Aku dan Perpustakaan

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/40/Aku-dan-Perpustakaan

Aku menulis ini karena perpustakaan menjadi sesuatu yang spesial dalam hidupku. Hidup selama dua puluh tahun ini, beberapa persennya kuhabiskan dalam perpustakaan. Beberapa persennya? Entahlah… karena aku selalu dikelilingi oleh lembaran-lembaran kertas dan tumpukan buku, baik yang kubaca atau tidak.

Pertemuan pertamaku dengan perpustakaan, anehnya, adalah ketika aku berusaha mendirikannya pada usia 8 atau 9 tahun ketika aku kelas IV SD. Ide itu muncul hanya karena aku punya beberapa buku, sementara anak-anak lain tidak (maklum, saat itu aku tinggal di desa). Aku hanya punya beberapa judul dan aneh, aku yakin sekali dengan ide mendirikan perpustakaan buat anak-anak satu desa. Tidak ada hal yang profesional: label tidak ada dan identitas buku hanya ditulis pensil. Tidak ada biaya peminjaman dan pada suatu sore aku menulis di secarik kertas yang lalu kutempelkan di pintu depan rumah yang terbuat dari kayu: PERPUSTAKAAN DIBUKA. Apakah yang kalian pikirkan?

Sebenarnya, setelah itu tulisan itu segera kucabut. Aku malu. Aku tidak percaya diri membuka perpustakaan begitu karena rasanya jelek sekali. Akhirnya, setelah itu aku hanya menikmati buku-bukuku sendirian bersama adik-adikku. Judul pertama yang kupunya adalah Alfred Hitchock dan Trio Detektif: Misteri Tengkorak Bersuara dan Goosebumps: Hantu Penunggu Sekolah. Mengerikan, seumur hidup pada masa kecilku, aku seram melihat cover kedua buku itu. Ketika aku kelas V, aku pindah rumah. Hadiah dari desa kutemukan di sudut rumah yang tak kuingat. Satu set novel Musashi volume 1 sampai 7! Wow! Sebelum akhirnya diterbitkan kembali dalam bentuk yang lebih gemuk, aku sudah selesai membacanya pada kelas V SD.

Di rumahku yang baru, di daerah yang lebih kota, aku benar-benar mendirikan perpustakaan, tepatnya persewaan buku. Saat itu koleksiku bertambah: Doraemon, Detektive Conan, Ninja Hatori, Donald Bebek, Goosebumps yang semakin banyak, Alfred Hitchock dan Trio Detektif yang semakin banyak, Seri Tokoh Dunia, dan beberapa judul yang tidak kuingat lagi. Di rumahku yang sangat sederhana, perpustkaan tersebut hanya terdiri atas satu rak ukuran 40×40 cm yang menjadi satu dengan rak televisi. Aku menatanya dengan seksama. Aku lupa bagaimana aku mengumumkan bahwa aku membuka perpustakaan itu, yang jelas lumayan laris di kalangan teman-teman sekelas.Aku sudah cukup profesional: ibu membuatkan cap “Perpustakaan Pribadi Keluarga…”, aku membuat buku peminjaman, menentukan ongkos sewa (Rp300 – 500 per buku! Itu terlalu murah!), membuat daftar tagihan (yang sering tidak didengarkan sehingga apalah artinya denda)… Pendapatan pertamaku kira-kira Rp25.000 rupiah yang kubelikan buku yang pertama kali dibeli dengan uangku sendiri: Detective Conan Vol. 24. Senang sekali! Tetapi, kesenangan itu tidak bertahan lama karena…

Berdiri persewaan lain yang lebih keren!!!

Letaknya tidak jauh dari rumah… teman-temanku beralih pergi ke sana karena buku-bukuku sudah banyak dibaca. Aku bahkan menjadi anggotanya dengan nomor anggota yang masih kuingat: 056. Buku pertama yang kupinjam: Detective Conan Vol. 5 yang cerita pertamanya ada korban mutilasinya itu. Aku ketakutan membacanya (Kenapa buku-buku bacaanku begini…? ^^’). Akhirnya, perpustakaan pertamaku ditutup. Dan tidak pernah dibuka lagi sampai saat ini.

Selanjutnya, aku menghabiskan hari di perpustakaan sekolah. Aku suka perpustakaan SMP, SMA, dan Fakultas di mana aku kuliah sekarang. Beberapa buku sangat mengesankanku.

Aku membaca banyak, entah dengan siapa aku berkompetisi membaca, mungkin dengan diriku sendiri. Berhubung uang sakuku untuk jajan waktu SMP mepet sekali dan sayang kalau dibuat jajan, waktu istirahat kuhabiskan di perpustakaan. Aku suka membaca novel Karl May: Di Pelosok-Pelosok Balkan (aku mencari volume ke-3-nya!), komik Gen Si Kaki Ayam tentang Perang Dunia II, buku-buku tentang pahlawan, Sumbangsihku Pertiwi, biografi J. A. Dimara (motto hidupnya: Fa Ido Ma, Ma Ido Fa; Memberi karena menerima, menerima karena memberi), dan judul-judul lainnya. Di bangku SMA, aku lebih banyak membaca pada buku-buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Di awal kelas X, entah kenapa aku tertarik pada sebuah buku Biologi gara-gara gambar-gambar sel yang diperbesar sangat menarik. Di SMA aku berkenalan dengan Laila Majnun, Gibran, cerpen, novel-novel serius, ensiklopedia, dan buku-buku yang sifatnya ideologis. Di bangku kuliah, aku lebih banyak fokus membaca buku yang berkaitan dengan psikologi. Di samping itu, aku mulai memperhatikan keadaan perpustakaan keluarga sendiri. Ternyata ada banyak buku yang belum kubaca. Di samping itu, aku mulai berambisi mengumpulkan buku-buku sehingga tidak heran dalam tiga tahun terakhir sebagian besar pengeluaranku habis di pos buku.

Setiap kali ke toko buku, aku selalu merasa miskin dalam artian, tidak ada kata cukup dan puas. Bagi yang punya duit mungkin tidak begitu memperhatikan hal ini ketika tidak ada kecemasan dalam mengeluarkan uang untuk beli buku. Dengan uang yang tidak banyak di dompet, aku menyusuri toko buku dengan hati-hati: pilih judul, lihat harga, menjumlah dalam kepada, membatalkan atau jadi beli. Itulah mengapa aku membangun strategi untuk mengetahui mana buku bagus. Itulah mengapa aku luar biasa sedih jika buku yang kubeli mengecewakan (Semua orang tampaknya juga begitu, sedih jika mengalami hal yang mengecewakan ^^).Tidak ada yang lebih mahal daripada buku, benda termahal yang kubeli selama hidupku adalah buku. Jika kutotal, mungkin sudah beberapa juta rupiah kuhabiskan untuk buku dan itu tidak kusadari.

Perjuanganku ingin mendirikan perpustakaan akhirnya aku salurkan lewat organisasi. Sejak tahun aku bersama teman-teman mendirikan perpustakaan beyangan yang menawarkan persewaan buku. Aku dan beberapa temanku mendata buku-buku yang kami miliki, lalu menyusun katalog berdasarkan catatan itu, sebarkan katalog itu di kampus, dan tanya siapa yang mau pinjam (buku apa dan milik siapa). Baru dirintis tahun lalu dan aku berharap bisa lanjut tahun ini secara lebih profesional.

 

 

Akhir cerita, inilah “Aku dan Pepustakaan”. Ya Allah, jika Engkau berkenan, izinkan aku mendirikan perpustakaan untuk Indonesia, agar orang-orang Indonesia suka membaca dan mencintai buku… Ingin sekali bisa mendirikan perpustakaan, melihat orang-orang membaca tak peduli bagaimana kondisi bukunya, di mana saja dia berada, dia membaca buku.

Mimpi yang menyenangkan… Aku ingin mengunjungi perpustakaan-perpustakaan lain di seluruh dunia.

Nah, ada yang punya saran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s