Bintang-bintang yang (Tak) Bernama

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/80/Poetry-of-The-Week-Bintang-Bintang-yang-Tak-Bernama

Jul 18, ’10 10:29 PM

Tidak kulihat lebih daripada apa yang bisa kulihat. Kau lihat? Langit malam memudar…
Aku bingung menatap matamu yang penuh tanya, bagaimana kujelaskan tentang dunia yang tidak sama lagi.
Tak bisa kukatakan tentang ini dan itu atau berapa banyak bintang yang bisa kau lihat di langit sana.
Aku kemudian mengarang cerita tentang lampu-lampu yang berkerlap-kerlip: “Itu bintang.”
 
Para pencakar langit, duduk sepi menyesap manisnya sepi… Aku hanya menegaskan, lelah menikmati malam seperti ini. Mendulang kantuk lalu pulang seperti orang gila.
Di jalanan, menikmati kota dari sebingkai jendela bus pulang… buramnya kaca… yang kunikmati hanyalah pendar cahaya di kejauhan atau lampu jalanan yang berlalu satu-satu.
Lagi-lagi langit malam yang memudar? Atau lagi-lagi matamu yang penuh tanya:
“Langit di bagian mana yang bisa kulihat bintang?”
 
Perjalanan panjang… kepingan-kepingan malam tanpa jiwanya memasuki mataku.
 
***
Kalau tidak ada majalah “National Geographic” waktu itu, aku tidak akan pernah tahu Milky Way berwujud seperti itu. Hanya dapat dilihat di langit malam yang paling kelam… artinya kau harus berada di tengah gurun atau lautan untuk dapat menikmatinya. Uaah… hidup yang mahal untuk dapat menikmati langit penuh bintang.
 
Langit adalah impian masa kanak-kanakku. Cita-cita pertamaku adalah astronot. I was very excited about it! Segala macam hal tentang langit menggugah aspirasiku tentang masa depan, berharap suatu saat bisa melihat apa yang tidak semua orang bisa lihat dalam hidup mereka. Keindahan langit. Keindahan langit yang selama ini tidak dapat dilihat langsung. Benarkah matahari dan semuanya tampak seperti itu? Lalu kemudian kau tahu bahwa dengan menggunakan golombang elektromagnetik tertentu kau bakal mendapatkan potret langit dengan warna yang berbeda. Lalu kau mengenal tentang apa itu kosmologi, konstelasi bintang, pergeseran merah dan pergeseran biru, katai putih… Belasan tahun habis untuk mengetahui sedikit sekali tentang sesuatu. Namun, ketika menatap langit yang ada di atas kepala sendiri…
 
Bukankah semua orang yang memikirkan tentang langit dan penciptaannya memulai semua pemikiran mereka dari aktivitas sederhana ini: menengadahkan kepala. Menikmati apa yang ada di atas kepala kita, apa yang terlihat, apa yang berhasil dilihat. Lalu yang hari ini bisa kulihat… hanya beberapa?
 
***
 
Dunia sudah berubah di mana langit mulai tersaingi gemerlap neon!
Hah, aku sering berharap mati listrik saja.
Sering berharap, seandainya bisa memanjat ke atap.
Seandainya aku bukan anak perempuan sehingga tidak perlu diteriaki.
Oh, ibu… sebentar saja, aku ingin melihat bintang!
Katanya ada banyak bintang.
Katanya ada banyak bintang jatuh…
Katanya akan ada pula komet…
Jika mampu, ingin kupunya teleskop untuk melihat lebih dekat…
Katanya Tuhan ada di sana…
 
Neon-neon itu… kulihat seperti bintang yang lain. Sama sendunya sepertinya dari jauh di sini. Hingar-bingar dunia di sekelilingnya tidak terdengar. Seperti bintang yang lain… Semua orang berebut menamai mereka… Berusaha melihat dengan penglihatan yang paling jauh… tetapi aku tidak perlu begitu. 
 
Anggap saja ini bintangku. “Lampu kamarku” tempat aku belajar tentang apa itu kenyataan hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s