Diari Skripsi Bag. 31: Hari Aku (Seharusnya) Sidang

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/374/Diari-Skripsi-Bag.-32-Hari-Aku-Seharusnya-Sidang

Jul 31, ’12 8:51 PM

“Tuhanku, masukkan aku dengan cara masuk yang benar dan
keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar…”
17: 80
***

Tidak salah aku berdoa semacam itu. Dulu di awal, menjadi mahasiswa dengan semangat yang seperti itu. Rasanya… sekarang sedang benar-benar diajari cara keluar yang benar itu. Lulus perguruan tinggi itu, ternyata, tidak keluar, keluar begitu saja.

Sungguh, Allah Maha Berkehendak. H-15 jam. Pada suatu sore di hari Selasa, 23 Juli 2012… Panggilan masuk.

A: Assalamu’alaikum…
B: Mbak Aftina? Ini dari Biro Skripsi.
A: Ya?
B: Sidang skripsi Mbak Aftina besok ditunda. Bu X mendadak nggak bisa nguji.
A: Ditunda ya? Sampai kapan yang Pak?
B: Belum tahu…

Lho, bisa ya kejadian seperti itu??? Itu hal yang paling tidak kupikirkan ketika rasanya, tidak mungkin tidak, aku pasti sidang besok pagi; ketika rasanya tidak ada masalah lagi, tidak ada hambatan lagi; ketika rasanya semua akan baik-baik saja; ketika semua akan berjalan sesuai rencana… Allah berkehendak lain.

Sambil menelengkan kepala, pertama, aku heran saja. Firasatku lagi-lagi bermain. Selama seminggu aku ragu-ragu dan terasa tidak yakin dengan sidangku sendiri sampai akhirnya urung memberitahu teman-teman soal hari sidangku. Ternyata kejadiannya seperti ini.

Reaksi kedua ketika mendapatkan pemberitahuan itu aku “luar biasa” senang… Aku “selamat”. Aku sadar selama dua minggu masa menunggu aku tidak bisa persiapan. Entah mengapa, aku tidak dapat juga feel-nya sidang skripsi. Aku bertanya-tanya, apa yang diinginkan orang dari sebuah sidang skripsi; apakah aku harus belajar lagi? Kalau harus belajar, belajar apa dong? Aku sudah kenyang dengan skripsiku yang dua tahun itu, sudah tidak bisa belajar apa-apa lagi. Aku “tidak mengerti”, mengapa orang-orang cemas dengan sidang skripsinya? Aku justru gelisah karena tidak merasa cemas. Seminggu sampai detik akhirnya aku ditelepon, aku sedang main-main dengan laptop-ku…

Reaksi ketiga… Besok paginya, aku gelisah. Jangan-jangan yang kemarin itu mimpi. Jangan-jangan yang kemarin itu aku salah dengar. Jangan-jangan yang kemarin itu orang iseng. Pukul 06.00 aku sms salah satu dosenku untuk cross check kebenaran berita itu.

“Betul.”

Wah, ini kenyataan. Sebenarnya ini tidak masalah, aku paham nature dari kehidupan. Ini normal, hanya saja terasa begitu ironis.

Dalam sekejap, sesuatu yang rasanya sudah ada dalam genggaman, pintu keluar yang sudah ada di depan mata begitu mudahnya menjadi jauh. Pukul 08.00 yang seharusnya aku di ruang sidang, dag-dig-dug presentasi sama seperti teman-teman, aku di rumah dan bersih-bersih dan mengikuti perjalanan waktu sampai pukul 10.00.

Aku membayangkan teman-teman dan semua orang… Apa arti dua jam itu bagi mereka? Berjuang menghadapi ketidakpercayaan diri, ketakutan, kecemasan… Berjuang untuk kuat dan tajam dengan penuh harap, mendapatkan hasil terbaik. Berdoa tidak henti-hentinya, semoga datang pertolongan Allah lewat dosen yang tidak galak dan menyudutkan, lewat teman-teman yang menemani dan menyemangati, atau apapun…

Akhirnya lewat… Lalu, sms maupun pertanyaan, meskipun tidak banyak, satu demi satu datang dari teman-teman.

A 1#: Mbak, dirimu sidang tanggal berapa?
Aku: Harusnya tadi pagi…

A 2#: Af, kamu sidang kapan?
Aku: Harusnya kemarin Rabu…

Hari ini… A 3#: Jadinya, kamu sidang kapan?
Aku: Harusnya minggu lalu…

A 4#: Lho, saya kira kamu sudah lulus…
Aku: Iya, seharusnya saya sudah sidang minggu lalu, tapi ditunda. Ini masih nunggu jadwal baru.

Dan aku semakin gelisah, jadwal baru tidak keluar-keluar. Besok 1 Agustus. Periode sidang bulan Juli sudah selesai. Aku lihat papan Biro Skripsi, bagian jadwal sidang. Semua orang sudah ditulis “lulus”. Aku? “Ditunda”.

Pertama kalinya, sadar… Sidang skripsi itu salah satu nikmat kehidupan dan bagiku, ia sedang tertunda. Apa penyebabnya?

Semingguan ini aku terus bertanya-tanya. Jawabannya, sedikit demi sedikit datang. Cara keluar yang benar itu akhirnya kupahami seperti itu. Terima kasih buat teman-teman yang menyemangatiku dan mendukungku untuk sabar. Semoga ada kesempatan membuat tulisan terakhir: Hari Aku (Akhirnya) Sidang. Insya Allah… Insya Allah… Insya Allah…

PS: Ya Allah, aku sedih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s