Ideal, Mau Ke Mana?

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/191/Poetry-of-The-Week-Ideal-Mau-Ke-Mana

Mar 5, ’11 3:03 PM

“Ideals are like stars; you will not succeed in touching them with your hands. But like the seafaring man on the desert of waters, you choose them as your guides, 
and following them will reach your destiny.”
-Carl Schruz-
 
Seperti bintang di langit, ideal adalah sesuatu yang indah. Pernah melihat bentuknya, wujudnya? Tidak. Mari bertanya-tanya mengapa. Mengapa? Karena ideal tidak pernah terwujud. Yang ideal itu absurd. Standar kesempurnaan yang ada di kepala ini adalah cikal bakal banyak perang baik yang diam-diam maupun terang-terangan. Dan apakah ideal selalu benar dan lurus? Tidak. Bahkan kita tidak tahu ideal yang mana yang sempurna, berharga, dan layak diikuti sebagai penunjuk jalan di tengah kegelapan.
Apakah kau tahu, apa yang ditanamkan kepala kita ketika kita pertama kali menjadi mahasiswa? Ini santer dibicarakan, betapa menjadi mahasiswa adalah sesuatu yang luar biasa. Mengapa? Karena mahasiswa adalah makhluk idealis. Konsep hidup dan dunia yang sempurna bercokol di kepalanya dan ia ingin mewujudkan itu dalam kenyataan. Konsep yang ideal itulah yang membuatnya berani berpikir, berkata-kata dan bertindak sehingga suatu saat ia bisa disebut pahlawan bagi masyarakatnya. Silakan diakui atau tidak keberadaan perasaan herois itu.
Namun, mengapa kita, mahasiswa, pemuda, yang diharuskan menjadi makhluk idealis ini? Karena kita tulang punggung negara, harapan bangsa, pelindung masa depan, penerus generasi tua? Agent of change, social control, iron stock? Karena itu semua kita punya alasan untuk berontak di hadapan penguasa, tidak puas pada situasi, dan ingin melakukan perubahan. Kau tahu, mahasiswa adalah makhluk yang juga mudah dan sering marah. Tahukah, ideal itu mulai memakan korban? Kita menerobos tembok-tembok kuat, lalu jatuh tersemprot water canon. Kita berteriak menuntut, lalu terpental batu.
Apa yang dijanjikan para orang tua itu? Kita diam disayang, kita ribut ditembak, kalau tidak dengan peluru, tentu dengan desas-desus. Dicari-cari provokator, dicari-cari si penyulut api… Mengapa kita yang mengalami kesadaran ketika segalanya berlangsung salah, ada sesuatu yang benar dan membuat kita bergeliat? Si provokator adalah keadaan. Maka, tangkaplah keadaan itu, lalu tangkaplah diri kalian sendiri. Kau tahu, mulut-mulut kita disumpal dengan iming-iming masa depan, kemudahan, dan kemakmuran. “Belajarlah tinggi-tinggi, lalu membangun bangsa dan negara. Kau ini pahlawan, bukan?
Namun, negara ini tidak punya masa depan! Aku tidak tahu dari mana angin perubahan akan benar-benar berasal. Ideal  yang mana yang akan benar-benar menyeruak di antara kita. Masa depanku gelap. Gedung-gedung berjatuhan dan mereka hari ini masih mempertahankan istana yang tidak ada lagi. Tahu kah kau? Kita sebenarnya cuma diminta bertahan hidup lalu mati, tidak untuk memperbaiki dinamika yang sudah terlanjut berputar. “Belajarlah tinggi-tinggi, lalu cari kerja. Pertahankan hidupmu, jangan mati cepat karena itu tanda-tanda negara bobrok.
Saya punya idealisme… saya ingin…
Saat ini bukan saatnya ingin. Inginmu bukan inginku, bukan inginnya, bukan ingin mereka semua. Hadapi realita… Ada ingin-ingin yang lebih besar dan sayangnya, itu bukan inginmu.
Dan kita dikembalikan untuk hidup dalam dunia binatang. Kita dicocok peraturan dan akur dengan penguasa lalim. Kita diam karena tidak ada lagi yang mendengar. Idealisme kita berubah… yang ideal itu jika hidup makmur, keluarga, anak, istri, suami, rukun, bisa sekolah, bisa bekerja, punya rumah dan kendaraan… Hidup dalam kepastian dan dapur yang terus berasap. Biar yang susah, susah… kita membantu sebisa saja, yang wajib-wajib saja.
Dan kawan, maafkan, jika suatu saat aku menyikutmu, memerangimu. Bertahan hidup sajalah. Bertahan hidup… Jangan mati besok. Mari kita tunggu hari tua kita. Jangan menilai apa-apa, karena kita tak akan tahan mendengar. Biar saja sejarah yang berkata-kata: Generasi herois berubah menjadi manusia biasa. Ya, kita memang manusia. Apa-apa yang penting berubah dari masa ke masa.
Ya Tuhan, aku takut punya ideal semacam itu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s