“Battle for God” Karen Armstrong

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/63/Topic-of-The-Week-Battle-for-God-by-Karen-Armstrong

Hoho… kapan terakhir kali aku menulis “Topic of The Week”? Lama sekali ternyata aku tidak menyelesaikan membaca satu buku pun! Tetapi tidak untuk kali ini karena aku berhasil, dengan penuh tekad, menyelesaikan sebuah buku yang, kutahu, sangat berarti bagi wawasan intelektual kita semua.
Sebelum membaca review yang akan kusajikan di bawah ini, bersihkan dulu pikiran teman-teman dari segala prasangka. Ok? Yeah, topik buku yang baru selesai kubaca ini cukup sensitif dan tujuanku menulis bukan untuk menilai apa-apa; hanya memaparkan bahwa ada dunia yang mungkin tidak kita mengerti apa, mengapa, dan bagaimana ia bisa ada. Dunia yang kumaksud adalah “fundamentalisme”. Aku sedang mencoba menalarnya secara fenomenologis sehingga kugunakan istilah “dunia” di sini ^^.
“Fundamentalisme”, tidak semua orang paham duduk perkaranya. Inilah paham yang sering menakutkan banyak orang, terutama mereka yang berada di negara-negara sekular. Ketika Indonesia sedang dirundung bencana terorisme, mau tidak mau, disengaja atau tidak, isu-isu yang terkait dengan fundamentalisme ini juga ikut terangkat. Isu terorisme yang kemudian tampak berakar dari fundamentalisme ini, bagiku, sangat membingungkanku sebagai seorang muslim. Ada suatu kontradiksi yang membuatku bertanya-tanya mengenai di manakah posisi perjuangan atau jihad dan kedamaian yang sebenarnya. Pernah di suatu forum keagamaan aku bertanya, apakah keburukan dari fundamentalisme, dan aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ternyata Allah Swt Berkehendak aku mendapatkan jawabannya lewat pencarianku sendiri. Sejak hampir tiga tahun bertanya, baru sekarang aku mendapatkan jawabannya. Aku hanya berharap, semoga jawaban ini bukanlah yang final. Tulisan ini hanyalah awal bagi pemahaman yang lebih mendalam lagi.
***
Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity, and Islam” atau dalam bahasa Indonesia “Berperang Demi Tuhan: Fundamentalisme dalam Yahudi, Kristen, dan Islam” adalah buku yang ditulis oleh Karen Armstrong, seorang penulis Irlandia. Buku yang tebalnya lebih dari 500 halaman ini sebetulnya memaparkan perjalanan sejarah fundamentalisme tiga agama monoteistik dunia, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Sekalipun diceritakan dengan posisi yang sejajar sebagai bagian dari sejarah zaman, tentu saja aku lebih tertarik pada fundamentalisme dalam Islam. Berikut ini akan kupaparkan apa yang berhasil kupahami sejauh ini.
Fundamentalisme Islam dikatakan menjunjung semangat konservatif. Sejak dahulu kala Islam diturunkan sampai akhir zaman nanti, Islam adalah Islam yang diridhai Allah dengan berpedoman pada Quran dan Hadith. Beradab-abad umat Islam hidup dengan memegang teguh keimanannya sampai suatu masa ketika peradaban Islam ditakdirkan untuk mengalami kemunduran dan dunia diambil alih oleh hagemoni Barat yang bercokol hampir di seluruh dunia lewat kolonialismenya.
Dihadapkan pada permasalahan berkaitan dengan harga diri sebagai umat yang memiliki identitas, umat Islam gerah dengan modernitas (pembaruan) yang dibawa Barat lewat rasionalisme, ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengabaikan spiritualitas dan kehidupan beragama. Masyarakat Islam bukan masyarakat sekular. Ketika dihadapkan pada zaman yang berubah menuju kejahiliahan gaya baru “menafikan Tuhan dalam kehidupan”, umat Islam tergerak untuk mempertahankan identitasnya sebagai muslim. Maka, muncullah tokoh-tokoh yang memimpin gerakan mengembalikan bangsa dan negara yang tersesat dalam modernitas dan sekularisme menuju jalan yang benar, yaitu negara Islam. Negara yang menjadi studi fundamentalisme Islam dalam buku “Battle for God” adalah Mesir dan Iran. Maka dari itu, kita akan menemukan nama-nama seperti Muhammad Abduh, Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Abul A’la Maududi, Yusuf Qardhawi, dan Ayatollah Khomeini.
Fundamentalisme adalah gerakan yang menghendaki agar masyarakat kembali pada kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai agama yang prinsipil. Cara yang dilakukan untuk menanggulangi ide-ide yang sekular dimulai dari yang dilakukan secara damai sampai yang menggunakan kekerasan. Sebagai contoh, Hasan Al Bana mereformasi Mesir lewat pendidikan dalam Ikhwanul Muslimin, sedangkan yang terjadi di Iran, cara yang digunakan sangat revolusioner dan mengakibatkan pertumpahan darah. Tindak kekerasan yang mungkin muncul selama proses menentang sekularisme dan Barat inilah yang dipandang sebagai keburukan penganut fundamentalisme. Jika tujuan mereka tidak lurus demi Allah dan menegakkan Islam, mereka dapat saja membenarkan tindak kekerasan atas nama agama.
Fundamentalisme tidak tumbuh tanpa sebab. Ia tumbuh lantaran penindasan kelompok mayoritas yang mendiskreditkan agama dalam sekularisme. Mereka yang kemudian menjadi fundamentalis adalah mereka yang sekian lama tertekan dan tidak diperhatikan sebagai manusia yang memiliki keyakinan. Kebangkitan ilmu pengetahuan dan modernitas memang membawa beragam manfaat, tetapi rasionalitas yang melupakan Tuhan berdampak pada kelemahan moral dan kekejaman terhadap manusia lain (Armstrong, 2000, h. 580). Orang-orang yang kecewa, marah, dan cemas atas kondisi yang demikian, serta diabaikan oleh pemerintah, memutuskan untuk bergerak dengan tujuan mengembalikan tatanan masyarakat ke jalan yang benar berdasarkan agama (h. 576). Semakin mereka ditekan dan disiksa, mereka akan semakin militan.
Jika demikian duduk perkaranya, demi tujuan yang benar, fundamentalisme tampak bukan hal yang 100% salah. Mayoritas masyarakat dunia yang mengagungkan sekularisme juga memiliki andil dalam setiap aksi fundamentalis. Asap tidak akan ada tanpa api dan benda yang dibakarnya. Di akhir buku… “Sekiranya kaum fundamentalis harus mengembangkan penilaian terhadap musuh mereka secara lebih simpatik agar sesuai dengan tradisi agama mereka, maka kaum sekular juga harus lebih percaya dengan kebajikan, toleransi, dan menghormati umat manusia… serta merasa empati dengan ketakutan, kecemasan, dan kebutuhan yang dialami kebanyakan tetangga fundamentalis mereka…”. 
Betapa saling memahami satu sama lain itu penting… Betapa tidak saling memaksakan egoisme itu penting… Betapa dakwah yang terbaik itu memang dengan jalan damai, karena manusia punya “bakat” untuk mengenal Tuhannya, maka sentuhlah sisi itu dengan ajaran yang baik dan benar.
***
Berikut ini adalah kalimat-kalimat favorit yang kudapat dari “Battle for God”:
Rasionalisme ilmiah tidak dapat menjawab pertanyaan tentang arti kehidupan yang sebenarnya. (h. 513)
Kesatuan pendapat adalah alat pertahanan. (h. 513)
 
Selama kaum laki-laki dan perempuan semata-mata hanya memusatkan perhatian mereka pada materi (baca: apa yang dibawa modernitas), mereka menjadi manusia yang kurang. Ayatollah Khomeini(h. 519)
Mati bukan berarti ketiadaan. Mati adalah kehidupan. (h. 519)
 
Bagaimana pun juga, agama tidak lenyap… (h. 576)
Kita tidak bisa menjadi religius dalam cara yang sama seperti para pendahulu kita di dunia pramodern yang konservatif… Kita kini berorientasi ke masa depan, dan orang-orang dari generasi kita yang telah dibentuk oleh rasionalisme dunia modern tidak mudah memahami bentuk spiritualitas masa lampau itu. (h. 577)
Penindasan memunculkan kekerasan dan intoleransi baru.
 
Janganlah seseorang berharap bisa melakukan reformasi kepada orang lain sebelum ia mereformasi diri sendiri.
 
Battle for God” ini merupakan sebuah upaya untuk mengisi kehampaan nurani masyarakat yang berlandaskan rasionalisme ilmiah. Karen Armstrong.  (h. 584)
***
Akhir kata: lagi-lagi, ini bukan jawaban pasti atas pertanyaan kita semua tentang intrik-intrik kehidupan. Sepanjang masa depan masih ada, pemikiran masih berjalan layaknya mesin yang sehat, usaha tanpa putus asa untuk terus mencari jawab… Simpulkanlah sendiri apakah “expanding horizon” itu.
Kita berharap atas hidup yang lebih baik, menjadi tuan di rumah sendiri, bangga dengan identitas sendiri. Ketika kita ingin melakukan revolusi atau reformasi atau upaya-upaya berdampak besar lainnya, lakukan itu pada diri sendiri terlebih dahulu. Perang melawan diri sendiri jauh lebih sulit, bukan?
NB: Insya Allah buku selanjutnya adalah tentang buah pikiran Imam Al Ghazali. SEMANGAT!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s