KKN Story Bag. 2: Kuliah “Mendengarkan”

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/86/KKN-Story-Bag.-2-Kuliah-Mendengarkan

Aug 10, ’10 1:09 AM

*Kuliah mendengarkan hanya membutuhkan (sepasang) telinga, otak yang sehat, kesempatan, dan niat mendengarkan.*
Selama ada manusia, di situ ada suara, maka di situ ada kuliah “mendengarkan”. Setiap orang bukannya tidak bisa mendengar, tetapi tidak semua bisa mendengarkan, bukan? Nah, apa hubungannya dengan KKN? Nah, ternyata KKN adalah sarana penting untuk belajar mendengarkan.
***
Kita sering mendengar ada orang yang ingin didengarkan. Dalam pertemuan, hobinya berdehem, mengetuk-ngetuk mic, “mohon tenang”, atau siiiiing…. diam, dan menunggu sampai pendengar paham kesalahannya: tidak mendengarkan. Yang paling parah mungkin adalah mereka yang hobinya marah-marah karena diabaikan. Seperti apa orang yang layak didengarkan atau hal apa saja yang pantas kita dengar? Atau bagaimana cara mendengarkan?
Inilah kuliah pertama. Pada intinya kuliah pertama adalah tentang bagaimana memilih antara mana yang kerikil dan mana yang berlian. Ada orang yang memandang kerikil sebagai berlian, ada yang memandang berlian sebagai kerikil.  Kupikir tidak ada yang salah jika kita memutuskan tidak mendengarkan, jika kita tahu yang sedang kita dengar tidak berguna. Nah, jika kemudian kita memutuskan berusaha memperhatikan untuk alasan menghargai, ini masalah kepatutan dalam berhubungan sosial. Selain minta didengarkan, orang-orang memang sering juga minta dihargai (bukan untuk didengarkan lantaran “berliannya”). Bukan dihargai untuk apa yang dibicarakan dan layak didengarkan, tetapi agar ia dapat berbicara dengan tenang dan aman untuk merasa bahwa dirinya baik-baik saja dan didengarkan. Tidakkah kita berbaik hati dengan meluluskan keinginannya?
Inilah kuliah kedua. Belajar mendengarkan baik perkataan manis maupun pedas. Jika tidak mau dianggap sombong, diam. Jika tidak mau dianggap kurang ajar, juga diam. Telinga ini tidak dapat pilih-pilih siapa yang akan didengarkannya. Orang yang berbicara akan terdengar, tinggal kita akan memutuskan apa. Jika orang berkata tentang hal yang menyenangkan, tentu itu akan menyenangkan pula bagi kita. Tetapi, hati-hati, kita dapat lengah atas keadaan karena terlampau bersenang-senang. Jika orang berkata hal yang tidak menyenangkan, menyakiti hati, pedas, dan panas… Adalah hak kita untuk membela diri jika kita tidak pantas mendapatkan perkataan tersebut. Tetapi, hubungan baik dapat dijaga jika kita mau sebentar saja menahan diri dari ikut mengatakan hal tidak menyenangkan yang serupa. Sering, yang buruk-buruk memang pantas kita dapat karena kita salah. Hal buruk ini sesungguhnya adalah hal baik berkemasan buruk. Kalau kita mau belajar mendengarkan baik-baik, kita akan mendapatkan sesuatu yang berharga dari situasi.
Inilah kuliah ketiga. Belajar diam. Untuk dapat mendengarkan sering yang perlu kita lakukan hanyalah diam. Diam, diam, dan diam, untuk selanjutnya ganti berbicara jika saatnya sudah tiba. Ada gilirannya bagi kita, untuk mendengarkan dan untuk berbicara. Ini lebih dari sekadar alasan diam untuk menghargai orang, tetapi diam karena itulah yang kita butuhkan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan: makna dan manfaat dari apa yang sedang dibicarakan. Kenapa perlu belajar diam? Mudahnya, akan ada saat di mana kitalah yang berharap orang lain diam. Bukan karena kita berharap untuk dihargai, tetapi karena kita ingin hal penting yang kita miliki tersampaikan dengan baik bagi, sekalipun hanya sedikit, orang-orang yang mendengarkan.
***
Mendengarkan, apakah itu dosen atau teman sesama mahasiswa. Mendengarkan, apakah kita memahaminya atau tidak tertarik sama sekali. Mendengarkan, apakah kita akan kecewa atau puas atas informasi yang disampaikan. Mendengarkan, apakah itu hanya sekejap atau berjam-jam dan membosankan. Mendengarkan dan diam. Karena mendengarkan adalah giliran kita sebelum kita dapat benar-benar berbicara berisik tentang sesuatu. Mengalahkan ego yang mementingkan diri sendiri, yang cuma memperhatikan pendapat pribadi, dan yang enggan terbuka pada pengalaman baru…
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s