Diari Skripsi Bag. 26: Grrrrrraaa…dua…tion

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/359/Diari-Skripsi-Bag.-27-Grrrrrraaa…dua…tion

May 2, ’12 8:20 PM

Kemarin aku ditanya yang intinya, “Kok belum sidang?” Nada dan ekspresi tidak percaya mereka begitu kukenal sekarang ini. Gila. Memang. Gila.Aku selalu ingat, dulu, ketika pertama menjadi mahasiswa, aku memanjatkan sebuah doa. Aku sudah masuk ke tempat ini dengan cara yang baik dan aku berharap bisa keluar darinya dengan cara yang baik pula. Karena itu, targetku waktu itu kuliah sebaik mungkin dan menjadi lulusan tercepat dengan IPK yang sangat baik. Waktu itu, hanya itu yang bisa kupikirkan sebagai “cara yang baik”.

Aku hampir bisa mewujudkannya. Di pertengahan semester kedelapan, ketika banyak teman-teman baru ambil skripsi atau baru menyusun Bab I, aku sudah selesai ambil data dan siap melakukan analisa. Haha… aku suka sekali cerita tentang ini.  Dan… aku terbentur persoalan analisa data dan metodologi (yang sampai sekarang masih berusaha kupecahkan, dan alhamdulillah sudah sampai di tahap terakhirnya).

Aku tidak tahu, apakah teman-teman yang mengambil penelitian dengan studi fenomenologi juga mengalami hal yang sama. Rasanya tidak, sekalipun saat itu mulai ada gonjang-ganjing tentang studi fenomenologi yang sesungguhnya, yang sebenarnya. Aku hanya menjadi orang yang tidak bisa dengan mudah menerima sesuatu tanpa memeriksanya. Aku tidak bisa menjadi seperti yang lainnya. Mungkin aku kurang cerdas? Atau mungkin aku kurang praktis?

Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya, bukan kata orang, bukan kata dosen, bukan kata teman. Hanya ingin paham yang benar, paham apa yang sebetulnya terjadi ketika sesuatu itu disebut sebagai sebuah kesalahan atau kesalahpahaman. Hanya ingin tahu yang lurus sehingga penelitian yang kulakukan adalah benar, dapat dipertanggungjawabkan. Ini berlangsung begitu natural, aku tak percaya aku menikmati fase yang kunamakan “belajar kembali” ini.

Sebagian diriku mengingatkan bahwa aku ini sedang bermain api, tapi aku tidak bisa melepaskan idealismeku. Dan sampai hari ini, satu tahun sudah berlalu… Bolak-balik mengerjakan, menghapus, memperbaiki, mengulang, dan memahami kembali halaman-halaman itu. Mei-Juli pakai metodenya Pak Hans, Agustus coba pakai metodenya Pak Bandi lalu berganti Giorgi, September-Oktober mencoba punyanya Hycner, November-Februari mulai mensintesiskan Hycner, Giorgi dengan Moustakas, dan Maret sampai sekarang, setelah menemukan jalan keluar, berusaha menyampaikan temuan dengan cara yang baik.

Ada banyak hal yang kualami untuk sampai pada titik ini. Rasa marah, sedih, kecewa, patah semangat, puas, senang, bangga, kembali bersemangat, merasa tersembuhkan… Hampir semua orang di sekelilingku berpikir yang terbaik adalah lulus cepat, secepat mungkin, bagaimana pun skripsinya, tidak peduli baik atau buruknya baik proses maupun hasilnya. Aku bisa saja memilih seperti jalan yang dipilih kebanyakan orang, seperti yang diinginkan banyak orang, tetapi aku sendiri yang memutuskan tidak. Aku hanya merasa dengan cara ini aku tidak akan menyesal kelak. Sekalipun tidak 100% merasa baik-baik saja, aku merasa inilah yang baik.

Jadi, maafkan aku yang begitu egois, aku hanya ingin merasakan rasanya memperjuangkan yang ideal di lapangan akademik dan ilmiah. Mungkin ini aneh dan sulit dimengerti, aku hanya ingin menjadi ilmuwan dan inilah kesempatan pertamanya dalam hidupku.

Dan untuk orang-orang yang aku sayangi, di rumah, di kampus, di organisasi, aku hanya ingin memberikan yang terbaik karena benar dan bermanfaat. Semua ini terasa sulit dan sekarang aku sudah hampir sampai, tolong bersabar sebentar lagi. Sedikit lagi, benar-benar sedikit lagi, aku bisa memberikan “sesuatu” untuk kalian. Untuk setiap kesalahan yang aku buat selama menyelesaikan penelitian ini, aku benar-benar minta maaf. Untuk setiap kekecewaan yang dirasakan, aku minta maaf.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi skripsi bagiku bukan sekadar “sebagian syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Psikologi”, melainkan ujian pertama untuk menjadi ilmuwan. Aku merasa idealismeku, sikap hidupku sedang diuji dan sedikit demi sedikit aku merumuskan seperti apakah ilmuwan yang baik itu.

Ya Allah, tolong aku, tolong aku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s