Oleh-oleh dari Bumi KKN: Kumpulan Puisi

Original Source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/95/Poetry-of-The-Week-Oleh-Oleh-dari-Bumi-KKN

Aug 24, ’10 11:56 PM

Sudah menjadi kebiasaan, aku benci rasa bosan dan obatku bagi suatu penantian adalah menulis atau membaca atau sekadar jalan-jalan untuk melihat-lihat. Kegiatan KKN tidak pelak lagi mengandung sedikit kebosanan jika harus menunggu, menunggu, menunggu…
Berikut ini adalah beberapa puisi yang kutulis selama masa KKN. Mungkin sedikit aneh isinya karena ketika menulisnya aku sedang stres karena bosan atau mungkin juga sedih… karena bosan. Tapi, ada juga ketika perasaanku tidak dapat dijelaskan. Haha… tak usah dipikirkan.
Sebelum mulai menuliskannya, kuucapkan terima kasih pada teman-teman yang selama ini menyedekahkan selembar kertas dan sedikit tinta untukku. Terima kasih banyak ^^
***
3 Agustus 2010
Pagi ini untuk sebuah kesan, tentang apa aku akan bercerita?
Apakah tentang orang-orang yang kutemui?
Atau tentang apa yang akhirnya dapat kulihat?
Bolehkah kupercaya bahwa hari ini akan berlalu?
Tawa, canda… berubah gema.
Tetapi mengingatnya, entah bagaimana senyumku berkembang lagi.
 
Aku hanya melangkah seperti cara orang lain melangkah.
Menghirup napas layaknya makhluk-makhluk yang bernapas…
Begitulah, layaknya siapapun yang dapat berbuat.
 
Masa yang indah, ketika ada kenangan yang menyembuhkan hati yang terluka,
Ada yang bisa diingat untuk masa depan yang mungkin tidak ada.
Ada yang bisa diingat…
Ada yang bisa diingat, tentang aku, kamu, kita semua.
Ada yang bisa diingat, suka duka yang membentuk wajah kehidupan.
***
Waktu kangen adik tersayang…
Adikku di rumah… yang wajahnya kukenalkan
agar kalian tahu bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia tertawa, atau bagaimana ketika ia berkata:
“Kapan kakak pulang?”
 
Aku sering berpikir lain, andaikan hidup ini bukanlah ini.
Andai semuanya terbalik, adakah perasaan tetap sama?
 
Aku yang akan menunggu di tepi jendela, menunggui hujan yang belum juga berhenti.
Aku yang menunggui derit suara pintu, untuk membuka dan melihat sosok yang disayang muncul dengan sejuta jawaban untuk janjinya hari ini:
“Mari kita main!”
***
Ketika menunggu petugas LPPM datang berkunjung…
Apa yang bisa membunuh waktuku?
Aku benci obrolan, dan teringat buku-buku di rumah…
Ada saat di mana aku muntah, memaksa membaca ketika ada dalam perjalanan.
Tetapi itu yang membuatku tertidur, lalu bangun untuk berencana.
Aku akan melanjutkan cerita ini nanti, besok…
 
Apa yang bisa membuatku melupakan berjam-jam waktu yang berdetak?
 
***
Aku merindukan berbagai kisah yang enggan orang lain dengar.
Bunga dari fantasi, tertoreh dalam jutaan kata,
kuhabiskan masa-masa panjang, penuh kebosanan dalam bilik kecilku.
 
Apa yang dapat membuat hidupku luas, pada akhirnya… apa yang kupikirkan:
Tentang dunia yang lain.
 
***
Aku berpikir tentang orang-orang… apa yang mereka pikirkan?
Aku berpikir tentang gemuruh suara mereka… apa yang mereka bicarakan?
Adakah pemahaman sementara mataku bukan milikmu.
Aku berusaha memahami cerita dan kubuka lembaran baru tentang hidup,
hidup kita semua tentang perbedaan yang tidak tertolong lagi.
Perbedaan yang mungkin tidak menyisakan satu persamaan pun.
 
Aku berpikir tentang kita semua, sampai kapan semua ini berakhir?
Ketika semua orang saling menyambut tangan dan merasakan hangat denyut jantung,
yang membuat cerita ini mengalir.
 
***
15 Agustus 2010
Menunggu teman nge-print… Lama… Hari EXPO di Pedurungan… Panas betul cuacanya…
 
Kita berpikir tentang sesuatu
tentang apa yang ideal, yang melambungkan asa sehingga kita melangkah.
Atau tentang kegagalan dalam mewujudkannya, yang membuat kita belajar.
 
Mungkin hanya dapat terdengar seruan bosan hati-hati yang tidak tenang.
Sementara waktu berlalu, masih ada harap yang dinanti.
Apa jadinya jika dunia berakhir,
sementara jerat membuat diri terus menatap ke belakang?
 
Sementara kita sama-sama menatap bintang,
hanya kusadari semua orang punya jalan yang berbeda.
Apapun nada tetap berbuah melodi.
Ada saatnya untuk berpisah di persimpangan.
Ada saatnya untuk mengarah pada jalan masing-masing.
 
Ada saatnya kita akan berpikir lagi tentang sesuatu.
Tentang apa yang ideal untuk menjadi cita-cita.
Tentang apa yang senyatanya untuk sebuah kebijaksanaan.
 
***
Menunggu sendirian… di puskesmas pada suatu hari.
 
I
Merasa sendiri… itulah takdir yang aneh.
Di mana pun ada tembok yang berusaha kau lampaui, mereka semakin menghimpitmu, sedang kau masih bertanya bagaimana caranya bernapas.
Mereka menghilangkan cahayamu, sedang kau masih bertanya bagaimana menemukan jalanmu.
 
II
Masa depan… terjalin erat dengan gema sebuah pesan,
tentang berjuta keinginan.
Kau pandangi langit, bertanya tentang keberadaanmu.
Tangis yang pernah membanjirinya, adakah punya makna?
Peluh yang mengiringinya… 
kau menutup mata, memikirkannya.
 
III
Aku makhluk yang akan berakhir, atau besok akan pergi?
Atau saat ini kuberpikir tentang kepergianku ke tempat di mana aku akan sendiri.
… ini takdir yang aneh.
Andai ada sesuatu yang bisa kupegang
atau kemudian kudapatkan senyummu yang menentramkan.
Semuanya akan baik-baik saja.
 
***
Waktu bosan rapat… sore hari… istirahat, please.
 
Melihat ke kejauhan, di tengah perjalanan panjang.
Sementara aku tidak di sana, aku mendengarkan alam yang sedang bersenandung.
Waktu berlalu menuju suatu akhir. Aku berlabuh,
turun di tanah yang baru untuk belajar tentang suatu ketidakpastian.
 
Sementara aku tidak ada di tempat yang lain…
adakah yang mencari kecuali kenangan yang saling mengejar?
Sebuah cerita mengalir, lagi…
melanjutkan setiap napas dan denyut jantung… atau setiap aliran sungai-sungai langit dan bintang-bintang yang bernyanyi. Atau suara dunia…
 
Apakah ia mengeluh?
“Cahayaku hilang, sapaanku lenyap ditelan gemuruh… tanpa kerlingan, akarku tercerabut, ceritaku terputus.”
 
***
21 Agustus 2010
 
I
Dihadapkan pada suatu pertempuran:
keegoisan atau kebersamaan.
 
Riuh rendah seruan,
ketika hati dihadapkan pada dinginnya sambutan, atau kemudian…
senyuman hangat yang meluluhkan kebekuan.
 
II
Terima kasih untuk hari ini,
untuk setiap waktu yang kita miliki bersama,
untuk setiap senyuman yang muncul di wajahmu,
untuk setiap tangan yang membantuku,
untuk setiap cerita,
untuk setiap semangatmu,
sehingga aku punya hari yang indah,
di sini.
 
III
Aku tengah belajar memahami dan semakin meyakini
bahwa…
orang-orang berubah,
seperti apa yang mati kemudian hidup,
yang hidup kemudian bertahan.
 
***
 
24 Agustus 2010
 
I
Terdiam menunggu, waktu bergulir.
Menanti cerita, suara-suara tentang kejadian.
Apa yang sedang kusimpulkan?
Atau, apa yang tengah kusadari?
Kita menatap kebelakang untuk apa-apa yang ditinggalkan:
warna memudar, kejelasan menjadi padam.
Mata ini takut-takut menantang pada apa yang harus dihadapi,
akankah tangan ini disambut?
Untuk sama-sama berharap tidak lagi sendirian.
 
II
Kita semua akan ke mana?
Kita berpapasan, sedikit menyapa, lalu kembali melaju.
Jalan kita berbeda-beda.
Kita saling meninggalkan.
 
Untuk rasa terima kasih yang tiada berakhir,
maukah bertemu lagi nanti?
Kembali bercerita tentang apa-apa yang sudah lewat, yang sedang dihadapi, yang akan terjadi.
 
Kita akan menjadi apa?
Macam perasaan terjadi.
Mungkin akan tetap ada dinding.
Tetapi, kalian, kau, tetap orang-orang dalam hidupku, yang mewarnaiku sampai aku mati.
 
***
Akhir kata… capek,  menulis banyak sekali tulisan kali ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s