A Story is More Than An Insightful Thought

Aku bisa menulis ini karena aku mengalaminya sendiri bahwa sebuah cerita memang lebih dari sekadar buah pikiran penuh insight. Tahu artinya insight, kan? Insight itu semacam ide yang datang tiba-tiba dalam kepalamu dan kau merasa tercerahkan.

Ada pengalaman menarik berkaitan dengan insight ini. Ia mengakhiri dan mengawali suatu hal dalam kegiatan menulis ceritaku. Aku masih ingat, sekitar 3 tahun yang lalu aku benar-benar berhenti menulis. Bagaimana bisa? Karena waktu itu aku berpikir dan tidak paham mengapa aku bisa punya ide. Aku merasa benar-benar buntu.

Suatu hari, siang hari selepas shalat dhuhur aku bersantai. Aku mendengar suara pintu dibuka dan ibu yang baru pulang dari kantor mengucapakan salam dengan suara yang manis. Seketika…. bummm… insight! Aku membayangkan sebuah awal cerita pendek dan betapa lancarnya aku menulis semuanya dalam tiga jam. Ya Tuhan, itu insight yang membuatku tidak bisa tenang sebelum cerita ini kutuliskan!

Setelah peristiwa itu, aku sangat takjub (?) dengan insight dan berpikiran bahwa cerita itu datangnya dari insight seketika seperti ini. Namun… itulah awal kevakumanku di waktu-waktu berikutnya. Menyedihkan sekali: karena aku menunggu insight.

Beberapa waktu terakhir, aku menggemari kisah-kisah fiksi yang dibuat para fan atas tokoh cerita favoritnya di internet. Aku merefleksi dengan pengalaman masa kecilku sendiri ketika aku juga suka membuat fiksi sendiri atas cerita yang alurnya tidak sesuai dengan harapanku. Aku jadi sadar bahwa cerita itu datang dari berpikir panjang dan bahkan sangat panjang. Lebih dari sekadar insight. Ia berawal dari satu titik kejadian yang kau kembangkan beberapa lamanya, beberapa jam, hari, minggu, bahkan tahun. kau perlu mencari data, mengamati kehidupan orang lain, mengamati lingkungan, merasakan banyak hal, dan sebagainya.

Pengetahuan ini pula yang membuatku mendapatkan jawaban atas pertanyaan, mengapa ada banyak penulis yang membuat novelnya selama bertahun-tahun. Karena mereka berpikir dan tidak mengharapkan insight. Rasanya sekarang, orang bodohlah yang hanya mengharapkan insight😀

Menulis itu butuh belajar. Belajarnya butuh usaha. Awalnya kita hanya bisa membaca karya orang, tetapi pada akhirnya kita akan bisa membuat karya kita sendiri. Betul betul betul? BETUL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s