya.

Aku tersenyum untuk diriku sediri. Insya Allah, insya Allah ada waktunya. Meskipun mungkin masih lama, insya Allah aku juga akan seperti di– “EEEEEEH?!”

            “…aaaaaAAAAAAAA…”

Ceritanya adalah dia tidak melihat ada tangga di depannya waktu asyik melambai…

***

You got it?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s