Diari Skripsi Bag. 4: Tunda Terus, Terus, Teruuuus…

Original source:  aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/189/Diari-Skripsi-Bag.-4-Tunda-Terus-Terus-Teruuuus…
Mar 5, ’11 12:34 AM
Tunda terus, terus, dan teruuuuus… dan kau akhirnya layak menyandang status mahasiswa abadi. Sorry, tulisan ini bukan untuk memojokkan sebagian mahasiswa yang sudah, hampir, atau nyaris menjadi demikian. Prinsip kita tetap “setiap manusia punya hidup dan jalannya masing-masing”, namun tetap saja ada keinginan dalam diri kita untuk mencari hikmah dari berbagai kejadian. Salah satunya adalah tentang hidup sebagian teman-teman kita yang saat ini masih berjuang untuk lulus di detik-detik terakhir jatah waktunya sebagai mahasiswa.
Ya Allah, berikanlah semangat!
***
Pada suatu hari… di bulan Oktober tahun lalu (peristiwa yang kuingat betul), di tengah suasana yang membosankan dan sepi sendiri, aku duduk kaku di depan ruang dosen untuk menunggu panggilan dosen pembimbing yang akan memberikan keputusan bagaimanakah skripsiku nanti. Super tegang karena beberapa hal, akhirnya aku menyapa seorang senior yang tengah membawa setumpuk skala psikologi yang siap dibagi-bagikan kepada para subjeknya. Tidak salah aku mengobrol dengan dia karena ternyata ia punya judul skripsi yang mirip dengan punyaku: Hubungan Self-Regulated Learning dengan Prokrastinasi Akademik. 
Aku senang mendengarkan, terutama karena topik penelitianku yang serupa. Namun, lebih dari itu, aku memang juga memikirkan nasib beberapa orang seniorku. Subjek penelitian tersebut unik karena menyinggung nasib para prokrastinator (begitu bahasaku) alias para penunda-nunda pekerjaan sehingga mereka tidak lulus-lulus dari bangku kuliah. Memang ada banyak cerita yang melatarbelakangi mengapa takdir semacam itu bisa terjadi dan kita sama-sama oke dengan sebab-musabab yang bisa diterima akal sehat. Namun… Ayo kita sama-sama berperang melawan mereka yang menjadi penunda karena malas. Masalah mereka bukan lagi karena mereka tidak bisa atau tidak mampu lulus cepat, melainkan karena terlalu malas sehingga tidak bisa “BISA!” Status mahasiswa abadi layak ditempel di CV mereka.
Menyandang status (calon) mahasiswa abadi itu tidak menyenangkan. Secara materi, rugi uang untuk membiayai kelebihan waktu kuliah yang tidak perlu. Karena belum mendapatkan kelulusan, tidak banyak juga pekerjaan bagus yang didapat (karena belum lulus). Secara sosial, ada sanksi sosialnya. Banyak orang yang prihatin diam-diam atas kondisi yang dialami dan lama-lama terasa juga rasa malu karena tidak lulus-lulus. Secara akademik, terhapuslah track record cemerlang yang selama ini didapatkan. Percuma jadi aktivis organisasi, jadi bintang angkatan, jadi idola teman-teman, dan setinggi apapun IPK yang didapat, rasa angka itu jadi tidak menyenangkan lagi. Bagi sebagian mahasiswa dari sebagian mahasiswa tersebut, alasan-alasan tersebut cukup untuk menjadi motivasi KO di lap terakhir. Alasannya, bukan karena bodoh atau tidak mampu, tetapi malas.
Cerita yang menarik pada hari itu. Dalam benak, aku membayangkan hasil penelitian tersebut karena aku pernah membaca beberapa teorinya. Selain teori regulasi diri itu sendiri, ada setumpuk teori psikologi lain yang bisa menjelaskan fenomena prokrastinasi akademik. Namun demikian, otak kualitatifku bekerja sehingga aku mulai bertanya-tanya: bagaimana perasaan si subjek? Mulai hari itu, aku jadi banyak bertanya bagaimana rasanya tidak lulus-lulus. Seberapa frustrasi? Seberapa tertekan? Namun, lebih dari itu, apa rasanya waktu bagi mereka?
Dan jawaban semua dari yang pernah kutanya (meskipun cuma kutanya beberapa orang: tidak terasa.
 
TIDAK TERASA?!
Waktu sudah berlalu… Hahh…
Rasanya, aku juga mau menjadikan “waktuku” tidak terasa apa-apa. Ingin rasanya tidak perlu deg-degan setiap menghadapi deadline yang terlewati. Tidak perlu ada rasa bersalah ketika hari-hari kosong berlalu. Tidak perlu ada rasa susah memikirkan waktu… Tidak perlu ada rasa tersiksa ketika tahu… eh, seminggu lewat, dua sudah minggu lewat, dan aku mulai mati-matian menghadapi laptop dan mengetik lagi… lalu besoknya berharap bu dosen dengan senyum cerah menghadapiku.
Menulis begini, aku tidak ingin jadi korban skripsiku sendiri ketika pada suatu hari di bulan September tahun lalu aku memutuskan mengambil judul tentang pengaturan diri… Aku harus mengatur diriku sendiri karena skripsi benar-benar suatu cobaan dan setan setiap saat membisikkan, kalau tidak malas dan bosan, pasti tidak bisa berpikir. Kalau dengan begini aku bisa lulus setidaknya harus bulan Juli ini… Malaikat, cambuk aku saja kalau aku mulai mengabaikan detik-detik waktu yang berharga dengan cambuk rasa bersalah dan malu…
 
Sebelum mesin waktu dapat ditemukan, kusimpulkan bahwa waktu memang berharga. Namun, aku tidak mau merasakan betapa berharganya ia ketika ia mulai habis. Harga waktu jelas lebih mahal daripada uang kuliahku.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s