Di Bawah Pelangi, Berbisik dengan Tuhan

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/62/Poetry-of-The-Week-Di-Bawah-Pelangi-Berbisik-dengan-Tuhan

May 26, ’10 11:11 PM

Hari ini ada pemandangan yang begitu langka: pelangi kembar di langit.
Sepanjang hari yang tampaknya akan panas tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan hujan deras siang tadi. Udara menjadi sejuk, angin berhembus menyenangkan… dan breeessss tanpa ba-bi-bu. Cepat selamatkan sepatu dan berlindung di dalam musola! Setelah 15 menit, hujan yang tadi sangat deras mereda. Sekalipun sudah berusaha menyelamatkannya,  sepatuku tetap saja basah kuyup. Akhirnya sampai malam, aku berkuliah dengan kaki kedinginan. Syukur kuliah begitu menguras pikiran sehingga aku bisa lupa masalah kakiku.
Ada hadiah yang tak akan terlupa sepanjang hidupku: pelangi kembar di langit.
Aku susah mendeskripsikan perasaan bahagia yang kurasakan ketika melihat fenomena langka ini. Jarang sekali aku bisa menemukan pelangi. Jarang sekali bisa berada di tempat di mana langit terlihat begitu lapang. Jarang sekali bisa melihat dua pelangi, sejajar, di langit sore. Ketika aku sadar pelangi tak akan ada tanpa matahari, serta merta aku memandang ke arah barat dan menemukan pemandangan senja yang begitu spektakuler. Begitulah… langit setelah hujan adalah pemandangan terindah hari ini.
***
Di Bawah Pelangi, Berbisik dengan Tuhan
 
Sementara angin bertiup dari timur, kulihat awan-awan beradu.
Bersama burung-burung yang pergi pulang, kulihat mega bersemu.
Ketika cerah mentari merambati langit yang pilu…
Sebentar lagi, keindahan terindah yang pernah ada berkata tanpa suara.
 
Di bawah pelangi, kuabadikan momen indah berbisik pada Tuhan:
Betapa dunia yang diciptakan-Nya membuatku mengaduh, seandainya…
surga didekatkan saat ini juga.
Betapa hidup yang tak abadi ini dapat sedikit saja mampu memahami
apa makna atas ketiadaan yang baru saja ada, 
atau keberadaan yang sebentar lagi tiada.
 
Sementara rumput bergoyang pertanda dunia kembali bergemuruh, apalah artinya gelap dan terang?
Bersama rintik hujan yang bernyanyi bersama malam, warna tak tersisa lagi di kaki langit.
Ketika senyap menjadi satu-satunya nyanyian…
Sebentar lagi, pemahaman paling terang yang pernah ada menyilaukan mataku yang belajar melihat.
 
Di bawah pelangi, kuabadikan momen indah berbisik pada Tuhan:
Betapa epik tentang penciptaan dunia membanjiriku tentang sedikit saja,
siapa itu Tuhan.
Betapa Ia yang berusaha kukenal mendekatiku dengan cara yang begitu aneh, 
Ia Membisikiku…
bisikan yang tidak dimengeri, kecuali bagi jiwa yang mau mendengar.
 
***
Selamanya aku tidak akan pernah menjadi orang yang tahu bagaimana dunia ini bekerja. Keindahan-keindahan yang dapat dilihat mereka yang terbang ke angkasa, mengarungi kedalaman samudra, menelusuri jalan-jalan di bumi, menyibak lebatnya belantara… pengalaman itu tidak akan pernah mudah untuk dialami. Bagaimana dunia ini semakin menua atau warna yang berubah-ubah dari waktu ke waktu… apa yang bisa kujelaskan kecuali perasaan yang paling manusiawi yang kumiliki: mengagumi kebesaran Pencipta?
 
Aku tak perlu menjadi manusia yang berpikir susah. Hatiku sendiri sudah berkata demikian. Tak perlu tahu ada Teori Big Bang, teori atom, mekanika kuantum, pergeseran merah-biru, pembiasan cahaya, lapisan atmosfer, angin matahari, dan sebagainya… Sering, bisikan Tuhan begitu tidak ilmiah, hanya mengandalkan kemampuanmu untuk merasakan keindahan alam semesta… Percaya itu, perasaan yang akan menggiring tindakan kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s