Arti Sebuah Kebebasan

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/23/Poetry-of-The-Week-Arti-Sebuah-Kebebasan

Setiap orang punya definisi atau pemahamannya sendiri atas suatu kebebasan. Tidak ada yang salah, kecuali setiap pemahaman dari waktu ke waktu akan berubah. Akan ada saatnya di mana kita tidak percaya kita pernah berpikiran ini dan itu di masa lalu. Begitulah manusia berkembang… tidak ada yang salah karena progres dapat terjadi kapan dan cara apapun, jika kita orang yang berkembang memang berharap untuk berkembang ^^.
 
Sebagai manusia muda (demikian pula yang tua), kita belajar memberi makna banyak hal. Salah satunya adalah kebebasan yang merupakan topik sensitif juga menarik. Kebebasan ada pada dua sisi yang bertentangan: kebahagiaan maupun konflik. Ego setiap manusia bermain di sini, baik ego sebagai individual mapun sebagai kelompok. Sering kali manusia ditindas oleh egonya sendiri, sering kali pula ia ditindas oleh ego kelompok. Maka, di manakah kebebasan? Yeah, sekalipun sebagai manusia aku tidak punya kebebasan yang sesungguhnya, setidaknya aku ingin berada pada tingkatan di mana aku paham kebebasan itu apa dan aku menyimpulkannya setelah pencarian yang panjang… sampai pada suatu hari puisi ini muncul dalam kepalaku ketika aku berada dalam angkot di perjalanan pulang dari kampus pada 1 Desember yang lalu. 
 
Jangan Menutup Mata
 
Ketika aku berpikir tentang kebebasan, aku menutup mata.
Aku berharap dunia menutup mata pula.
Aku berjalan, berharap tidak menabrak, tetapi tidak bisa.
Aku merasa takut sekalipun di hadapanku tidak ada rintangan.
Aku buru-buru membuka mata.
Aku hanya ingin mengecek arah atau di manakah aku kini.
Dan aku tahu, ini bukan yang kuharapkan.
 
***
Perjalanan menuju final, yaitu puisi ini berawal dari masa kecilku. Suatu hari aku membaca artikel tentang “apa yang terjadi ketika kita menutup mata pada otak kita” di salah satu majalah anak-anak. Secara singkat begini: Beruntunglah manusia dapat melihat lewat matanya. Dengan mata itulah manusia dapat melihat benda-benda yang ada di hadapannya sehingga ia dapat bersiap-siap menghadapi rintangan dan tidak menabrak rintangan itu. Apakah yang terjadi jika seseorang menutup matanya? Ia tetap dapat berjalan. Ia tetap mampu tidak menabrak, tetapi… ia akan berusaha mati-matian untuk tetap berjalan tanpa membuka mata. Konsekuensi kita melihat adalah mengetahui sesuatu dan mengendapkan pengetahuan itu di dalam otak. Sekalipun di hadapan kita tidak ada tembok, jika kita membayangkan atau memikirkan ada tembok, otak akan menciptakan gambaran itu dan serta merta kaki kita akan ragu-ragu melangkah. Jika ignin terus melanjutkan jalan, kita harus kembali meyakinkan otak bahwa di hadapan kita tidak ada apa-apa. 
 
Sudah dapat poinnya? Kalau pikiran kita sama, maka kita akan sama-sama menyimpulkan bahwa manusia punya insting dalam dirinya untuk menghindari dan melindungi dirinya dari ancaman, rintangan, hambatan, konsekuensi negatif, hal-hal menyakitkan, hal-hal yang membuat cemas, dan sebagainya. Sekalipun kita yakin kita tidak ada dalam masalah, otak akan mengingatkan kita hal yang sebaliknya dengan caranya yang menakjubkan: ketidaksadaran bahwa ada yang lebih kita inginkan dari sekadar merasa baik-baik saja, seberapa pun besarnya kita berusaha baik-baik saja. Ketidaksadaran bahwa sebenarnya kita tidak ingin dicemaskan oleh apapun. Kita tidak ingin ada hal yang bisa membuat kita cemas.
 
Ketika aku SD, aku adalah penggemar komik seri tokoh dunia. Komik pertama yang kubeli adalah tentang Hans Christian Andersen, seorang pujangga dari Denmark. Dialah yang menciptakan banyak dongeng bagi anak-anak. Sejak kecil ia disebut anak aneh. Salah satu keanehannya adalah dia suka berjalan sambil memejamkan mata. Baginya, sekalipun ini dipandang aneh, mengalami saat-saat memejamkan mata adalah sangat menyenangkan: imajinasinya dapat melambung dan kisah-kisah mengalir dalam kepalanya. Apakah ia tidak takut menabrak? Katanya, tidak, sekalipun tentu saja ia pasti menabrak, salah satunya adalah menabrak neneknya. 
 
Seperti inilah yang iseng-iseng sering kulakukan. Aku ingin berjalan sambil menutup mata, tidak ingin memikirkan apa yang ada di hadapanku, siapa yang melihat, apa tanggapan mereka melihat ada orang yang jalan sambil menutup mata. Tetapi selalu saja tidak bisa berjalan jauh. Bukan karena ada rintangan atau ada orang lain yang melihat, tetapi aku tidak suka dengan rasa tidak enak karena menutup mata: selalu ada tembok khayalan dan perasaan lebih pasti jika kau membuka mata dan melihat di mana kau berada. Jika dengan membuka mata aku tidak merasa cemas, rasanya… kebebasan itu hadir. Aku bisa berjalan lambat-lambat, berlari, melompat, menyapa orang lain, dan sebagainya.
 
Aku jadi bertanya-tanya: apakah kebabasan adalah melulu masalah batas? Banyak dari kita yang beranggapan bahwa kebebasan adalah bertindak sesuai yang kita inginkan, sejauh mana kita bisa kreatif. Ketika seseorang juga mengatakan tentang kebebasan yang bertanggung jawab, aku yakin itu hanya klise agar dirinya diterima manusia lain. Karena jika seandainya tidak ada manusia lain di dunia ini, kira-kira, apa yang akan dilakukannya? Dia mungkin akan dengan senang hati menutup mata dan bertindak tanpa peduli apa-apa. Adakah jaminan bahwa ia akan baik-baik saja sama seperti ketika ada manusia lain?
 
Sesungguhnya, sekalipun ada batas… aku akan lebih suka jika aku dapat tetap merasa baik-baik saja dengan menghadapi kenyataan. Tidak merasa cemas, karena aku tahu batas itu tidak akan menggigit. Tidak merasa takut, tidak merasa dinilai, tidak merasa terancam atas hal-hal yang sepintas dirasa tidak menyenangkan. 
 
Akhirnya, kusimpulkan kebebasan akan kudapatkan adalah ketika aku tidak lagi merasa cemas, baik pada hal-hal yang realistik maupun tidak. Nah, bukannya kebebasan yang seperti itu terjadi ketika kita masuk surga nanti? Yuk, kita tertawa dan berharap sama-sama menjadi penghuni surga, dunia di mana tidak ada hal yang perlu dicemaskan. Kalau masih di dunia, sih… Kita tahu apa yang masing-masing dari kita harus lakukan. Hindari cemas dengan baik-baik memperlakukan batas dan keterbatasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s