Diari Skripsi Bag. 25: PERTAHANKAN !!!

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/353/Diari-Skripsi-Bag.-26-PERTAHANKAN-

Mar 29, ’12 5:05 PM

Sebenarnya sudah hampir mau nggak mau nulis tentang ini. Tapi, topik ini sangat mempengaruhi. Selama satu jam pulang dari kampus tadi, tidak (bisa) berhenti aku memikirkannya. Topik ini cukup emosional dan aku gerammm. Seiring dengan waktu, lama-lama hal-hal berkaitan dengan sidang dan kelulusan akhirnya mencuat juga. Hal yang paling menarik adalah mendengar kisah sidang. Lho, nggak ada enaknya (kok?)?Sebenarnya, mungkin, yang paling diinginkan oleh semua mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi adalah rasa dihargai.

Kadang-kadang penghargaan itu sendiri memang belum pantas untuk diterima karena satu dan lain sebab, karena minimnya kemampuan, memang belum bisa, atau karena karyanya memang biasa-biasa saja atau tidak memenuhi standard kualitas skripsi yang baik, sempurna. Tapi, dalam diri kita yang paling buruk pun selalu ada keinginan untuk dikuakkan bahwa ada yang baik pada diri kita.

Dalam mengerjakan skripsi, aku tidak tahu banyak hal, tapi sampai detik ini yang paling aku tahu adalah aku bekerja keras; aku tahu rasanya susah, aku tahu rasanya berusaha keluar dari kesusahan itu, aku tahu rasanya belum berhasil keluar darinya. Selanjutnya, yang paling aku tahu adalah aku selalu membayangkan suatu ketika aku menemui dosen, apapun isi diskusi itu berapa pun banyak kesalahan dan kekuranganku yang ditampakkan dalam proses itu, melihat beliau tersenyum dan berkata, “Selamat kamu sudah bekerja keras! Lanjutkan dan tetap semangat menyelesaikannya.”

Ketika masanya sidang datang, yang pertama ingin kulakukan adalah melupakan duka-duka masa pengerjaan skripsi dan secara umum, duka-duka menjadi mahasiswa. Lalu, berterima kasih kepada seluruh dosenku dari A sampai Z. Baru setelah itu dengan penuh percaya diri mempertahankan skripsiku di ruang pengujian.

BTW, skripsi itu untuk dipertahankan, kan? Benar, kan? Lho, aku baru sadar itu sekarang. Haha. Aneh.

Kata “dipertahankan” ada di halaman pengesahan. Aku tidak salah. “Dipertahankan di hadapan dewan penguji skripsi … ” Begitu tulisannya. Bertahun-tahun aku merasa tulisan itu formalitas belaka, artinya begitulah isinya karena semua orang menulis seperti itu, artinya tidak ada pilihan kalimat yang lain, artinya itu kalimat yang sudah ditetapkan dari atas. Dan, benar-benar hari ini aku merenungkannya. Belajar dari peristiwa yang terjadi, aku tahu itu kata yang sangat emosional.

Kenapa dosen bisa “seenak hati” mengobok-obok karya kita? Kenapa dosen bisa “sesukanya” menyuruh revisi ini dan mengganti itu? Kenapa dosen bisa berbuat apa saja, berkata apa saja? Apakah dosen merasakan sesuatu ketika melihat kita dalam kondisi terpojok, panas dan hampir berurai air mata menunggu diselamatkan?

Tapi, kalau dibalik: kenapa bisa karya kita diobok-obok seenaknya, direvisi dan diganti ini dan itunya? Kenapa bisa kita tidak berbuat apa-apa dan mendengarkan saja? Kenapa kita yang “harus” berada dalam posisi “terdakwa”? Wah, ini sangat memprovokasi. Kenapa kita tidak juga ikut berkata apa saja? Kau tahu nuansa perang dalam ruang sidang. Aku belum tahu, tapi dari cerita teman-teman begitulah. Dan aku merasa tidak aman. Aku ingin bisa tertawa di ruang sidang, aku ingin bisa tersenyum seperti biasa di ruang sidang, aku ingin bisa bicara tanpa rasa takut 

Seharian ini aku memikirkan cara mempertahankan diri. Dan aku ingat dua kenangan bersama tiga orang: satu kakak kelasku yang menjadi lulusan tercepat dan dua orang subjek penelitianku.

***

Aku, tidak sengaja, duduk di sampingnya sementara dia, sepertinya, sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke ruang sidang. Aku masih semester dua dan sudah direcoki dengan cerita-cerita “bodoh” soal sidang, soal siapa dibantai siapa dan apa yang terjadi selanjutnya. Dan aku tanya beliau, kurang lebih begini: Mbak, apa takut? Dan jawabannya, singkat, tapi mempesona: Buat apa takut, dosen-dosen itu kan juga manusia, sama-sama makan nasi. ^^

Oh iya, ya. Ada Allah. Itu berarti banyaaaak sekali.

***

Dalam wawancaraku lalu berlanjut  pada proses analisa aku tahu satu hal: mereka berdua berani. Aku mencari-cari asal keberanian dan pasti, keberanian itu tidak muncul dari kekosongan. Apa itu? Pengetahuan. Pengetahuan tentang diri kita, tentang siapa kita dan apa yang kita mau, tentang apa yang kita bisa, tentang apa yang telah kita lakukan. Lebih lanjut, benar kata pepatah: berani karena benar. Berani karena benar, kita benar tahu kekuatan dan kelebihan kita. Berani karena benar, kita tahu kelemahan dan kekurangan kita. Aku tahu, makanya aku menempuh suatu jalan dengan penuh percaya diri.

Kita selalu ingin, tetapi tidak berani melepaskan keinginan itu…

Aku jelas sedang berada dalam kondisi terancam. Penelitian fenomenologi disadari adalah sulit bagi mahasiswa. Mulai ada “gerakan membunuh fenomenologi”. Mahasiswa-mahasiswa dengan skripsi studi fenomenologis, mulai tahun ini berakhir keluar ruang sidang dengan revisi ubah metodologi. Fenomenologi jadi studi kasus atau studi deskriptif.

Alasannya memang benar. Fenomenologi memang penelitian level tinggi. Dalam penelitian fenemenologi, kau harus bisa menguasai dirimu, mencegah dirimu dari termakan asumsi-asumsi ketika menghadapi subjek dan apa yang ia katakan. Kau harus bisa melihat yang tidak terlihat, makna psikologis di balik bahasa umum subjek. Kau harus bisa menemukan intisarinya, membuat sintesisnya, membuat dinamikanya. Untuk semua itu, kau harus kaya kosakata, tidak boleh memaksakan penemuan dengan teori, tidak boleh asal comot istilah… Dan mahasiswa sering tidak dapat melakukan semua itu, tidak bisa menemukan makna terdalam dari sebuah fenomena.


How about me???

Aku geram. Jika yang salah adalah kekuranganku dalam mengimplementasikan metode yang telah kupahami karena kurangnya pengalaman di lapangan psikologi, maka aku tidak akan terima perintah revisi metodologi. Aku akan memperbaiki hasilnya. Jika aku tidak mampu juga memperbaiki hasilnya selama waktu revisi, dan hasilnya memang buruk, berikan aku nilai C. I’m proud with it!

Uaaaah. Aku membayangkan diriku berkata itu. Aku terlalu imajinatif. Haha ^^

Tapi itu benar. Aku benar-benar siap.

Aku paham apa itu keterbatasan diri peneliti. Aku berharap bisa mengakuinya dengan kata-kata yang baik nanti. Aku tidak meragukan, meskipun juga tidak sempurna, bahwa aku sudah belajar tentang fenomenologi sesuai kemampuanku selama satu tahun terakhir ini. Menyuruhkan mengubahnya, aku tidak mau. Aku sudah sudah mengikhlaskan tidak bisa lulus cepat dan sudah membuang ambisi jadi lulusan terbaik atau gelar cum laude demi ini. Aku sudah melalui banyak percekcokan gara-gara gagal lulus cepat dan jadi lulusan terbaik. Kau suruh aku menggantinya dengan metode lain? Tidak.

Yang satu ini, pengetahuan ini, pemahaman ini, tulisan “Bab III Metodologi 3.1. Perspektif Fenomenologi” tidak akan kukorbankan karena capaian inilah yang paling berharga dalam hidupku dan masa depanku dari seluruh skripsiku. Aku mau menjadi peneliti dan inilah penelitian pertamaku. Boleh hasil penelitianku tidak berguna karena lemah, tetapi “studi fenomenologi” adalah hasil belajar pertamaku di lapangan penelitian yang kuimpikan. Ini akan menjadi pembanding bagi karyaku di masa depan dan aku berharap bisa melakukannya lagi dengan keterampilan yang lebih baik.

Akhirnya, aku tahu satu hal. Berkata “pertahankan!!!” pada diri sendiri tidaklah mudah. Ia butuh tujuan dan alasan. Dan satu hal lagi, berkata itu tetap akan susah sebelum kau melakukan yang terbaik.

Masih ada waktu untuk mengejar wisuda bulan Juli 2012 nanti. Sampai bulan depan aku akan memaksimalkan studi fenomenologiku.

PS: Bagi teman-teman yang sudah sidang, aku ucapkan selamat “I’m happy for you! Alhamdulillah…” Bagi yang akan sidang “Fighting! Allahu Akbar!” Bagi yang belum sidang “Let’s do our BEST. Insya Allah kita bisa!” ^^

“Whatever course you decide upon, there is always someone to tell you that you are wrong. There are always difficulties arising which tempt you to believe
that your critics are right. To map out a course of action and follow it to an end
requires courage that a soldier need.”
Ralph Waldo Emerson

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s