Kenangan untuk Sang Gunung

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/151/Poetry-of-The-Week-Kenangan-untuk-Sang-Gunung

Nov 6, ’10 2:57 AM

Puncaknya yang sering berasap, kedudukannya yang tampak kukuh, keberadaannya yang membuat panorama alam menjadi indah. Kesenyapan menyelimuti lereng-lerengnya, jalanan yang berkelok-kelok menghapus pandangan desa-desa yang tertinggal jauh di belakang, kebun-kebun, pertanian, kabut, udara yang sejuk… O… gunung yang indah.”
 
Di sini, Tuhan banyak mengetuk hati lewat kemegahan penciptaan-Nya. Harga yang perlu dibayar untuk sebuah kesejahteraan? Orang-orang di desa-desa ini, siapa yang berpikir susah? Cukuplah bangun pagi, lalu turun ke kebun, menggembala ternak, menunggu hasil, mereguk segelas teh panas, dan kembali tidur… mungkin. 
 
Lullaby… tempat ini sungguh menggoda untuk menjadikan orang-orang tidak berpikiran susah. Siapa yang berpikir bahwa gunung ini dapat bertingkah lebih dari sekadar bersin dan batuk? Aku juga tidak. 
 
Siapa yang berpikir jauh bahwa di dalam perutnya ada api? Siapa yang berpikir lebih jauh bahwa sampai di ujung negeri ini pun kita semua sedang bermain-main di atas lautan batu yang berpijar. Siapa yang berpikir sangat jauh bahwa tempat di mana kuku-kuku kita tertancam dengan kuat adalah bagian dari dunia yang sementara?
 
Aku hari ini adalah bagian dari kita semua yang sama-sama menyaksikan dan mengalami peristiwa bersejarah. Apa yang kita lihat besok adalah kenyataan yang lain bahwa kesenyapan ini sudah terlalu mengerikan, selimut putih yang terlihat tidak hanya dimonopoli kabut tebal lagi, orang-orang yang tak tenteram sudah pergi jauh-jauh, dan semakin banyak orang yang berpikiran susah sehingga bingung memutuskan pilihan mati atau hidup untuk diri dan harta benda yang ditinggalkan. Semakin banyak pula orang yang bingung untuk memilih pergi atau tinggal di bawah teror ini.
 
“O… gunung yang mengerikan.” Kini kita semua mengenal lain sisi lain wajahmu yang dulu senantiasa tenang. Bersyukurlah… Engkau mengaum layaknya cambuk, tetapi semua ini terasa begitu mahal untuk satu saja pelajaran hidup tentang dunia yang sementara. Habislah, tak hanya nyawa, tetapi juga keindahanmu sehingga yang tersisa adalah kegersangan.
 
Bagaimana harus kupikirkan? Siapa yang akan berkata bahwa ini hukuman, ini bencana, ini peringatan, ini pelajaran, ini dinamika, ini kesementaraan, ini sebuah drama, ini kematian, atau ini hidup baru? Dengan segala dalil dan bukti, serta ketakutan yang sudah ada di mana-mana: ini pelajaran tentang kiamat kecil.
 
Masih ada canda tawa di antara wajah-wajah ketakutan. Masih ada tempat berlindung dan bernaung. Masih ada orang yang tidak hanya memikirkan keselamatan sendiri. Masih ada ibu yang memeluk erat anak-anaknya seraya berlari menjauhi bencana. Masih ada penyembuhan. Masih ada Tuhan dan nama-Nya yang disebut-sebut. 
 
Kita berjuang dengan cara kita sendiri-sendiri. Aku di tempat yang jauh hanya dapat mengenang kenyataan yang sudah lewat dan menjalani hidupku di sini sebagai orang-orang yang berdoa. Dalam hati aku berjuang untuk terus berpikiran baik bahwa sekalipun ini bencana, ia adalah ciptaan Tuhan yang juga sementara. Kengerian gunung ini sementara. Kesenyapannya adalah sementara. Kekosongannya adalah sementara. Kesedihan juga sementara. Janganlah berpikiran fatalistik untuk yang sekali dalam kehidupan ini. 
Akan pulang, tentu akan kembali pulang, tentu untuk kembali hidup dan sekali lagi berkata, “O… Gunung yang indah.” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s