Diari Skripsi Bag. 2: Bab I di Bulan ke-3

Nov 21, ’10 10:22 AM
Tidak disangka, ya Bab I skripsi ternyata bisa menghabiskan waktu hampir tiga bulan untuk penyelesaiannya. Masalah pertama adalah pergantian judul, kedua adalah kebutuhan untuk survei awal, dan ketiga adalah munculnya hal-hal yang mendesak dan penting secara tidak disangka-sangka. Tetapi, bukan itu masalah besarnya. Masalah besarnya sudah lewat ketika aku berhasil mengalahkan keraguan dalam memilih topik dan judul. Skripsimu tidak akan berjalan ke mana-mana jika kau bingung tujuan penelitianmu apa dan mengapa, bukan?
Ini dia perbedaan orang dalam memilih judul untuk skripsinya. Ada yang ambil mudahnya saja dengan langsung mengkorelasikan faktor dengan variabelnya. Tetapi ada yang lebih rumit lagi ketika ingin menjadikan tugas terakhir ini sebagai sesuatu yang sangat personal, mulai dari topik yang orisinal, penuh makna dan perjuangan. Untuk yang pertama akan mudah saja, tetapi untuk yang kedua… kau harus rela tidak lulus 3,5 tahun. Bukan karena kau malas, tetapi karena memang itulah waktu yang kaubutuhkan.
“Bab I di bulan ke-3” bukan masalahku seorang. Teman-temanku juga begitu. Di kondisi begini aku jadi meragukan keberhasilan cita-cita mulia mata kuliah Teknis Penulisan Skripsi alias TPS di semester lalu. Ketika mengambil mata kuliah tersebut, kami mahasiswa dikejar-kejar untuk bekerja layaknya itu skripsi betulan dan betul-betul akan dilanjutkan ke skripsi. Dengan cara kuliah seperti itu, S1 akan berhasil dituntaskan dalam waktu 3,5 tahun.
Bagiku itu tidak masalah karena stres yang ditimbulkan sama saja seperti kuliah-kuliah di semester sebelumnya. Tetapi ada sesuatu hal yang aku ingin pihak fakultas, dosen, dan mahasiswa perhatikan. TPS itu bukan skripsi dan skripsi itu bukan TPS. TPS yang dijadikan seperti skripsi itu menghilangkan kesempatan mahasiswa untuk belajar baik-baik tentang cara memilih judul yang baik, metode penelitian, cara menulis, cara mengambil data untuk survei awal, cara memilih dosen pembimbing, teknis skripsi lainnya, cara menumbuhkan keyakinan, dan sense of responsibility pada tugas, misalnya dengan pemberian materi manajemen diri selama skripsi. Fokus mahasiswa di kuliah TPS menjadi lebih kepada mengejar target dosen yang ingin mahasiswanya lulus dalam waktu 3,5 tahun daripada target pemahaman dirinya sendiri tentang cara efektif dan efisien menempuh skripsi. Yang terjadi kemudian adalah mahasiswa lulus TPS dengan tidak begitu paham dan ketika benar-benar mengalami skripsi, dia perlu belajar lagi tentang skripsi. Benar-benar buang-buang waktu.
Hal yang konyol pernah terjadi di salah satu kelas, seperti: minggu 1 adalah mencari judul. Minggu 2 adalah Bab I selesai. Minggu 3 adalah Bab II selesai dan minggu 4 Bab III selesai. Kenyataannya adalah mahasiswa tidak dapat bekerja selancar itu. Di samping TPS, mahasiswa masih punya seabrek mata kuliah lain dan aktivitas organisasi yang penting pula. Pembagian waktu tidak bisa lebih menganakemaskan TPS sehingga tidak ada kesempatan untuk survei awal, menentukan judul dan mencari teori yang sungguh-sungguh. Lagi-lagi, semua itu hanya untuk memenuhi kehendak dosen. Sekalipun wujud proposal skripsi hasil TPS ada, semua itu menjadi tidak berguna ketika dosen pembimbing yang lebih jeli mulai mengobrak-abrik proposal tersebut. Akhirnya, tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya ganti judul dan memulai dari awal karena kesalahan dan kekurangpahaman tidak terdeteksi sejak TPS.
Skripsi itu tugas terakhir yang unik, tidak seperti mata kuliah yang lain. Tugas terakhir ini benar-benar menguji kemampuan mahasiswa dan sepanjang mahasiswa-mahasiswa masih memiliki kemampuan individual yang berbeda, hasil skripsi secara kualitas dan kuantitas juga akan berbeda. Kupikir, kekhawatiran dosen (entah ada ataukah tidak) pada mahasiswa yang lulus mepet DO atau lebih dari empat tahun, kurang tepat diatasi dengan memberikan target waktu lulus yang kurang realistis pada mahasiswa (dan stres itu dimulai di TPS). Lebih tepat jika mengantisipasinya dengan suntikan pengetahuan dan keterampilan manajemen diri agar skripsi mahasiswa sekalipun diselesaikan secara lambat, itu bukan karena ia malas, tetapi karena memang ia butuh waktu yang agak lama, misalnya disebabkan dia punya peran sosial lain yang harus diperhatikannya. Dengan begitu, mahasiswa lulus karena dirinya sendiri ingin lulus dan berhasil, bukan untuk dosennya. Bukankah dunia kampus tidak hanya tempat bagi intelektualitas, tetapi juga pengembangan diri?
Bab I di bulan ke-3… sungguh aku berharap dengan manajemen diri yang baik, satu minggu ke depan sudah dapat menginjak ke Bab II. Ada banyak hal yang Allah kehendaki sehingga satu bab ini saja menghabiskan waktu satu bulan. Aku tidak akan menganggap ini kegagalan sekalipun sedikit meresahkan. Dalam satu minggu ke depan, aku harus berjuang menghadapi asistensi di mata kuliah mahasiswa semester V dan bulan depan juga berkutat dengan detik-detik terakhir kepengurusan organisasi di tahun ini.
Wow, jika aku berhasil melewati ini semua… Hebat! ^^b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s