Diari Skripsi Bag. 3: Cerdas Menanti Dosen

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/169/Diari-Skripsi-Bag.-3-Cerdas-Menanti-Dosen

Dec 17, ’10 8:04 AM

Ada satu hal yang kurang menyenangkan terkait proses pengerjaan skripsi: menanti dosen. Buat apa, sih? Bimbingan. Bimbingan yang aneh… Sering pembicaraan dalam bimbingan hanya berlangsung 15 menit, tetapi menunggu dosen datang menghabiskan dua jam. Apalagi kalau isi pembicaraan hanya seputar perbaiki ini dan itu lalu selesai atau ganti judul… Phiuuuh… Apalagi kalau sudah menunggu setengah hari dan si ibu tidak datang-datang…
Betapa pengorbanan waktu kita untuk duduk kaku di bangku keras di depan ruang dosen itu begitu meletihkan.  Tidak jarang, wajah-wajah mahasiswa yang bernasib seperti itu begitu memprihatinkan. Jika duduk sendiri jadi melamun, jika bertemu kawan jadi mengeluh… Nah, itu hanya sekelumit masalah antara kita mahasiswa dan dosen pembimbing dan itu bukan yang akan kubicarakan di sini karena ada hal lain yang lebih penting.
***
Menunggu adalah perkara yang tidak semua orang suka. Menunggu membuat kesenangan atau apa-apa yang kita harapkan menjadi tertunda. Semua orang ingin urusannya segera selesai untuk kemudian merasa lega atau beranjak pada pekerjaan yang lain. Menunggu itu melelahkan. Sementara waktu terus berjalan dari pagi hingga malam, urusan yang belum selesai karena kita harus menunggu benar-benar membuat kita rugi.
Itulah yang terjadi selama pengerjaan skripsi. Kau harus menunggu, salah satunya adalah menunggu kehadiran dosen untuk memberimu bimbingan. Kau bisa saja mengambek, memutuskan menyerah, lalu pulang… tapi tentu saja tidak semudah itu. Ada janji yang harus ditepati dan lebih lagi, semua itu demi skripsi yang ingin kamu selesaikan.
Dahulu ketika masih menjadi mahasiswa-belum-skripsi, aku sering memperhatikan kakak-kakak yang sudah mengambil skripsi. Hampir setiap hari kursi di depan ruang dosen itu penuh mahasiswa-mahasiswa yang duduk mengantre giliran bimbingan dengan dosen mereka. Sedikit banyak aku mengobservasi dan mengobrol dengan mereka, kusimpulkan: Di satu sisi, banyak mahasiswa yang mengeluh: “Lamanya, si ibu…“, tetapi di sisi lain mereka benar-benar membuang-buang waktu yang berharga dengan…
 
Pertama, kalau duduk sendirian atau bersama mahasiswa lain yang tidak dikenal, mereka hanya duduk, memeluk atau memangku map plastik, kaki di silangkan, dan sekali-kali menghela napas. Itu saja TANPA AKTIVITAS
 
Kedua, jika ada teman, mereka memutuskan mengobrol dan isi obrolannya ngalor-ngidul ke mana-mana. Sesekali, mereka tertawa terbahak-bahak… Memang sepertinya menyenangkan, tetapi itu aktivitas yang hanya berorientasi untuk MENGHABISKAN WAKTU, mengalihkan perhatian dari “menunggu dosen”. Dan waktu benar-benar habis…
 
Ketiga, jika diajak bicara, ada yang memutuskan curhat kesusahan-kesusahan mereka selama ini. Lagi-lagi, mengeluh, mengeluh, dan mengeluh… Mereka “MERUTUKI WAKTU” dan merasa itu baik-baik saja untuk dilakukan.
 
Jika dipikir-pikir, kita dapat bertindak proaktif dan mendulang berbagai manfaat dari aktivitas menunggu yang sedang kita lakukan. Mengapa kita tidak menjadi mahasiswa keempat yang cerdas MEMANFAATKAN WAKTU?
 
Apa artinya memanfaatkan? Memanfaatkan adalah aktivitas menggunakan sesuatu untuk mendapatkan suatu kebaikan bagi diri. Nah, kebaikan bagi diri ini bermacam-macam bentuknya dan dengan niat yang baik, semua itu dapat bernilai ibadah. Misalnya:
 
1) Berdzikir… Meskipun kita diam tidak melakukan aktivitas tampak apapun, dalam hati, kita bisa berdzikir mengingat Allah.
 
2) Jika capek duduk di kursi keras, pergi saja ke mushola. Kita bisa shalat dhuha atau shalat wajib, lalu setelah itu menghabiskan waktu dengan membaca al-Quran.
 
3) Atau, manfaatkan waktu dengan membaca. Bawalah satu atau dua buku untuk menemani kita menanti dosen. Yang satu untuk diri kita, yang lain kita tawarkan untuk teman sepernantian kita. 
 
4) Kalau kelelahan, untuk menghindari munculnya keluhan dari mulut yang gatal ini, tidur saja sebentar dan ngadem di perpustakaan.
 
5) Atau, jika kita benar-benar memanfaatkan waktu, berkaryalah selama menanti dosen, seperti dengan menulis artikel atau cerita, membuat suatu kerajinan tangan, memikirkan ide-ide untuk skripsi kita, membantu adik-adik yang membutuhkan saran atau bantuan untuk tugas-tugas kuliah mereka, atau mengerjakan sesuatu yang terkait organisasi yang kita ikuti.
 
6) Dan, jangan malas menyapa dan tersenyum pada orang-orang yang lalu-lalang di sekitar kita. Itu bersedekah, bukan?
 
***
Setelah kupikir-pikir, ada banyak hal yang bisa kita lakukan selama menanti dosen. Ada kalanya kita memang harus pengertian bahwa dosen pasti lebih sibuk daripada mahasiswanya. Kita memang harus menerima dan menjalaninya dengan kesabaran. Kesabaran itu bisa kita sambi dengan aktivitas-aktivitas bermanfaat. Sudah cukup orientasi egoistik kita yang hanya memikirkan kebutuhan kita saat ini yang tertunda. Kita perlu berpikir jauh ke depan, tentang berbagai manfaat yang bisa kita dapatkan selama menanti dosen, tentang waktu yang memang terus berjalan, tetapi bisa kita isi dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, KITA CERDAS karena kita bijak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s