Maaf Diriku, Tak Kukenal Siapa Aku

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/295/Poetry-of-The-Week-Maaf-Diriku-Tak-Kukenal-Siapa-Aku

Jul 16, ’11 11:48 PM

Ini hanyalah kumpulan syair.
***
Sadari jiwamu. Jalaluddin Rumi:
 
Hanya dengan ‘pengetahuan’ saja jiwa dapat diuji;
Pengetahuan berlimpah, jiwa yang lebih agung pun abadi.
Jiwa kita melampaui milik si bukan-insan;
Sebab, kian berpengetahuan, ia makin dipahami.
Meski malaikat menyandang jiwa lebih mulia;
Sebab mereka serba kamil nan tak memendam rasa.
Penguasa-sanubari tetap punya jiwa;
Lampaui milik para malaikat! Tinggalkan amalan hina!
 
Itulah mengapa Adam pantas beroleh hormat malaikat;
Jiwanya, telah Tuhan tinggikan, ungguli jiwa mereka.
Sebab, bagaimana mungkin tuhan yang Arif berfirman palsu:
 
Yang lebih tinggi hormati yang rendah?
Tidakkah Keadilan dan Kasih Tuhan menentang,
Seutas onak tanpa harkat dipuja sekuntum mawar?
 
Apakah jiwa itu? Kesadaran akan baik-buruk,
Tak suka kerusakan, gandrung kebaikan.
Dan, sebab hakikat jiwa damba kesadaran,
Yang lebih sabar lebih agung jiwanya.
Sepotong jiwa agung menembusi segala batas,
Semua jiwa lain memuja dan menantinya —
Jiwa manusia dan malaikat, burung dan ikan;
Sebab jiwanya mengangkasa sedang jiwa lain merana.
Dan karena kesadara — ia damba,
Dan ini tidak menciptakan kesan kecuali pada wilayahnya.
Jiwa yang lebih sadar lebih kemilau;
Dan lebih karib mereka akan Tuhan, Ilahi.
Sebab jiwa itu suatu keseluruhan yang bisa dikenali;
Mereka yang tanpa wawasan tanpa jiwa.
 
*Dari “Mathnawi”
 
***
Sadari kemanusiaanmu. Sa’adi:
 
Anak-anak Adam laksana anggota tubuh;
Sebab mereka tercipta dari lempung yang sama.
Jika satu bagian terlanda lara,
Yang lain menderita resah hebat.
Engkau yang ingkar derita manusia,
Tak pantas bernama ‘manusia’.
 
*Syekh Muslihuddin Sa’adi as-Syirazi (1184-1283). Dalam “Gulistan” (Taman Bunga Ros).
 
***
Sadari Yang Gaib. Jalaluddin Rumi:
 
Ratap kesakitan dan air mata luka,
Ketika sakit melanda, menjelma jadi terjaga.
Makin terjaga kian pesti menanggung lara,
Makin sadar kian pucat rona.
Kenali prinsip ini wahai pemburu di kehampaan!
Bahwa wangi hanya terjaring pengemban-derita.
 
*Keprihatinan sufi adalah keprihatinan batin. Derita sufi bukan derita filosof. Sama demi kebenaran, tetapi ingin melebur dalam Kebenaran itu.
 
Hafiz:
 
Malaikat tak kenal cinta, telinga mereka tak tergoda,
Ambil air rozae dan tuangkan di tanah Adam.
 
Wajah-Nya bersinar, Ia melihat malaikat tuna-cinta di atas,
Demikian Ia barakan Adam di api Cinta-Nya.
 
*Shams al-Din Hafiz (1320-1390)
 
***
Syekh Mahmud Syabistari:
 
I
“Siapa aku? Jadikan aku sadar ‘diri’,
Apa maknanya, ‘bergerak dalam dirimu’?”
 
“Lalu engkau menyelidiki tentang, ‘apakah “diri” itu?’
“Jadikan aku sadar ‘diri’, siapakah ‘diri’ itu?”
Ketika ‘yang mutlak’ diakui,
Mereka menyebutnya ‘diri’, nama yang patut.
Ketika ‘determinasi’ tersingkap,
Engkau menyebutnya ‘diri’ dalam prosa sastramu.
Aku dan engkau adalah wajah dari hakikat periada,
Karena lentera periada, adalah raut muka yang terjala.
 
*Puisi mistis tentang sifat ‘diri’.
 
II
“Kau sebut kata ‘diri untuk semua makna,
Menunjuk ‘jiwa’ yang lena dalam insan.
Sementara kearifan-duniawi tetap kau tampakkan sebagai penuntunmu,
‘Diri’-mu, sempalanmu, tak mungkin kau kenali.
Pergilah wahai tuan dan kenali ‘diri’ benar:
Menggemuknya daging bukanlah membengkak.
‘Diri’-ku dan ‘diri’-mu mengungguli wadag dan jiwa;
Karena keduanya adalah noda keseluruhan jasadi.
Bukan pula ‘diri’ terbatas belaka pada manusia,
Kau akan menemukan jiwa yang sama di dalam dia.
Karena sekali menembus Alam dan meninggalkan bumi,
dalam dirimu sebuah dunia tersusun.
 
*Kritik terhadap filosof.
 
***
Jalaluddin Rumi:
 
“Wahai engkau yang kehilangan ‘diri’ di kancah perdebatan,
Dirimu tidak terbedakan dari yang lain,
Kau memuara pada bentuk apapun yang kau tuju,
Berkata: ‘Inilah aku,’ demi Tuhan, itu bukan engkau.
Jika engkau terpisah dari manusia sejenak,
Kau ‘kan tinggal terkapar di puncak ketakutan dan keluh-kesah.
Bagaimana engkau ini? Kau adalah yang maha Tunggal itu,
Karena keu elok, kepayang terhadap dirimu sendiri.
Engkau adalah unggasmu, milik dan mangsamu,
Singgasana kemuliaan, kedhaifan, dan ayunanmu.
Jika engkau anak Adam, duduklah laksana dia dan saksikan,
Dalam ‘diri’-mu semua keturunannya.
 
*Jiwa bukanlah ‘jati diri’. Pengetahuan tentang jiwa bukan merupakan kesadaran diri. Jiwa adalah pengejawantahan dari ‘jati diri’. Karena ‘jati diri’ adalah Tuhan, diri yang dikenali sama seperti setetes air yang jatuh kembali ke laut. Lenyap, semata ke arah kesadaran-diri sejati.
 
***
Maaf diriku, tak kukenal siapa aku.
Bagaimana kukenal siapa aku?
Aku yang kukenal bukanlah aku yang tanpa ragu.
Tentang aku, hanya Engkau yang Tahu.
 
-MOM (My-Own-Mind, 16 Juli 2011
PS: Alhamdulillah, terima kasihku kepada Murtadha Muthahhari atas karyanya yang sempat sampai kepadaku, “Perspektif Al Quran tentang Manusia dan Agama”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s