KKN Story Bag. 3: Menghargai Siapa Itu “Rakyat”

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/87/KKN-Story-Bag.-3-Menghargai-Siapa-Itu-Rakyat

Aug 15, ’10 12:53 AM

Rakyat atau masyarakat, aku tidak ambil pusing bagaimana membedakan di antara keduanya. Saat KKN begini, kita semua hanya sedang menghadapi orang-orang yang jumlahnya sangat banyak yang kebutuhan mereka ingin dapat kita penuhi dengan baik. Ada satu hal yang membuatku merasa KKN sangat berharga untuk diikuti dan dilaksanakan. Sesuai dengan apa kata judul cerita kali ini. Aku belajar menghargai siapa itu rakyat.
***
Rakyat adalah orang-orang yang hidup di suatu wilayah atau negara. Mereka adalah sasaran perlindungan dan pengaturan dari orang-orang yang menjalankan fungsi pengaturan dan pemerintahan. Kupahami, ketika rakyat menjadi dinamis dan menjalankan sebuah sistem, maka rakyat membentuk sesuatu yang dinamakan masyarakat.
Jika di hadapanmu ada dua macam foto, yang satu adalah sosok pria berpenampilan necis dan berkoper, yang satu adalah nenek-nenek berkebaya yang memanggul dagangan menuju pasar… Mana yang kaupikir termasuk rakyat? Si bos perlente atau si nenek tua?
Ada satu hal yang mungkin sedikit kusesali dalam memahami siapakah “rakyat” itu.  Ada konotasi bahwa “rakyat” adalah pihak yang lemah, menyemut di antara gula-gula, yang tangannya senantiasa menengadah, rusuh, dan yang nasibnya ditentukan oleh pihak-pihak yang kuat. Orang-orang yang membicarakan rakyat tampak sering memandang rakyat sebagai suatu kelompok orang yang perlu diayomi, diatur, dilindungi, diarahkan, dan diberi sesuatu oleh pihak yang lebih kuat. Jumlah “rakyat” berjuta-juta, tetapi hidup mereka tergantung pada hanya segelintir orang di pemerintahan. Sebagian menjadi korban orang-orang yang menyatakan dirinya wakil rakyat dan tidak memahami apa itu kedaulatan rakyat. Jika rakyat mengaduh, mengeluh, dan bergerak demi memperbaiki dirinya, mereka dikata rusuh dan berbuat onar. Apakah itu “people power” jika kita boleh bertanya? Haruskah ada darah yang tumpah agar suara rakyat dapat terdengar dan mengubah keadaan?
Apa yang bisa dikatakan oleh mahasiswa yang kini tengah berhadapan dengan rakyat?
Sungguh beruntung menjadi mahasiswa, begitu kata pak tukang ojek pada suatu hari. Kuliah tinggal kuliah, ada orangtua yang membiayai. Sungguh malu jika kemudian pembicaraan mengarah kepada siapa orangtua dan apa pekerjaannya. Aku tak ingin kemudian ada sesuatu yang membuat orang merasa dirinya berbeda dari para mahasiswa karena masalah status sosial dan kemampuan ekonomi keluarga. Sungguh malu jika diri ini menjadi objek tatapan mengharap belas kasihan dari orang-orang yang hidup di jalanan tanpa dapat melakukan satu hal sederhana pun, seperti tersenyum. Atau jika kemudian antara kita dan rakyat benar-benar tidak saling bertatap mata lagi karena memikirkan urusan dan hidup masing-masing, apakah yang dapat menghancurkan tembok ini sehingga dapat kembali bergandengan tangan tanpa keengganan?
Apakah merakyat hanya tugas para pejabat dan orang-orang kaya di pemerintahan?
Jika Indonesia ingin menjadi lebih baik, maka diperlukan bakti mahasiswa. Bakti mahasiswa hanya dapat dilakukan jika kita mahasiswa bersedia merakyat, merasakan suka duka rakyat, turut merasakan jalan yang mereka rasakan di bawah terik matahari memperjuangkan hidup. Inilah ruh yang ada dalam gerak mahasiswa apapun programnya, merasakan hati rakyat yang bingung, marah, sedih, dan penuh kedukaan, dan merayakan bersama-sama kegembiraan hati mereka.
Apakah kita pernah berpikir kitalah yang akan menggerakkan Indonesia di tahun-tahun ke depan? Jika hari ini kita mengkritik para pejabat yang tidak merakyat, mengapa tidak kita mengevaluasi tindak-tanduk kita semasa muda dan belajar merakyat? Tidakkah kita ingin uluran tangan kita disambut, tidakkah kita ingin berbuat sesuatu hal yang besar dan bermanfaat? Tidakkah kita ingin menjadi bagian dari penggagas solusi dan bukan bagian dari masalah?
Jika “ya”, tidakkah mulai sekarang kita menghargai rakyat yang ada di hadapan kita? Mari kita berhenti memikirkan diri sendiri, terutama jika itu hanya masalah nilai KKN A, B, atau C. Apa arti sebuah nilai jika kita tidak mampu mempelajari esensi ada dalam masyarakat? Ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan: masa depan. Menjadi apakah kita nanti? Apakah kesempatan KKN ini mampu membuat kita belajar untuk hidup jujur, disiplin, dan penuh dedikasi? Apakah KKN ini mampu membuat kita mengarahkan cita-cita untuk menjadi manusia-manusia yang lurus dan bermanfaat bagi sesama.
Inilah negara, laboratorium hidup bersama. Aku hanya sedang belajar menghargai rakyat sebagai prediktor yang membuatku, mungkin atau pasti, dapat belajar sesuatu tentang mau jadi apa aku nanti. Kalau kita mau melihat lebih dekat, ada banyak hal yang dapat dipelajari dari siapa itu rakyat, apakah mereka pemulung atau pedagang di pasar. Mereka mungkin tidak akan membutuhkan kita yang tidak mau peduli. Tapi, jika kita mau sukses, sukses kita ada di antara rakyat. Rakyat inilah yang akan menilai, apakah kita, mahasiswa,  manusia yang bermanfaat atau sama sampahnya seperti koruptor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s