Diari Skripsi Bag. 8: Aku dan Triangulasi

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/243/Diari-Skripsi-Bag.-9-Aku-dan-Triangulasi

May 2, ’11 10:55 PM

Triangulasi itu bukan nama orang. Triangulasi adalah prosedur dalam penelitian kualtitatif yang dilakukan untuk mengecek atau memperkuat data yang diperoleh dari subjek kita.
Cara yang dilakukan bermacam-macam, seperti melakukan wawancara pada orang-orang tertentu yang berada di sekitar subjek. Orang-orang tersebut tentu adalah orang-orang yang berhubungan dengan subjek dan paham duduk perkara penelitian kita. Cara yang lain adalah dengan melakukan pengumpulan data dengan metode lain, misalnya observasi atau dokumentasi, baik berupa gambar maupun dokumen tertulis.
Biasanya, yang dilakukan oleh peneliti di tempatku adalah yang wawancara orang lain itu. Nah, di sinilah masalah bermula dan kemudian berakhir dengan penuh kebersyukuran.
 
***
Ada satu masa dalam pembuatan skripsiku di mana aku tiba-tiba panik. Ada yang salah dan ini fatal. Meskipun aku jelas menuliskan “Penelitian Kualitatif Fenomenologis”, ternyata, aku tidak paham fenomenologis itu apa. Berawal dari provokasi seniorku yang juga melakukan penelitian yang sejenis. Dia bercerita tentang metode analisa data kualitatif baru yang bernama *aku lupa*. Dari situ aku mulai benar-benar membaca textbook metodologi penelitian.
Dan… benar. Aku membuat kesalahan, ibarat penerjun payung langsung terjun saja tanpa tahu bagaimana cara membuka parasut nantinya. Langsung keesokan minggunya aku menemui dosen pembimbingku dan mendapatkan pencerahan. Ada yang salah, tetapi tidak fatal, “Nanti hasilnya kita lihat sama-sama.” Satu masalah selesai😀
Masalahku bukan itu saja. Ketika aku membaca prosedur penelitian, aku “merasa aneh sekaligus senang” tidak menemukan kata triangulation. Artinya tidak harus ada triangluasi! pikirku kegirangan. Haha… mengapa ya? *sebenarnya ketemu, tetapi di bab terakhir buku itu, nyaris di halaman terakhirnya😦
1. Aku tidak suka ide mencari-cari tambahan data “yang tidak perlu”. Bukannya tidak perlu, tetapi dari apa yang kuperoleh, sepertinya sudah tampak kejelasan datanya. Jadi, buat apa cari-cari data lagi? Jangan-jangan cuma buat formalitas, seperti penelitian yang dulu-dulu.
2. Jika benar ada data tambahan, itu berarti tambahan tugas mentranskrip, itu berarti ngetik lagi, itu berarti capek.
3. Triangulasi itu melibatkan orang-orang yang tidak aku kenal. Bisa jadi tempatnya di luar kota atau di pelosok desa! Ini masalah besar bagi aku yang tidak pernah ke mana-mana selain kota sendiri. Aku ingat subjek pertamaku orang Kendal, yang kedua orang Pekalongan. Apakah aku harus ke sana untuk menemui orangtua untuk triangulasi? No way!
Dengan sok ingin tahu, tetapi sebenarnya tidak ingin mendapatkan jawaban positif, aku bertanya pada dosenku, “Bu, triangulasi itu seberapa penting sih?” Dan benar, itu penting. Ya… sudahlah. Triangulasi memang harus dilakukan, tapi pelan-pelan terjawab bahwa kekhawatiranku di atas memang tidak beralasan. Masalah selesai. Memang harus dilakukan tanpa mengeluh lagi.
***
Sehabis kuliah, luntang-luntung di kampus, naik turun gedung dekanat, mencari siapa saja  yang bisa diajak mengobrol, aku berpikir: Bagaimana cara memulai wawancara triangulasi. Karena merasa tidak ada gunanya menganggur, aku putuskan menghubungi subjekku yang pertama. Bertanya, “Siapa dosenmu yang dulu kamu sebut? Aku wawancara dia saja. Dan, siapa temanmu yang bisa kamu rekomendasikan untuk aku wawancara juga? Akan aku cari!
Temanku itu mahasiswa FISIP. Sambil berjalan ke gedung FISIP, aku sibuk menanyakan kemungkinan apa saja tentang dua orang ini dan senang ketika mengetahui dia berkata, “Bapaknya baik, kok. Temanku itu juga sabar orangnya.” Oke lah.
Aku sampai di FISIP dan siiiiing… aku tidak paham kampus ini. Ini pertama kalinya aku menjejakkan kaki di gedung baru ini. Sempat berputar-putar di tempat parkirnya karena tidak tahu mana belokan menuju gedung yang kumaksud. Orangnya asiiiing semua. Ya Allah, jika hari ini belum berhasil, tidak apa-apa. Aku bisa mengecek situasi dulu dan besok kembali lagi. Aku melihat-lihat saja seisi gedung sambil mencari satpam untuk bertanya di manakah ruang dosen jurusan X.
Belum sempat bertemu satpam yang duduk di teras gedung, mataku tertumbuk pada sesosok wanita yang sedang berjalan bersama rekan sejawatnya. Eh, baru ingat! Keluargaku ada yang jadi dosen di sini. Aku ini bodoh atau apa, ya? Aku tidak bisa cerita dengan nada excited, “Ini pertemuan yang tidak disangka-sangka, ya!” karena itu bohong besar. Aku memang jarang berkunjung ke rumahnya, jadi rasanya tidak enak meminta sesuatu padanya. Aku bahkan tidak ingat ada beliau. Tetapi, beliau lah yang menawarkan bantuan, maka aku jelaskan keperluanku. Beliau membawaku masuk ke ruang dosen jurusan X. Dia memperkenalkanku dan menjelaskan urusanku pada hampir semua dosen yang ada di situ. Ugh, aku tidak berharap seperti ini, tapi… ikuti saja ke mana beliau membawaku.
Dosen yang kucari tidak ada, tetapi aku teringat satu nama lagi. Dan, orangnya ada! Akhirnya aku bertemu triangulan pertamaku dan wawancara bisa dilakukan hari itu juga. Alhamdulillah, aku tidak lupa membawa perlengkapan merekam. Tidak lupa, aku berterima kasih sebesar-besarnya pada saudaraku yang baik itu.
***
Keesokan harinya adalah giliran triangulan kedua. Teman subjekku. Aktivis pers kampus. Benar, orang baik dan sabar.
Aku bodoh karena merasa wawancara kali akan selancar sebelumnya. Aku wawancara seperti sebelumnya tanpa tahu bahwa si mbak perlu mendapatkan daftar pertanyaan dan mempersiapkan jawaban. Dia bukan tipe penjawab spontan. Wawancara pertama isinya banyak jeda karena dia bingung mau menjawab bagaimana. Nah, selesai? Tidak. Ada yang mau kutanyakan lagi. Wawancara kedua, semakin siang situasi kampus FISIP semakin bising. Selesai? Aku mengecek hasil rekaman dan bencana yang selama ini kutakutkan terjadi. Klik play dan… format error! Oooh… file rekamannya rusak.
Dengan penuh perasaan tidak enak, aku bertanya, “Mbak, wawancara yang tadi bisa kita ulang?” Alhamdulillah, beliau karena sudah angkatan tua, tidak banyak kegiatan, dan bisa menemaniku sampai siang. Wawancara ketiga. Hasilnya aku cek lagi dan format error! Tidak berhenti di situ… bencana merembet ke files lainnya. Ternyata memang perekamnya benar-benar rusak sekarang. “Mbak, rusak ternyata perekamnya…” Wah! Alhamdulillah rusaknya baru sekarang, tidak dari kemarin-kemarin.
Aku mengeluarkan senjata terakhirku. Sebuah camcorder yang baru saja dibeli, dan alhamdulillah terbeli di saat yang tepat. Dengan itu aku bisa merekam suara. “Mbak, wawancara lagi ya?” Kali ini aku benar-benar diminta untuk membuat daftar pertanyaan untuknya. Dia jujur sekali bahwa dia bingung karena tidak paham wawancara ini sebenarnya mau dibawa ke mana. Aku hanya berkata dalam hati, jangan-jangan memang begitulah anak pers bekerja dan berpikir.
Kalau wawancara itu persiapkan dulu pertanyaannya, jelaskan maksudmu baik-baik, perikasa perekamnya rusak atau nggak, aku menasihati diriku sendiri. Bagus lah, aku dapat pelajaran bagus hari ini. Yeah, ini bermanfaat dan aku merasa malu pada ketidaktahuanku tentang hal-hal penting macam itu.
Akhirnya, lokasi wawancara kami pindah ke ruang seminar di lantai tiga. Ya, berjalan lancar… wawancara keempat kulakukan sebaik mungkin. Aku seperti sedang dilatih jadi wartawan atau apapun namanya yang tukang mewawancarai orang. Betul-betul sangat berterima kasih aku pada mbak itu. Sangat berterima kasih atas kesediannya bersamaku 2,5 jam lamanya dan wawancara empat kali.
Siang itu aku pulang dan… dalam dua hari triangulasi selesai. Memang capek dan awalnya dipenuhi banyak ketidakpastian (tidak kenal siapa, di mana, bagaimana), tetapi ada banyak pelajaran yang didapat, terutama “peliharalah silaturahim”. Lebih dari itu, terima kasih Allah😀 atas pertolongan-Nya yang indah di saat aku tidak tahu harus berbuat apa.
Haha… itulah sekelumit pengalamanku melakukan trianglusi. Aku sedang menunggu kesempatan untuk triangulasi subjek keduaku yang mungkin bisa dilakukan minggu ini. Insya Allah… mudah, lancar, dan senantiasa diberi petunjuk oleh-Nya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s