Diari Skripsi Bag. 30: A Road to Graduation Part 3

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/373/Diari-Skripsi-Bag.-31-A-Road-to-Graduation-Part-3

Jul 8, ’12 7:26 PM

Skripsiku. Selesai dalam dua tahun. 470 lembar. Sampulnya warna biru muda.Aku menge-print-nya dengan semangat. Memfotokopinya juga dengan semangat. Aku buat lima eksemplar. Empat sebagai syarat daftar sidang. Satu untukku sendiri. Aku tidak tega bertindak seperti temanku yang mana untuk dirinya sendiri, skripsi yang ia jadikan pegangan hanyalah fotokopian satu lembar dua halaman diperkecil, tidak dijilid hanya distraples.

Aku sangat menghargainya… Ini karya pertamaku, penelitian pertamaku. Akan aku pastikan ia ada, berdiri bersama-sama di rak buku di rumah.

Hari itu aku berpikiran, “Besok pasti daftar sidang.” Sepulang dari tempat fotokopian dan menunggu sampai seluruh pesananku jadi, aku merasakan firasat buruk. Bagaimana kalau mas-nya salah fotokopi?

Wah, kejadian. Besoknya aku kaget. “Kok skripsinya tidak ada “kertas yang biru-biru” itu ya?” Maksudku, kertas pembatas pergantian bab. “Lho, mbak-nya nggak minta!” Wah, aku sadar aku yang salah paham! Aku ingin dia sudah menanyakan hal itu, tapi aku kira pembatas itu adalah pembatas pita yang biasa digunakan untuk skripsi yang sudah jadi dan disampul keras. Aku benar-benar memikirkan soal sidang dan aku katakan, “Tidak perlu karena yang mau dijilid ini baru untuk sidang…”

Tidak jadi daftar, dong… Tapi aku tidak sedih karena mas-nya bilang, bahwa seandainya topik kertas pembatas tidak dibicarakan, kertas pembatas dengan sendirinya akan disertakan, tetapi hanya sampai lampiran pertama, selanjutnya tidak. Yang aku inginkan sampai lampiran terakhir. Mau tidak mau, pasti ingin aku dedel itu skripsi.

Aku ke kampus dan hanya ke sana ke mari tak tentu arah… Mencari teman-teman untuk diajak mengobrol sebelum akhirnya pulang. Jadi, keberadaanku di kampus tidak sia-sia. Topik utama yang aku bawa untuk teman-temanku adalah: Bagaimana rasanya sidang skripsi? Aku minta tips.

Semua yang kutanyai menjawab tidak ada tips untuk sidang. Selama ini aku selalu direcoki dengan kisah sidang yang mendebarkan, tapi semua merasa sidang skripsi berlangsung biasa-biasa saja. Bahkan, dua jam tidak terasa dua jam. Jadi, yang katanya dibantai itu apa? Wah, itu cerita palsu.

Bagaimana pertanyaan-pertanyaan dari dosen pengujinya? “Ada yang bisa dijawab, ada yang tidak. Kalau tidak bisa dijawab bagaimana? Diam saja atau senyum saja atau nggak tahu, Bu.” Kenapa ada yang sidang bawa-bawa buku teks? Memang pentingnya? “Penting. Kadang ada penguji yang bertanya, apa betul kalimat yang dikutip di skripsi itu bersmber dari buku tersebut. Ada dosen yang minta agar itu dibuktikan.” Oke. Oke. O iya, kamu ditanya apa saja? “Ada yang lebih banyak ditanya-tanya soal metodologinya, ada yang hasilnya… Suka-suka dosennya.” Revisimu apa saja? “Ini ada catatannya.” Wah, banyak. Jadi, revisi itu nanti berdasarkan ini? “Benar.” Wah, sidang itu nggak begitu berat kayaknya. “Benar, kayak presentasi di kelas, cuma ini kamu presentasi sendiri.” Lalu, kenapa bisa ada yang dapat C untuk skripsinya? “O… itu ya? Itu karena skripsinya bermasalah dari awal dan tidak diperbaiki…”

Aku memikirkan skripsiku sendiri.

Aku cerita, aku seharusnya daftar hari ini. Tapi, mas-nya salah fotokopi (bukan, sebenarnya aku yang salah bicara). Tidak ada pembatas kertas birunya. “Lho, itu nggak papa. Punyaku saja cuma jilidan dengan lakban hitam.” OH YA?! Aku juga, kata temanku yang lain. JADI BUKAN MASALAH?

Aku langsung sms adikku, minta diantar ambil skripsi.

“Untung mbak, mbak-nya datang. Hampir saja mau saya dedel.”

Siang itu, sekitar pukul 14.00 aku daftar sidang skripsi. Hari Kamis, 5 Juli 2012. WAH, AKU SENANG SEKALI!!! Begini rasanya bawa skripsi seberat hampir lima kilo! Begini rasanya bawa gotong-gotong skripsi, berlari-lari menuju dekanat! Begini rasanya mendaftar! Aku melihat berkas-berkasku yang lengkap dimasukkan dalam map plastik. Semoga berkas-berkas itu selamat sampai ditujuan…

Aku sedikit tidak rela menyertakan “buku harian” skripsi-ku, “buku ungu”, buku catatan pengerjaan skripsiku. Aku lupa tidak menyalin isinya terlebih dahulu dan temanku menyarankan. “Di fotokopi saja…” BENAR! Aku lari lagi ke tempat fotokopi di kampus.

Aku minta doa pada petugas fotokopian-nya. Aku minta doa pada petugas biro skripsinya. Aku bilang terima kasih pada adikku dengan sepeda motornya. Aku bilang terima kasih kepada semua orang! Aku pulang dari kampus dengan perasaan seperti itu. Sore itu rasanya indaaaaah sekali. Seandainya tidak ada adikku yang mengantar aku pulang, aku tidak keberatan keluar kampus jalan kaki seperti biasa kalau kau sedang butuh berkontemplasi.

Perjalanan mengerjakan skripsiku… selesai. Sekarang tugasku adalah mempersiap diri untuk sidang itu.

Ya Allah, terima kasih…😀 SEMANGAT TEMAN-TEMAN YANG JUGA DAFTAR SIDANG BULAN INI!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s