A Conversation

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/51/Poetry-of-The-Week-A-Conversation

Mar 26, ’10 11:36 PM

Seandainya kita semua berkesempatan berbincang-bincang dengan diri kita sendiri yang berasal dari masa lalu, apa yang akan kita perbincangkan? Hal inilah yang mengusikku sehingga kutulis puisi ini. Apa komentar kalian?

***

Ingat pada masa di mana tahun-tahun berlalu dan hanya menyisakan kenangan, hiduplah manusia yang hari ini menjadi aku.

Ia berdiri hanya disangga dua kaki mungil dan digandeng masuk ke dalam dunia yang selamanya selalu baru.

Ketika ia memandang keluar jendela, pemandangan berubah, tetapi semua senantiasa sama dengan langit yang senantiasa biru.

Ia mengukir guanya: mimpi, langit, tempat lain, dasar laut, hutan, dunia baru…

Ia mendulang senyum, menyusunnya dalam langkah pasti sekalipun dunia terkadang berwajah beku. 

            “Terkadang kita hidup dalam dunia yang mau tahu dan tak mau tahu.”

Suatu hari, ia lelah dan hanya memandang keluar jendela atau langit-langit berdebu.

            “Siapa yang tidak pernah menangis atau merasa malu?”

Begitulah kata hidup yang menjadi guru.

            “Siapa juga yang tidak pernah tertawa lepas atau terharu?”

            “Kita tidak menghitung berapa jumlah hari yang berlalu, tak ada orang yang menghitung berapa jumlah senja dan fajar baru.”

            “Namun, kita menyimpulkan bahwa hidup akhirnya dipenuhi hal-hal yang diadu.”

            “Dunia memang mengulur-tarik tangannya, melukis-hapuskan senyum pada wajahnya, membuka-tutup kesempatan padahal kita ingin melaju.” 

Masa lalu, saat ini dan masa depan mungkin sama, dipenuhi warna-warna yang aku tak mampu menyadarinya, menangkapnya, menyimpannya, dan sebagian kurasakan semu.

Ketika kuingat masa di mana tahun-tahun berlalu dan hari ini aku adalah aku.

Aku menoleh dan tersenyum sebagai sahabat yang ingin bertemu.

Berkenalan kembali dan berbaikan denganmu…

            “Terima kasih, atas lelah, pilu, dan setiap langkah yang tercipta untuk maju.”

            “Masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu?”

            “Tidak pernah ada jawaban yang pasti, bukan? Hati ini selalu punya hidup yang ia rindu.”

            “Ya, ada harinya, kau akan bercerita tentang mendapatkan apa yang kau mau.”

         “Apa daya aku tanpa keinginan dan semangat yang menyatu?”

 
   Banyak cara menjadi manusia, banyak cara untuk tidak menjadi manusia yang ragu.”
 
Begitu…
***
May 13, ’11, edited on May 14, ’11
Ketika kuingat masa di mana tahun-tahun berlalu dan hari ini aku adalah aku.
Aku menoleh dan tersenyum sebagai sahabat yang ingin bertemu.
Berkenalan kembali dan berbaikan denganmu…

“Terima kasih, atas lelah, pilu, dan setiap langkah yang tercipta untuk maju.”
“Masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu?”
“Tidak pernah ada jawaban yang pasti, bukan? Hati ini selalu punya hidup yang ia rindu.”
“Ya, ada harinya, kau akan bercerita tentang mendapatkan apa yang kau mau.”
“Apa daya aku tanpa keinginan dan semangat yang menyatu?”

***
Satu tahun berlalu sejak puisi tersebut dibuat. Kini, kalimat-kalimat di atas menjadi terasa dalam sekali maknanya. Aku ingin berterima kasih pada banyak orang, sekaligus meminta maaf. Semangat semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s