Fruits Basket

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/33/Topic-of-The-Week-I-Love-Fruits-Basket

Tidak akan kusangkal bahwa aku suka baca komik, di samping novel, majalah sampai buku-buku kuliah (yang ini harus, karena aku mahasiswa). Bagiku, komik punya makna tersendiri yang tidak dapat digantikan oleh jenis buku lain. Makna itu tak lain dan tak bukan adalah karena komik itu bergambar. 
 
Tidak semua komik aku suka. Kita memang harus pilih-pilih. Biasanya aku dapat info dari teman bahwa komik ini bagus atau dengar-dengar dari sumber yang tak jelas bahwa komik itu bagus. Pernah dibelikan begitu saja, aku suka dan selanjutnya kukoleksi sampai detik ini. Memang yang kumiliki di rumah tidak banyak, tetapi aku cukup senang. Setidaknya ada bacaan ringan yang layak dibaca ketika aku stres.
 
Sejak ada internet dan aku berkenalan dengan komik online, bisa dikatakan kebiasaanku membaca komik agak berkembang. Aku tidak lagi terlalu memburu komik di toko buku (sekarang harganya selangit! Seharusnya toko buku sadar ini!), tetapi ku-download saja atau kubaca per chapter tiap minggu atau tiap bulannya. Semuanya jadi mudah, tetapi tentu, kesehatan mata jadi taruhannya. Minus nambah tidak aneh terjadi.
 
Pada intilah… komik mempengaruhi hidupku. Aku jadi diam-diam ingin membuat komik. Kesampaian tidak, ya… Komik dengan karakteristikku sendiri. Kita lihat saja, mungkin bertahun-tahun lagi.
 
Salah satu komik yang baru saja tamat kubaca pada 17 Desember 2009 pada pukul 02.30 pagi adalah Fruits Basket. Huaaa… malam banget! Aku betul-betul berambisi menyelesaikan membaca cerita yang satu ini. Dan… sekalipun aku harus mengorbankan waktu tidur dan paginya kena flu, aku betul-betul ingin menamatkannya malam itu juga. Agak abnormal??? Haha… mungkin… Tetapi semuanya tampak sebanding dengan apa yang kudapatkan sebagai pelajaran hidup. Kupikir, aku ingin memberikan catatan penting bahwa tidak semua komik tidak berguna dan buang-buang waktu.
 
Awalnya aku tidak begitu yakin “Fruits Basket” menarik untuk dibaca. Aku cuma pernah dengar seri anime-nya pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Yang pertama kali kucari bukan komiknya, tetapi OST-nya berhubung aku sedang belajar bahasa Jepang lewat menerjemahkan lagu. Opening anime “Fruits Basket” yang dalam bahasa Jepang itu kuterjemahkan, walaupun secara garis besar terjemahanku parah sekali, aku bisa menangkap isinya dan… it is wonderful. Aku jadi ingin membaca komiknya.
***
 
Kau menganggap hubungan dengan orang lain itu apa? 
 
Kau mungkin merasa baik-baik saja dan bahagia karena kau punya banyak teman dan keluarga yang bahagia. Tetapi, di luar kehidupanmu, banyak sekali orang yang kesepian karena tak punya kawan, tidak bisa bergaul dengan baik karena tidak tahu caranya, sulit mempercayai orang lain karena masa lalu yang buruk, tidak bisa menjalin pertemanan karena malu, dijauhi orang lain karena dirinya punya kekurangan yang dianggap aneh, ditolak oleh lingkungan, tidak dicintai keluarga, dan diperlakukan tidak baik oleh lingkungannya.  Aku ingin mengajak semua pembaca membayangkan jika berada dalam situasi seperti itu. Kau berada di luar lingkaran sementara orang-orang di dalam lingkaran bermain dengan asyiknya. Tidak ada yang mau mengajakmu, ketika kau mendekat, kau disuruh pergi. Pedihnya berada pada situasi itu, ketika kita dianggap berbeda. 
 
Begitulah filosofi “Keranjang Buah-Buahan”. Tidak ada benda yang ditaruh dalam keranjang buah kecuali buah-buahan segar, bukan nasi atau telur atau buah yang busuk. Mungkin gambaran tersebut terlalu kaku untuk menggambarkan analogi terhadap hubungan antarmanusia. Tetapi memang itulah yang terjadi. Sekalipun kita manusia saling menyaksikan manusia lain, ketika stigma perbedaan menghinggapi kepala kita, kita bisa memandang manusia itu bukan manusia yang sama-sama mampu berpikir, merasakan dan bertindak.
 
Hal lain yang diungkapkan “Fruits Basket”  adalah perihal menerima orang lain apa adanya. Tidak masalah jika yang diterima adalah sisi baik dan kebaikan yang dilakukan orang, tetapi bagaimanakah dengan sisi buruk dan kesalahan? Seberapa banyak orang di bumi ini yang mau menerima bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan atau tidak memenuhi harapan? Beginilah awal orang-orang yang terbuang karena keegoisan orang lain yang tidak mau menerima bahwa manusia juga dapat berbuat salah. Tidak ada kata maaf, yang ada adalah emosi negatif yang dipelihara. Apakah orang yang berbuat salah bahagia? Tidak. Orang-orang yang berbuat salah sesungguhnya menginginkan adanya orang lain yang bersedia mengulurkan tangan dan membantunya keluar dari kubangan kesalahannya, yang mencerahkan kembali hidupnya dengan memberikan harapan-harapan baru bahwa ia bisa menjadi orang baik dan berperan seperti layaknya manusia.
 
“Fruits Basket ” juga mengungkapkan perihal kebutuhan manusia untuk dibutuhkan oleh manusia yang lain. Apa yang membuat manusia kesepian sementara ia berada dalam dunia yang sibuk dan ramai? Tidak ada yang membutuhkannya. Ia tidak dicari, tidak dinanti kehadirannya, tidak dipedulikan sedang apa atau mau apa. Hal-hal yang dibutuhkan tentu adalah hal-hal yang berharga. Manusia yang dibutuhkan oleh manusia yang lain, tentu dia adalah manusia yang berharga atau dihargai. Betapa menderitanya jika hidup tidak dihargai orang lain. Tidak ada yang tersenyum ketika kita datang, tidak ada yang menangis sedih ketika kita pergi. Maukah kita menjadi orang yang dengan ikhlas menyambut keberadaan orang lain, memberikan senyum, atau mengucapkan salam hanya untuk paling sedikit membuat orang lain merasa betah berada di dunia?
 
Manusia menjadi berharga bukan karena ia adalah manusia super. No need to be super human. No need to force yourself to be perfect. Just be your own self and do anything properly. Semua orang bisa menjadi orang baik tanpa harus menjadi manusia sempurna yang baik hati, berkepribadian ideal, cerdas (emosional, sosial, spiritual, intelektual),  kaya,  berpengaruh, terkenal, hidup bahagia tanpa penderitaan dan pengalaman traumatis di masa lalu… semua orang bisa menjadi orang baik yaitu ketika ia bermanfaat bagi orang lain, sekecil apapun tindakan yang ia lakukan sekalipun itu hanya duduk di samping orang yang sedih, sekadar agar orang yang sedih itu tahu kalau kita ada bersama mereka padahal tidak ada yang mampu kita ucapakan. Atau hanya sekadar mengabarkan keberadaan kita dan apa yang sedang kita lakukan. Begitulah kepedulian yang sangat sederhana sekalipun mungkin tidak dimaknai dengan tepat… Sejelek apapun manusia, sekecil apapun perannya bagi manusia lain, ia tetap bisa menjadi sesuatu yang berharga sekalipun hanya satu orang yang menghargainya di dunia yang berisi bermilyar-milyar orang ini.
 
Semua orang bisa berubah menjadi lebih baik. Jika ia gigih.
 
***
Oh, tidak… begitu dalam kesan yang kudapat… aku berharap semoga pembaca bisa memahaminya.
 
Ada begitu banyak kalimat indah yang kudapat dari “Fruits Basket”. Namun, hanya sedikit yang kuingat untuk dicatat. 
 
“Leaving and being left, they are both hard.” Chapter 135
 
“If you become perplexed or make errors, in the end have the kind of life that you can have pride in living, the kind where you can say ‘I persevered’. Repeating the delightful things and sad things, and in that way, keep getting older.” Chapter 135
 
Together holding hands, delightful things and bad things will be accepted as the years pass by.” Chapter 136

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s