Don’t Kill The Mockingbird

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/9/Topic-of-The-Week-Dont-Kill-The-Mockingbird

Mengingat kondisi Indonesia yang penegakan hukumnya carut-marut begini… Setelah selesai membaca novel “To Kill The Mockingbird” karya Herper Lee, aku jadi ingin segera berbagi pengalaman dan pelajaran yang kudapatkan dari membaca novel itu. Entah kenapa, rasanya ada yang mirip antara situasi dalam novel dengan Indonesia real-world. Anyway, bagaimana jalan ceritanya akan kusampaikan di kesempatan berikutnya.

Semoga teman-teman semua pernah membaca novel itu atau jika belum, burulah resensinya.

Aku belajar dari setiap tokoh yang ada dalam novel, terutama keluarga Finch: Atticus sang ayah dan kedua anaknya Scout dan Jem.

Atticus adalah seorang pengacara yang aku begitu ingin dia ada di Indonesia saat ini. Ia seorang pengacara yang memegang prinsip, seorang ayah teladan yang dicintai anak-anaknya, dan warga kota yang budiman. Sedangkan anak-anaknya… haha… begitulah anak-anak: iseng, jahil, penuh rasa ingin tahu, banyak ide, banyak tanya. Aku bisa tersenyum geli membaca kelakuan mereka. Pelajaran yang kudapatkan berasal dari interaksi Atticus dengan Scout dan Jem.

Sejak awal aku bertanya-tanya, apa maksud judul novel ini “To Kill The Mockingbird”. Mocking, dari kata “mock” artinya mengejek. Maka sejak awal aku mengira judul ini berarti membunuh burung yang mengejek. Ternyata tidak demikian.

Mockingbird adalah jenis burung yang disenangi banyak orang. Suaranya merdu dan tidak mengganggu. Disebutkan dalam salah satu bagian cerita, membunuh mockingbird adalah dosa, perbuatan yang sia-sia karena burung ini demikian menyenangkannya, lain dengan burung jenis lain yang mengganggu. Pembantaian mockingbird adalah pembantaian tanpa arti (hal. 457).

Mengapa judulnya “To Kill The Mockingbird”? Aku tidak tahu pasti. Tetapi, aku menghubungkan burung ini dengan seorang tokoh lain, Tom Robinson, pria kulit hitam bertangan cacat, dan baik hati yang difitnah memperkosa seorang gadis kulit putih. Robinson terbukti tidak bersalah atas peran Atticus yang menjadi pembelanya, tetapi keputusan juri dalam pengadilan tidak demikian. Karena “pertimbangan” mayoritas kulit putih yang masih mendominasi kehidupan warga kulit hitam, Robinson terpaksa menerima hukuman, hukuman mati.

Dari sinilah kita dapat memahami: orang baik-baik dapat dianggap salah dan dihukum, sedangkan orang yang benar-benar jahat dapat bebas karena suatu prasangka yang bercokol di kepala dan diskriminasi. Orang yang berguna dan tidak merugikan bagi masyarakatnya menerima hukuman atas sesuatu yang tidak diperbuatnya karena diskriminasi dalam hukum; karena kekayaan, ras, profesi, atau status sosial. Sekalipun dunia tahu kebenaran, kebenaran itu akan sirna jika dihadapkan pada kepentingan golongan. Begitulah ketidakadilan… Padahal, seandainya kita semua memang berbeda, satu-satunya tempat di mana seseorang semestinya mendapatkan keadilan adalah dalam ruang pengadilan (hal. 419).

Tapi, di manakah nurani kita? Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas (hal. 206)?

Ada bagian novel yang membuatku ingin menangis seperti yang dialami Dill, sahabat Scout dan Jem. Pada hari mereka mengunjungi pengadilan untuk mengikuti sidang kasus Robinson, mereka menemukan bahwa mockingbird benar-benar dibenci dan diperlakukan tidak adil. Nurani seorang anak bahkan terusik, sementara orang dewasa biasa-biasa saja, Dill merasa mual dan hampir menangis. Begitulah gambaran nurani anak-anak yang begitu polos dan ekspresif. Ketika tahu sesuatu tidak benar terjadi, menangislah anak-anak. Kehidupan belum meredam nuraninya (hal.382), berbeda dengan orang dewasa. Sebagian orang dewasa memang pelaku ketidakadilan, mengapa mereka harus menangisi ketidakadilan itu?

Bagi anak-anak, orang dewasa adalah figur paling penting dalam hidupnya. Orang dewasa yang membunuh mockingbird akan menjadi sumber belajar bagi anak-anak untuk membunuh mockingbird juga.

Bukankah kita pernah menyasikan banyak orang dewasa, juga mungkin diri kita sendiri yang sibuk melarang anak-anak ini dan itu tetapi tidak bisa melaksanakan apa yang dikatakannya? Itulah yang terjadi, mungkin, dalam keluarga-keluarga koruptor, polisi-polisi jahat, orang-orang jahat, hakim yang tidak adil, pengacara yang membela orang jahat, pencuri dan perampok hak orang lain… Apakah kita akan sama-sama menyaksikan keluarga mereka hancur berantakan karena anak-anak mereka mempelajari hal yang salah dalam keluarganya? Itulah kutukannya! Jadi, apakah mereka tidak berpikir dua kali ketika melakukan perbuatan jahat? Kali pertama untuk dirinya sendiri dan kali kedua untuk orang-orang di sekitarnya?

Novel ini memang novel hukum, bercerita tentang hukum yang berusaha ditegakkan, juga tentang moralitas yang diajarkan oleh seorang ayah pada anak-anaknya. Tidak sulit memahami jalannya novel ini, terutama karena penulisan novel ini menggunakan sudut pandang seorang anak. Kita tidak hanya akan belajar tentang keadilan dan persamaan hak, tetapi juga memahami perasaan anak-anak ketika ketidakadilan terjadi di depan mata mereka.

Jadi… bacalah novel ini!

Anyway… kalimat-kalimat favorit…

Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya, kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya (hal. 66).

… Kalau aku tidak membelanya, aku tak akan bisa menegakkan kepalaku di kota ini, … aku bahkan tak bisa melarangmu atau Jem melakukan sesuatu (hal.152).

Bahasa yang buruk adalah tahap yang dilalui semua anak, dan akan berakhir dengan sendirinya, ketika mereka mengerti bahwa mereka tak akan mendapat perhatian dengan cara itu (hal.174).

Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang (hal. 206).

Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya (hal. 219).

Satu-satunya tempat di mana seseorang semestinya mendapatkan keadilan adalah dalam ruang pengadilan (hal. 419).

… kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia.

… Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci?  (hal. 431)

… kematian Tom … pembantaian tanpa arti atas burung penyanyi oleh pemburu dan anak-anak (hal.457)

Penindasan berasal dari orang-orang yang berprasangka buruk (hal. 465).

… dia benar-benar baik.

Begitulah sebagian besar manusia, Scout, ketika kau mengerti mereka (hal. 533).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s