Diari Skripsi Bag. 9: Hargai Kemajuanmu meskipun Sedikit

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/245/Diari-Skripsi-Bag.-10-Hargai-Kemajuanmu-meskipun-Sedikit

May 7, ’11 9:07 PM

Salah satu semboyanku selama mengerjakan skripsi: Syukuri yang sedikit untuk bisa mensyukuri yang banyak. Itu terinspirasi dari salah satu hadist nabi favoritku. 
 
***
Skripsi itu memang bukan pekerjaan secepat kilat karena ada banyak sekali hal yang harus dilalui. Satu-satu dilakoni, syukur-syukur maju, atau kalau ternyata masih salah, ya mundur lagi untuk kemudian maju lagi dengan penuh kehati-hatian dan kesabaran… untuk kemudian mundur lagi, bisa jadi… lalu maju lagi… untuk kadang dimundurkan lagi oleh dosen, “Perbaiki berdasarkan catatan di dalam, ya.” Dan, “Oke, Bu.” 
 
Jika mendapatkan reaksi “mundur” seperti itu, dahulu, aku kesal bukan main karena ini terkait langkah-langkah menyelesaikan skripsi yang tertahan. Ingin sekali bisa berlari secepat kilat mengejar deadline, tetapi apa daya ketika juga ada terlalu banyak hal yang terjadi di luar skripsi? 
 
Deadline yang sudah ditetapkan dan tidak dapat tercapai harus dengan berat hati direalistiskan, misalnya, dari yang semula ingin diwisuda April 2011, jadi harus Juli 2011, dan sekarang sepertinya jadi Oktober 2011.  Hmm… Sempat aku berpikir, kalau seperti ini, buat apa ada deadline? Kemajuanku lambaaaat sekali. Sering majunya sedikit, mundurnya banyak. Sering pula majunya sedikit, selanjutnya sedikit lagi. Serba sedikit-sedikit.
 
Tapi, lama-lama setelah dipikir-pikir lagi dalam perenungan atas “nasib buruk” ini, aku sadar bahwa yang sangat membuat stres itu bukan skripsinya, bukan dosennya, bukan deadline-nya, tetapi pikiran “kemajuanku lambat” itu. Aku tidak bisa membuang beberapa kenyataan yang menghambat, tetapi mengapa aku tidak berpikir, “Meskipun lambat, kan tetap maju.“? Dan, daripada berpikir selesai skripsi kapan, lebih baik, “Target hari ini tercapai, tidak, meskipun sedikit?
 
Lalu, kupikir lagi, apakah benar kemajuanku lambat? Jika dibandingkan dengan beberapa teman yang sudah 3/4 tahun mendaftar skripsi dan belum melewati Bab 1, aku termasuk cepat untuk ukuran mahasiswa psikologi di kampusku. Jika dibandingkan dengan mereka yang 1/4 tahun belum juga dapat judul, aku lebih bersyukur lagi. Jadi, apa yang membuatku tidak puas dan tidak menghargai diri serta pencapaianku? 
 
Aku sadar bahwa aku lebih banyak menyesali waktu-waktu “kosong” daripada menyadari bahwa skripsi bukanlah satu-satunya hal yang aku pikirkan sehingga wajar ada waktu “kosong” untuk merasa kehilangan semangat dan tidak tahan dengan masalah, ingin istirahat, harus kuliah, harus membantu organisasi, dan lainnya. Apakah “kekosongan” itu tidak ada manfaatnya? Dari sudut pandang “ini skripsiku” iya, tetapi dari sudut pandang “ini hidupku”, ada terlalu banyak hal yang sangat aku syukuri hadir selama masa ini, sampai tidak bisa disebut atau diingat lagi.
Lanjut, meskipun lambat dan maju-mundur, yang lambat itu tetap berjalan maju, kan? Yang maju, tetap maju, sedangkan yang mundur, secara esensial itu tetap maju, hanya saja caranya beda. Meskipun harus memperbaiki sana-sini, tetap saja ada yang aku pelajari, tidak hanya soal psikologi dan skripsi, tetapi juga tentang aku sendiri sebagai manusia.
Karena skripsi ini aku jadi tahu, “O… beginilah masalahnya, grhhh… dan inilah rasanya sabar dan tidak sabar,” atau, “O… beginilah hikmahnya, setelah beberapa lama, dan inilah rasa senang dan tidak senangnya.” Jadi tahu, beginilah rasanya bersemangat, lalu besok putus asa, lalu bangkit lagi dengan PD-nya, lalu “Eh, masih salah to?
Tahu rasanya tidak berdaya dan panjang sekali berdoa semoga, semoga, dan semoga, amin. Tahu rasanya, “Oh, aku tahu, aku bisa!” dan ternyata, aku belum bisa, aku masih bodoh dan tidak tahu apa-apa, makanya semangat belajar lagi. Juga, ketika tahu perasaan teman ketika dia juga sama lambatnya, aku jadi bisa bilang, “Semangat, semangat! Kita pasti bisa!” lalu tersenyum dan bertekad wisuda sama-sama.
 
Tahu rasanya melenceng dari jalan menuju tujuan dan tahu rasanya kembali pada jalur yang benar? Itu kebahagiaan yang lain.
 
***
Aku berharap indahnya skripsi nanti, ketika sudah dijilid dengan cover warna biru muda dan ditandatangani, lalu salah satunya disimpan di perpus kampus, satunya di-softcopy-kan, duanya dibawa dosen, dan sisanya untukku dan beberapa orang, bukan hanya karena nilai A dan seberapa cepat aku menyelesaikan semua ini, melainkan juga karena…
 
… ada cerita di balik “selesai” itu.
“Selesai” itu hanya satu kata yang mengakhiri suatu perjalanan, tetapi cerita tetap dapat terus diulang-ulang untuk diperdengarkan karena segala peristiwa suka-duka, naik-turun, cepat-lambatnya itu. Kupikir, aku tidak mau menukar “makna skripsi” demi nilai atau seberapa cepat waktu pengerjaan skripsi (ngebut tanpa makna, maksudku).
Hari ini, aku mungkin hanya bisa berharap, semoga SEMUA ini, dari awal sampai akhir, berharga, terutama bagi masa-masa berikutnya dalam kehidupanku yang tidak pernah aku tahu, dan diridhai Allah. Semoga yang berbahagia terkait skripsi ini bukan aku saja, tetapi juga banyak orang, terutama yang di sekitarku, keluarga dan teman-teman semua.
Aku tidak dapat mengatakan bahwa proses yang lambat ini tidak ada gunanya karena pasti ada gunanya, meskipun aku tidak tahu apa. Akhirnya, memang, aku tidak bisa tidak mengucap alhamdulillah, alhamdulillah, dan alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s