Kakiku

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/85/Poetry-of-The-Week-Kakiku

Aug 8, ’10 9:33 PM

Pernah kupandang kakiku,

berjari lengkap dan sehat selalu.
Kukuh karena otot tak kaku,
dan nadi yang berdenyut dan biru.
 
Tidak mengaduh pilu,
membawaku ke mana aku mau.
Tidak kuminta kaki seribu,
cukup sepasang dan aku melaju.
 
Sekata dan setuju,
untuk amal-amal baru.
Ke mana kita melangkah dulu,
atau kemudian lalu… ?
 
Atau di saat mendatang yang tidak tentu…
Biar sakit karena sembilu,
atau bangkit untuk maju…
Langkah ini cuma satu, makin dekat yang kita tuju.
 
***
Akan ada saat di mana aku tua nanti, yang ada tinggal cerita tentang ke mana kedua kakiku membawaku pergi untuk menjemput mimpi. Kenapa aku menulis tentang kaki? Sekarang aku tengah bersyukur punya sepasang kaki yang sehat dan sangat dapat digunakan untuk berjalan, berlari, melompat, dan sebagainya.
 
Kenapa aku menulis tentang kaki? Sungguh aku ingin menghargainya, tidak hanya sebagai bagian dari tubuhku, tetapi juga hidup dan cita-citaku. Kakiku ini syukur jarang protes, ia tidak marah ketika pada suatu hari aku memutuskan menggunakannya daripada naik kendaraan. Aku tidak ke salon untuk merawatnya layaknya mestika, cukup dengan membasuhnya dalam wudhu lima kali sehari, cuci kaki sebelum tidur, dan memotong kukunya seminggu sekali. Ha… kakiku, terima kasih ^^. Terima kasih, Allah mengizinkanmu untuk senantiasa baik-baik saja.
 
Kenapa aku menulis tentang kaki? Karena kaki adalah alat transportasi utamaku selama ini. Aku tidak sedang menyalahkan bahwa sampai saat ini aku tidak berani mengendarai motor kecuali dibonceng. Aku memang tidak bisa naik motor. Ke kampus, ke mana saja jika tidak ada angkutan umum, bahkan sekarang ketika KKN… Sebagian orang tampak prihatin atau mungkin sedikit menjadikannya lelucon. Ha… tentu saja tidak banyak yang tahu bahwa aku sedang membangun visi besar: No air pollution in the world! Freedom to move! Be healthy, be on foot! Late life investation
 
Tidakkah terpikirkan bahwa orang semakin tidak menghargai kakinya dengan tidak memanfaatkannya secara baik dan benar? Pikirkan saja ketika kakimu malah membuatmu susah. Ya, begitulah… aku, kamu, dan kedua kaki kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s