Early Age Reading

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/50/Topic-of-The-Week-Your-Early-Age-Reading

Aku tidak ingat sejak kapan aku bisa membaca. Prosesnya, apalagi! Rasanya saja tiba-tiba aku bisa membaca. Aku tidak tahu buku apa yang pertama kali kubaca atau siapa yang membacakan buku untukku. Belajar membaca adalah kenangan masa kecil yang hampir semua orang tidak ingat. Proses yang dijalani, mungkin dengan susah payah, begitu berharga hasilnya pada diri kita semua hari ini. Sepakat?
Bagaimana kita hari ini mencintai buku dan hobi membaca, semua itu berakar pada bagaimana masa kecil kita. Mengingat banyak anak Indonesia yang belum suka membaca, aku tidak tahu siapa yang harus disalahkan. Banyak orangtua yang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan pada anak-anak mereka, bukan? Jika mereka tidak tahu, yang salah adalah orang yang tahu tetapi tidak memberi tahu. Makanya, perlu diadakan program-program pemerintah yang mendukung belajar membaca sejak awal. Di samping itu, cara-cara pengajarannya juga perlu diperhatikan karena proses ini berkaitan dengan diri anak-anak yang begitu pesat berkembang. Cara yang salah akan berakibat yang tidak kita inginkan.
Nah, berhubung semester ini aku akan mempelajari tentang psikologi perkembangan anak usia dini. Semoga aku akan tahu lebih banyak hal dan lewat blog ini, aku juga akan membuat teman-teman pembaca tahu. Yess!!! Tunggu saja.
Kembali pada topik pembicaraan. Apa bacaan pertamamu? Tentu semua ini tentang masa kecil kita semua. Ada banyak cerita anak-anak yang kita baca, dongeng-dongeng, fabel, begitu banyak fiksi yang kita baca berulang-ulang tanpa bosan. Aneh, bukan? Tapi, begitulah anak-anak, mereka tertarik pada begitu banyak hal. Berikan mereka buku dan mereka punya cara yang unik untuk “membaca”. Jika mereka belum bisa membaca, mereka membaca gambar yang ada dalam “apa” yang mereka baca. Kita akan mendengarkan banyak cerita aneh yang keluar dari mulut mereka, cerita tentang gambar. Nah, itulah cara membaca anak-anak! Aku jadi ingat, dulu waktu kecil pernah pura-pura baca koran juga pura-pura menulis (hasilnya “sandi rumput”). Bermain pura-pura begitu ternyata membantu proses belajar. Pura-pura bisa membaca dan menulis, waktu itu menyenangkan sekali. Pada intinya, bacaan pertama kita adalah sesuatu yang tidak bisa kita baca!
 
Waktu berlanjut… Kita masuk SD dan siapa yang tidak diajari “Ini ibu Budi”??? Kalimat “Ini ibu Budi” sering dicemooh hari ini karena begitu standard dan tidak kreatif dalam mengajari anak membaca. Kalimat ini sama “sakralnya” dengan “Ibu sedang memasak, bapak pergi ke kantor”. Tapi, entah bagaimana semua ini membuat kita bisa membaca! Aku jadi terkenang guru SD kelas 1-ku. Aku tidak ingat apakah ia yang membuatku bisa membaca. Terima kasih banyak ^^. Setelah aku bisa membaca, semuanya menjadi lebih menyenangkan sampai aku berusia kepala dua hari ini.
 
Ketika anak-anak, membaca hampir adalah aktivitas untuk bersenang-senang belaka. Tetapi, di balik bersenang-senang itu, sebenarnya kita belajar untuk menjadi manusia. Tapi, sejauh manakah kita menyadari ada pengetahuan yang begitu luas sehingga kita mengejarnya demi kepuasan tahu lebih banyak dan lebih banyak lagi? Ada begitu banyak manfaat yang dapat kita miliki hanya dari tahu. Sejauh mana pula kita tahu bahwa pasangan kemampuan membaca adalah buku? Apakah kita akan menyia-nyiakan kemampuan membaca kita dengan membaca hal yang remeh-remeh saja? Kenapa kita tidak membaca demi peningkatan kualitas diri kita? Wow, jawabannya mungkin perlu kita pikirkan baik-baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s