Elegi Dunia Terbalik

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/16/Poetry-of-The-Week-Elegi-Dunia-Terbalik

Nov 20, ’09 3:42 PM

ELEGI DUNIA TERBALIK

Dunia yang ada dalam kepalaku, hanya berpikir mencari tahu, seandainya:
aku adalah aku, tetapi bukan aku
kamu adalah kamu, tetapi bukan kamu
seperti ketika cermin memantulkan wujud, dia adalah dia, tetapi bukan dia

kanan menjadi kiri, kiri menjadi kanan, seandainya:
penjahat menjadi orang saleh
pembohong menjadi orang jujur
penipu mejadi penegak keadilan
hutan yang mati menjadi bersemi
lautan berlumpur menjadi sebening kaca
angin yang ribut menjadi lembut
panas menjadi sejuk
tangis menjadi tawa

kiri menjadi kanan, kanan menjadi kiri, seandainya:
orang saleh menjadi penjahat
orang jujur menjadi pembohong
penegak keadilan menjadi penipu
hutan yang bersemi menjadi mati
lautan yang bening bagai kaca menjadi berlumpur
angin yang lembut menjadi ribut
sejuk menjadi panas
tawa menjadi tangis

Tentu, dunia menjadi damai, seandainya:
yang berharta menjadi pembunuh penjahat yang segelintir
mereka memegang cemeti yang akan mencengkram para pembalak,
yang berkedudukan menjadi pengingkar iblis
mereka membiarkan cahaya memenuhi nurani,
 yang berilmu menjadi penjaga jalan
mereka tidak menjegal dan menyesatkan di banyak persimpangan hidup.

Tuhan, apakah aku musti belajar makan dengan tangan kiri?
Aku tak ingin berandai aku akan tenggelam dalam gelap sementara aku sudah berada dalam cahaya.
Apakah aku musti belajar melihat dengan mata tertutup, mendengar dengan telinga yang tersumbat?

Karena dunia yang menjajah tidak pernah belajar
mengulurkan tangan kanan
keluar dari gelap menuju cahaya
membuka mata yang tertutup
membuka sumbatan telinga.

Dunia yang ada dalam kepalaku, hanya berpikir mencari tahu, seandainya:
jumlah bukanlah jumlah
ia menjadi nilai
sehingga nol dapat berarti suatu makna keberadaan tanpa batas dan tak dapat dibayangkan.

Kupikir, itulah kekuatan.
Tanpa perlu membayangkan dunia dalam kaca yang hanya menyisakan kesemuan dan misteri.

20 November 2009
Elegi Dunia Terbalik, beginilah karya orang yang tak tahu apa makna elegi. Aku tak sempat membuka kamus. Sekilas, aku merasa paham maknanya.

Tulisan di atas kubuat hari ini setelah membaca artikel berita di sebuah koran. Ada sepotong kalimat menarik yang membuatku menyadari sesuatu: kemajuan tanpa kehancuran adalah mungkin. Tak membuat dirimu menjadi seseorang yang “kiri” karena kau bisa terus menjadi “kanan”.

Artikel yang baru kubaca tentang perjuangan seorang aktivis lingkungan yang mencegah penggundulan hutan tropis di Amerika Selatan. Ia dibunuh oleh, tentu saja, orang-orang yang berduit dan imun terhadap hukum. Aku jadi berpikir, seandainya, dunia terbalik. Seandainya,  keburukan yang jumlahnya sudah memenuhi dunia ini tersulap saja menjadi kebaikan dan kebaikan yang jumlahnya semakin sedikit tersulap saja menjadi kejahatan, tak perlu ada perang melawan mafia hukum dan teman temannya.

 

Tapi, tentu saja itu mustahil. Gulma tak akan memberikan buah dan pohon buah, mana mau menjadi gulma. Begitulah, setiap yang hidup punya peran, baik menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Mereka akan teguh menjalankan perannya. Jika mau bertukar tempat, cobalah bayangkan susahnya hidup terbalik.

Nov 20, ’09 3:42 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s