Diari Skripsi Bag. 29: A Road to Graduation Part 2

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/372/Diari-Skripsi-Bag.-30-A-Road-to-Graduation-Part-2

Jul 8, ’12 6:44 PM

Bwahahahaha… yang ini bikin aku pengen tertawa terus. Aku dipaksa belajar untuk berteman dengan birokrasi dan segala tetek bengek administrasi.Jadi, selama mengerjakan skripsi, aku hanya mengerti dua hal: daftar skripsi dan daftar sidang. Setelah itu yang aku tahu hanya satu, yaitu mengerjakan skripsi sebaik mungkin. Di tengah jalan aku terkejut setengah mati.

Aku ingat, pada hari dosenku mengizinkanku terjun ke lapangan penelitian, beliau bertanya, “Apa ada surat yang perlu saya tanda tangani?” Aku menjawab tidak ada. Ternyata ada! Itu surat resmi yang menyatakan mahasiswa siap mengadakan penelitian. Penelitian jalan-jalan saja tanpa ada surat yang semacam itu dan aku bertanya-tanya, apa pentingnya surat itu?

Setelah proses wawancara pengambilan dataku selesai, aku bertemu si ibu lagi dan minta tanda tangannya. Wah, aku ingat bagaimana reaksinya. Meskipun tidak bersuara, seandainya suaranya ada, ia pasti sedang berkata, “Ck.”

Waktu pun berlalu… Tepatnya hampir satu tahun sejak aku mendekam di rumah dan tidak mengunjungi kampus untuk menyelesaikan proses analisis data yang membingungkan itu. Aku ke kampus dan mendengar berita tentang kelulusan beberapa teman dan aku mulai melirik persyaratan daftar sidang. Aku ternganga…. Banyak sekali surat keterangan yang harus disertakan! Dan yang paling gawat. Surat bukti (sudah) penelitian dari tempat/ instansi/ sekolah subjek berada.

Benar, penelitianku jalan-jalan saja. Aku bertemu subjek begitu-begitu saja dan selesai. Aku tidak tahu kalau untuk hal seresmi pengerjaan penelitian aku harus minta izin pada tempat di mana subjekku kuliah. Aku tidak pernah membuat surat izin semacam itu! Dan, satu tahun persis sudah berlalu sejak aku bertemu subjekku!!! Apa yang harus aku lakukan?!

Dan masalah dimulai. Pertama kalinya aku berbohong seperti ini dan pelan-pelan aku mengakuinya pada dosenku dan setiap hari aku bertekad seandainya aku “ditanya”, aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Aku bingung setengah mati.

Pembantu Dekan I-ku tahu aku sudah melakukan penelitian begitu lama. Ia pasti heran, mengapa di waktu yang tidak tepat ini muncul di mejanya permintaan tanda tangan untuk surat izin pengambilan data dariku. Yang aku butuhkan hanya “surat keluar” atau surat keterangan sudah penelitian, tetapi untuk membuat surat keluar, aku harus punya surat masuk dulu. Akhirnya, surat itu kudapat, setelah sempat terjadi kejadian  salah ketik isi surat yang mengesalkan.

Dimulailah petualanganku menembus rimba fakultas kedua subjekku yang seharusnya aku lakukan tahun lalu. Ini berat, karena aku harus mengarang sedikit cerita. Bagaimana pun penelitianku sudah selesai dan aku harus berpura-pura belum melakukannya. Pertama, aku harus memalsukan sedikit ingatanku soal waktu. Kedua, aku harus pura-pura tidak kenal subjekku. Ketiga, satu subjekku baru saja lulus dan aku harus mempersiapkan pengakuan seandainya ketahuan jika orang yang aku maksud sudah tidak available lagi.

Ternyata tidak mudah berurusan dengan birokrasi. Aku tidak bisa tidak sabar karena perjalanan surat dari ruang TU, masuk ke ruang dekan, dipindahkan ke ruang PD I sampai mendapatkan disposisi “anak ini boleh penelitian di sini” ternyata tidak cepat. Dan aku merasa bersalah, semua orang di tempat yang aku tuju baik padaku. Kenapa aku bisa berpikiran aku tidak suka birokrasi, ya? Akhirnya, aku menjalani itu semua dan menunggu-nunggu jika mereka bertanya, aku siap menjawab yang sebenarnya.

Sampai semua selesai, aku tidak ditanya apa-apa, seakan-akan penelitian sudah terjadi dengan baik… Aku beruntung? Iya, aku beruntung. Meskipun itu semua menghabiskan waktu dua bulan untuk selesai, aku beruntung. Aku tahu aku hanya datang ke sana untuk mendapatkan surat itu. Jadi, ketika akhirnya datang hari terakhir aku mengunjungi dua gedung itu, rasanya… sangat berterima kasih. Lain kali aku tidak akan ceroboh seperti ini. Semoga ada saat aku mengalami situasi berurusan dengan birokrasi lagi… Jika saat itu datang, aku akan datang dengan cara yang baik karena tahu apa yang aku inginkan dan harus aku lakukan.

***

Cerita belum selesai. Apa gunanya surat keterangan itu? Buat surat bukti penelitian, bukan? Kepalaku seperti dihantam godam ketika petugas TU bilang, untuk daftar sidang, khusus untuk penelitian kualitatif, bisa cukup hanya dengan informed consent dari subjek saja dan itu bermaterai Rp 6.000. Okelah, aku aman. Aku sudah punya suratnya. Aku bahkan sudah melebihi yang disyaratkan. Aku tinggalkan urusan informed consent yang harus bermaterai itu. Masalahku hanyalah, informed consent-ku tidak bermaterai. Aku tidak tahu kalau itu harus bermaterai.

Apa itu masalah? Rasanya tidak… Benar, jadi masalah! Dan itu terjadi di minggu penting pendaftaran skripsi yang hanya tujuh hari itu.

Ada sebuah surat penting yang harus dilampirkan di halaman terakhir skripsi. Surat keterangan sudah penelitian yang ditandatangani dua dosen pembimbing, sama seperti surat paling pertama, surat siap penelitian itu. WAH! Pada hari itu aku tahu, aku tahu dosen pembimbing utamaku dua minggu bolak-balik ke luar kota dan tidak ada di kampus. Aku terancam tidak bisa daftar sidang karena masalah sepele ini!

Aku lari ke TU, bertanya bagaimana cara mendapatkan surat itu. Syaratnya: 1) surat keterangan siap penelitian itu dan 2) informed consent itu. Akhirnya aku ke kantor pos membeli materai itu dan aku melakukan trik agar tanda tangan subjekku tidak terlihat aneh tertimpa materai yang terlambat ditempelkan itu (Adik kelasku jelas sekali ber-ck-ck-ck melihat aku seperti itu. Maaf, jangan contoh aku). Aku tahu, petugas TU itu merasa aneh. Ia mencermati informed consent itu agak lama. Tapi, semua berlalu begitu saja… Syukurlah.

Masalah terbesar adalah sulitnya menemui dosenku. Aku memberitahu beliau untuk urusan yang seharusnya juga sudah selesai tahun lalu. Tanggal yang tertera di surat itu mengatakan bulan Agustus tahun 2011. Ya Allah… tolong aku. Si ibu mengatakan bisa ditemui di hotel tempat ia sedang mengisi seminar… Letaknya jauh… dan ketika aku menerima pesannya, waktu untuk bisa ke sana tinggal 15 menit sebelum ia berangkat lagi ke luar kota… Dan aku adalah pengguna public transportation yang setia…

Insya Allah bisa…

Di perjalanan, ketika aku sedang memikirkan strategi tercepat untuk sampai ke sana tiba-tiba si ibu meneleponku. Bagaimana kalau kita bertemu di jalan? Bagaimana kalau aku menunggu di Bank X? WAH! Ini pertolongan Allah… Di siang hari itu, aku menunggu ibunya. Hari sangat terik, jalanan sangat ramai, tapi angin terasa menyenangkan dan langit begitu biru… Aku menunggu, duduk di emperan bank sambil membaca buku belajar Bahasa Jepang-ku. Aku diawasi Pak Satpam di situ…

Tidak kusangka, surat itu selesai dalam satu hari. Besok… aku pasti daftar sidang.

Ya Allah… terima kasih. Aku benar-benar ingin sidang bulan ini.

Aku sempat merasa ada banyak hal tidak berguna sebelumnya yang ternyata begitu penting. Semua ada karena ada manfaatnya. Semua disyaratkan karena itu berguna. Bayangkan, kalau ada banyak orang yang bersikap seperti aku… Dunia bisa kacau. Surat-surat kehilangan tujuan, kehilangan urutan dan sulit dilacak. Orang-orang dilanggar haknya karena ditemui tanpa izin, sekalipun mereka merasa tidak ada masalah.

Sekali lagi, Ya Allah, terima kasih…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s