KKN Story Bag. 5: Diari KKN dan Buku Catatan Amal Perbuatan, Sebuah Analogi

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/91/KKN-Story-Bag.-5-Diari-KKN-dan-Buku-Catatan-Amal-Perbuatan-Sebuah-Analogi

Aug 19, ’10 2:19 AM

Terasa betul perjalanan KKN dan kini sudah memasuki hari-hari terakhirnya. Lima hari lagi KKN selesai. Satu hal yang merekam perjalanan 30 hari sebelumnya adalah sebuah diari yang kubuat setiap hari selama KKN. Awalnya diari ini kubuat hanya untuk membantuku membuat laporan kegiatan KKN. Sekalipun laporan sudah selesai, tidak ada alasan bagiku untuk berhenti menulis di dalamnya sampai hari terakhir. Jangan biarkan awal tanpa akhir. Setidaknya, aku ingin menyimpulkan sesuatu darinya.
Kesimpulannya tidak sulit. Memang ada banyak hal yang dipelajari, tetapi lebih dari itu… Mungkin, beginilah gambaran apa itu catatan amal perbuatan yang kupahami lewat diari yang kutulis setiap hari demi sebuah nilai yang baik di akhir KKN.
Dalam mengerjakan buku catatan ini:
Pertama, aku punya niat mendapatkan nilai A untuk KKN ini.
 
Kedua, aku tidak menunda-nunda mencatat apa yang harus kucatat sehingga tidak ada yang terlupa dan pada akhirnya, aku punya catatan yang cukup lengkap.
 
Ketiga, aku menyadari apa yang harus kulakukan demi sebuah nilai yang baik: miliki aktivitas yang positif selama KKN. Demi sebuah laporan yang tidak menguras tenaga karena suatu kepalsuan…
 
Keempat, untuk sebuah aktivitas yang positif, ternyata aku yang harus punya inisiatif pribadi untuk mendapatkannya. Artinya, bodoh jika aku menggantungkan diri pada orang lain atau situasi. Sering orang lain tidak punya semangat yang sama dan situasi sering terlalu datar seperti tidak ada masalah apa-apa…
 
Kelima, terasa menyenangkan ketika mengetahui bahwa diri ini sudah melakukan hal baik.
 
***
Tidak semua orang mengimani bahwa di kanan dan kiri mereka ada dua malaikat penjaga, yang senantiasa bertugas mencatat amal perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk. Buku amal ini senantiasa terisi sampai akhir hayat datang. Di hari akhir nanti, buku ini akan ditunjukkan kepada kita layaknya sebuah laporan. Amal-amal yang ada di dalamnya akan dihitung. Jika lebih banyak amal baiknya, kita selamat. Sebaliknya, jika lebih banyak amal buruknya, kita celaka.
 
Terkait dengan KKN ini, tidak semua mahasiswa menyadari pentingnya membuat diari KKN demi kelancaran laporan akhir mereka. Ada sebagian mahasiswa yang menyadari pentingnya ini dan menciptakan mekanisme pencatatan yang berbeda-beda. Ada yang canggih dengan “malaikat” dalam kelompok KKN mereka, ada yang mencatat secara pribadi di buku catatan atau di laptop. Ada yang disiplin dalam melakukan pencatatan, ada yang error dan melewatkan hari-hari penting. Di akhir, ada mahasiswa yang dapat dengan mudah merangkai laporan mereka karena mereka punya buku catatan yang baik, ada yang menjadi sibuk bukan kepalang, pinjam catatan orang lain, bahkan melakukan wawancara intensif seputar kegiatan KKN yang terlupakan atau terlewatkan. Beda kualitas, memang, tetapi semua mahasiswa dapat lega sesuai keadaan masing-masing ketika melihat laporan yang berhasil dijilid rapi dibawa pergi oleh koordinator menuju tempat penilaian. Tugas selesai.
 
Rasanya ingin tertawa bahwa akhirnya aku sedikit tahu perasaan senang ketika: 1. Berhasil dengan sabar dan disiplin membuat diari, 2. Melakukan aktivitas-aktivitas bermanfaat selama KKN, 3. Membuat catatan yang rapi, 4. Laporan dan isinya adalah jerih payahku, memanfaatkan kemampuan dan sumber daya yang ada, dan tanpa manipulasi, dan 5. Tengah bersiap mendapatkan nilai baik.
 
Aku bertanya pada diri sendiri, apakah seperti ini yang akan kurasakan kelak di hari akhir jika selama hidup aku berhasil membuat malaikat mencatat banyak amal perbuatan yang baik dan disukai Allah? Perasaan senang ini sungguh sulit dilukiskan. Ia dapat membuatmu tersenyum sepanjang mencatat perjalanan hari KKN. Ia dapat menyemangatimu untuk melakukan hal yang lebih baik lagi di hari berikutnya. Dan tampaknya, perasaan senang ini muncul berbanding lurus dengan aktivitas seperti apa yang kau lakukan. Semakin aktivitas itu bermanfaat bagi orang lain, rasa senang dan bahagia semakin besar. Kusimpulkan, beginilah memahami apa itu makna hidup.
 
Sekalipun demikian, ada satu masalah yang kini kuhadapi. Walaupun esensi mencatat dalam diari KKN dan buku catatan amal adalah sama, tampak lebih sulit menghayati buku catatan amal yang disediakan Allah bagi manusia.
 
Pertama, buku ini tidak kelihatan dan malaikat yang mencatatnya juga tidak kelihatan. Benar-benar mengandalkan sejauh mana kau beriman pada hal-hal yang gaib.
 
Kedua, kalau kau tidak benar-benar mengimani ada pahala dan dosa, surga dan neraka serta hari akhir, kau tidak akan dengan serius menanggapi bahwa buku ini benar-benar ada (kabar gembira dan ancaman ini sama saja seperi LPPM yang menetapkan lulus dan tidak lulusnya mahasiswa yang KKN sehingga mahasiswa menjadi serius dalam KKN).
 
Ketiga, ini buku ditulis sepanjang hidup dan berakhir sampai matimu, lebih dari 35 hari KKN. Pengadilannya masih bertahun-tahun lagi. Manusia yang lalai akan santai-santai saja dalam menghadapi ini dan berpikir masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan yang rusak.
 
Keempat, tidak semua manusia hidup dengan orientasi dan semangat mendapatkan  “nilai A” di mata Allah.
 
Kelima, jika mahasiswa takut pada Dosen Pembina Lapangan (DPL) mereka yang sewaktu-waktu melakukan inspeksi mendadak, tidak semua manusia takut pada Allah yang Maha Mengetahui segala perbuatan yang tampak maupun hanya di dalam hati. Lenggang kangkung adalah perbuatan biasa dilakukan manusia di dunia…
 
Pada akhirnya, aku mengambil contoh masalah yang menimpa mahasiswa-mahasiswa yang teledor dalam mengisi diari dan error dalam menyelesaikan laporan mereka. Bingung setengah mati dan sibuk memanipulasi. 
 
Jika hal ini menimpa kita di hadapan Allah lantara kita teledor dan error selama hidup di dunia? Ugh… sungguh, tidak pernah ada manipulasi yang lolos untuk menyelamatkan kita dari nilai buruk.
 
Kesimpulannya, selamatlah kita. Untunglah selama 35 hari KKN dan kemudian bersiap lulus dengan nilai baik… LPPM, DPL, camat, lurah, dan teman-teman yang menilai kita adalah manusia biasa. Tapi, STOP. Berhenti berpikir bodoh untuk nilai sesungguhnya dalam kehidupan kita. Tugas malaikat pencatat amal lebih dari sekadar apa yang bisa dilakukan oleh spy stuff  dan  CCTV super canggih. 
 
Kesimpulannya, ambil pelajaran dari 35 hari KKN ini dan laporannya yang merepotkan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s