Diari Skripsi Bag. 23: “10:30:30:30”

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/349/Diari-Skripsi-Bag.-24-10303030

Feb 23, ’12 6:22 PM

Akhirnya, aku termasuk jadi mahasiswa yang mengalami hal ini. Membuat surat permohonan perpanjangan masa pengerjaan skripsi. Yang seperti ini ternyata ada dan sekarang aku menulis ini dengan perasaan… mungkin bisa teman-teman semua duga.
 
Ceritanya adalah sejak satu bulan yang lalu, diumumkan bahwa para mahasiswa yang sudah satu tahun lebih skripsinya belum selesai diundang oleh PD 1 dan biro skripsi untuk berkumpul dan itu terjadi kemarin. Aku datang paling dulu gara-gara salah menerima informasi waktu acara. Hahaha… rasanya makin tua jadi mahasiswa makin tidak perhatian sama acara-acara.
Rupanya acara hari itu adalah montoring dan evaluasi pengerjaan skripsi. Pada intinya, kampus seperti mau bertanya, “Kok anak ini nggak lulus-lulus?” Dibagikan empat berkas yang harus diisi, satu biodata terbaru, satu kuesioner hambatan dan kendala mengerjakan skripsi, satu lembar kesepakatan bersama strategi menyelesaikan skripsi (ditandatangani dosen pembimbing), dan satu lagi surat permohonan di atas, ditandatangani dan bermaterai. Serius.
Persoalan strategi sebenarnya tidak asing. Cuma, sejak awal mengerjakan skripsi strategiku patah di jalan. Ada hantaman masalah macam bingung metodologi, stres, terdistraksi, dan sakit, menghancurkan strategi-strategi itu. Ketika dikatakan semua yang diminta agar mahasiswa isi untuk mendorong agar mahasiswa meregulasi dirinya dalam menyelesaikan skripsi, aku miris, lho ini seperti skripsiku saja. Skripsiku tentang regulasi diri dan aku sadar sedang gagal meregulasi diriku sendiri.
 
Aku mengisi berkas itu dengan tulisan seadanya saja dan aku terantuk pada satu item di kuesioner. “Dari beberapa hal berikut ini (keluarga, dosen pembimbing utama, dosen pembimbing pendamping, diri sendiri, dan lain-lain) berapa persen kotribusinya sebagai penyebab skripsi belum selesai?” Lho, susah jawabnya
 
Secara teoritis, item yang semacam ini benar-benar mengukur kualitas kemampuan regulasi diri, mengukur determinasi diri… Aku memahami yang ideal itu, tapi tampaknya aku begitu merasa susah dan aku ingin sekali jujur bahwa beberapa bulan terakhir ini aku banyak menyalahkan banyak.
 
10 % keluarga. Aku menyalahkan ibu yang terus-terusan menanyakan kapan skripsiku selesai dan omelannya yang membuatku semakin stres. 30% dosen pembimbing utama. Aku menyalahkan beliau yang tampak tidak peduli, melepaskanku mencari jalan keluar sendiri atas persoalan metodologi, membimbing tanpa terasa bimbingannya. 30 % dosen pembimbing pendamping yang juga sama saja. 30% aku sendiri. Aku yang tidak paham-paham masalah metodologi, tidak percaya diri menghadapi hasil penelitianku sendiri, sulit keluar dari stres, dan mungkin terjebak dalam perfeksionisme.
 
Tapi, angka-angka di atas benar-benar tidak mewakili karena aku tidak bisa memutuskan siapa yang paling bersalah di sini. Sejauh ini aku sudah berusaha bertahan dan melakukan yang terbaik. Tapi aku ingin objektif bahwa jika aku belum selesai bukan murni kesalahanku. Aku ingin mereka sadar kesalahan yang dibuat mereka padaku dan ingin mereka berubah. Setelah berpikir begitu, aku sadar kalau aku marah pada keadaan.
 
Aku mengumpulkan kuesioner itu dengan perasaan campur aduk. Sedikit-sedikit aku mulai merasa lebih baik dan merasa aku harus bergerak. Di akhir acara aku menemui dosen yang cukup kupercayai untuk membantuku mengatasi masalah ini dan berbincang dengannya. Aku ingin menanyakan seberapa wajar kesusahan yang kualami ini. Apakah studi fenomenologi memang susah begini? Dan beliau mengatakan, sebenarnya bukan susah, tetapi membutuhkan kesabaran untuk bersedia memahami dan menjalaninya. 
 
Baru sebentar berbincang, tiba-tiba datang seorang mahasiswa yang menyela dengan begitu mudahnya. Dia sedang kesal karena, karena sesuatu hal terkait acara yang baru selesai, ia gagal mengejar targetnya memfotokopi skala untuk try out penelitian yang sedianya, menurut jadwalnya, harusnya sudah selesai di pertengahan Februari. Dia langsung curhat saja. Karena dosen pembimbingnya yang tidak konsisten dalam proses bimbingan, ia merasa terhambat dan tidak bisa bergerak cepat. Sama seperti aku dulu, inginnya cepat, cepat, dan cepat.
 
Panjang dia bicara tentang dosen pembimbingnya sebagai sumber masalahnya. Ia merasa sangat dirugikan, terlebih karena ia mentarget harus lulus April nanti. Karena masalah ini, ia kehilangan harapan bisa lulus April dan kehilangan harapan terkait order bekerja apaaa gitu. Ia membandingkan dirinya dengan teman-temannya dan tampak ingin sekali dipahami dan disetujui sikapnya. “Aku sudah kehilangan sesuatu dan aku mau marah sekarang”. Sama seperti aku, aku juga sudah kehilangan banyak. Aku paham perasaan dan pengalaman semacam itu karena aku juga mengalaminya.
 
Si ibu… begitu tenang dan sedikit tersenyum berkata, kayaknya ada yang perlu kamu pikir ulang, renungkan. Sambil mendengarkan, aku mengingat pengalaman mengerjakan skripsiku sendiri. Karena berinteraksi berbulan-bulan dengan hasil wawancara subjek penelitianku, jawaban si ibu menjadi sangat tidak asing. Aku tidak ingat lagi detilnya, tapi selanjutnya kurang lebih begini.
 
Ini butuh keimanan, bahwa apapun yang terjadi, termasuk kegagalan, adalah yang terbaik dari Allah. Pasti di balik semua yang terjadi pasti ada sesuatu, hanya saja kita manusia tidak mengerti sesuatu itu apa. Semua ini menguji kita dan semua orang punya ujiannya sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuannya. Kita tidak bisa berpikiran bahwa diri kitalah yang paling menderita. Sebaliknya, ada banyak hal yang bisa kita syukuri dan itu membuat kita merasa lebih baik. Persis dengan apa kata kedua subjekku. Dan aku merasa aneh… rupanya aku belum banyak belajar meskipun telah meneliti dan menghasilkan ketikan setebal itu.
 
Dan tiba-tiba terang… mengapa menyalahkan hal-hal di luar diri itu “tabu”, termasuk dalam psikologi, untuk suatu masalah yang aslinya disebabkan oleh diri sendiri. Kenapa aku tidak bicara baik-baik, menjelaskan duduk persoalan skripsiku, agar ibu dapat memahami mengapa skripsiku lama dan masalahnya apa? Kenapa aku tidak berusaha lebih percaya pada dosen pembimbingku dan menemui mereka untuk membahas kesulitan-kesulitanku? Kenapa aku terjebak pada konsepsi aku bisa menghadapi ini sendirian, menyelesaikan ini dengan baik tanpa bantuan orang lain? Kenapa aku tidak bisa membuat diriku melakukan semua itu? Ada banyak pertanyaan kenapa lainnya.
 
Dari merasa benar, tidak mau disalahkan, merasa salah, dan menyadari kesalahan… Mungkin ini yang dimaksud dengan menipu diri sendiri itu. Di tengah jalan pulang, ingin sekali mengubah isi kuesioner itu dan bertanya, sungguhkah akan ada sesuatu setelah ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s