“Tetralogi Buru” Pramoedya Ananta Toer

Liburan yang menyenangkan. Sembari menunggu hari wisuda, aku menghabiskan waktu untuk memenuhi target membaca. MEMBACA! Ya. Baru sekarang terasa betul waktu luang dan kesempatan membaca adalah hal yang mewah. Harus dimanfaatkan sebaik mungkin…

***

Seminggu terakhir ini aku menenggelamkan diriku dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Karya yang satu ini memang fenomenal; riwayat hidupnya yang luar biasa dan karya-karyanya dianugrahi banyak sekali penghargaan internasional. Sampai akhir hidupnya, dikatakan ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang Nobel Sastra.

Meskipun demikian, bagiku sendiri, fenomenanya lebih dari itu, betapa buku itu mempengaruhiku sedemikian rupa. Benar kata pengantarnya: “Pram tidak menceritakan sejarah sebagaimana terwarta secara objektif dan dingin yang selama ini diampuh oleh orang-orang sekolahan. … Dengan gayanya sendiri, Pram coba mengajak, bukan saja ingatan, tapi juga pikir, rasa, bahkan diri untuk bertarung dalam golak gerakan nasional awal abad.” (Bumi Manusia, h. 8)

Pada awalnya, tepatnya pada paruh pertama Bumi Manusia, aku tidak merasakan apa-apa. Aku memandang buku ini hanya sebagai buku, cerita dan fiksi sejarah, yang berusaha aku pertahankan untuk membacanya. Sampai pada suatu ketika, hari Minggu minggu lalu sepulang dari belanja di pasar swalayan besar di kotaku, di atas sepeda motor, melihat jalanan yang penuh oleh orang-orang yang sibuk, sepeda motor dan mobil berseliweran… Dan…

“Oh iya, ya… Inilah kebebasan itu; kemerdekaan yang 100 tahun lalu barulah sebuah mimpi,” kataku dalam hati. Mimpi… Tentu saja. Kala itu, orang-orang bahkan tidak mengerti arti kata merdeka lantaran ratusan tahun ditindas, direndahkan, dan diceraikan dari kemuliaan, dalam alam penjajahan. Dan Indonesia hari ini, sungguh Indonesia yang lebih baik, jauh lebih baik dibandingkan Indonesia di masa-masa yang lampau, ketika bahkan nama Indonesia belum ada di muka bumi ini sebagai bangsa dan negara.

 

Ingatan-ingatan pernah belajar sejarah Indonesia datang lagi. Pengetahuan itu menghangat karena emosi di mana rasa sedih, kasihan, ikut merasa menderita, rasa ingin ikut berjuang tercampur jadi satu. Dan satu hal lagi: malu. Aku mungkin termasuk dalam generasi yang lupa dan tidak kenal bangsa sendiri. Aku seperti lintah penghisap segala kebaikan yang diberikan Allah lewat kemerdekaan, bumi yang subur dan makmur, dan kesempatan yang terbuka lebar untuk mengaktualisasikan diri. Aku yang tidak atau belum memberikan apa-apa adalah nyata. Aku malu menjadi manusia Indonesia yang memikirkan dirinya sendiri, masa depannya sendiri, kemakmurannya sendiri. Aku malu…

Kebiasaanku mencari kalimat-kalimat bijak, gagal untuk pertama kalinya. Seluruhnya, keempat buku dalam Tetralogi Buru adalah nasihat. Pelajaran hidup bertebaran di setiap halamannya tentang bagaimana menjadi manusia muda yang belajar, terpelajar, hidup merakyat, memperjuangkan kemanusiaan dengan apapun yang dirinya miliki, berprinsip dan teguh memegangnya sampai mati.

5 thoughts on ““Tetralogi Buru” Pramoedya Ananta Toer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s